Jangan Pergi Lagi

Rangkay0 Hayati
Chapter #16

Daun yang Jatuh


Daun menguning yang jatuh, haruskah membuat pohon berduka? Sebab sudah takdirnya harus digantikan oleh daun yang baru


Salim

        Aku kini berada dalam kereta untuk menuju bumi Pasundan membawa banyak kenangan masa kecil ke permukaan. Angin yang bertiup lembut melalui jendela kereta mengusap wajahku, membawa aroma tanah yang lembap dan pepohonan hijau yang menghampar sejauh mata memandang. Aku menutup matanya sejenak, merasakan nostalgia yang datang menghampiri dengan perlahan. Betapa dulu, setiap kali liburan tiba, aku dan keluarga sering bepergian, menjelajahi desa-desa kecil, menghirup udara pegunungan yang sejuk, dan bermain di antara sawah-sawah yang luas. Hatiku rindu akan saat-saat itu—masa di mana segala sesuatunya terasa begitu sederhana dan penuh kebahagiaan. Kereta juga mengingatkanku untuk selalu pulang, sejauh apapun aku berjalan.

       Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, kereta akhirnya tiba di tujuan. Aku turun dan berjalan menuju tempat yang sejak awal sudah ada dalam benakku, Wot Batu. Tempat ini selalu memiliki daya tarik tersendiri bagiku. Bukan hanya karena keindahan arsitekturnya, tetapi karena filosofi yang terkandung di dalamnya. Wot Batu adalah sebuah ruang meditasi terbuka, sebuah "jembatan spiritual" yang menghubungkan manusia dengan alam, menciptakan harmoni yang hilang di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota.

      Begitu masuk dan membayar tiket, Aku mulai merasakan atmosfer tenang yang menyelimuti tempat itu. Terdengar suara musik meditasi yang mengalun pelan, menyatu dengan suara angin yang menyelusup di antara pepohonan dan dedaunan. Di hadapanku, ukiran-ukiran batu besar berdiri dengan megah. Ada yang berbentuk kapal, pohon, kompas penunjuk arah, hingga tumpukan batu yang tersusun ke atas dengan presisi yang luar biasa. Beberapa batu langit tergantung berjejer di tembok, seolah melayang di udara. Sungguh sebuah karya seni yang mengagumkan.

     Hatiku terasa ringan dan terhibur hanya dengan memandangi ukiran batu yang berderet rapi di sekelilingku. Sebelum akhirnya memilih duduk di depan danau kecil dengan batu-batu besar yang berdiri di atas air. Suara air yang mengalir bagaikan musik lembut yang masuk ke telingaku, diiringi kicauan burung yang sesekali terdengar di kejauhan. Aku terdiam, melamun panjang, membiarkan pikiranku mengembara tanpa tujuan, seiring arus air yang bergerak pelan dan teratur.

     Tak ada banyak pengunjung hari ini, memberikanku keleluasaan untuk menikmati saat-saat sendiri. Aku merasa nyaman dalam keheningan ini, jauh dari kesibukan dan tekanan hidup. "Me time," sejenak untuk melakukan refleksi diri sambil menutup mata dan menarik napas dalam-dalam, mencoba menghadirkan kesadaran sepenuhnya pada saat ini. Lalu mulai menyadari apa yang benar-benar aku rasakan—perasaan kehilangan, kesedihan, namun juga harapan yang pelan-pelan mulai kembali.

     Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa sadar, sore telah tiba, dan matahari mulai meredup di langit barat. Aku memandang langit yang perlahan berubah warna menjadi oranye keemasan, menyaksikan mentari tenggelam di atas langit Dago. Pemandangan di depanku begitu memesona, bak kanvas lukisan yang dicat dengan tangan-tangan lembut alam semesta. Rasanya seperti menyatu dengan alam, seolah segala kekhawatiran yang memenuhi pikiran lenyap seiring tenggelamnya matahari.

Lihat selengkapnya