Salim
Setelah berbulan-bulan kutinggalkan kota ini, rasa rinduku untuk selalu kembali tak bisa kubendung. Siapa pun yang pernah tinggal dan menetap disini, pasti akan merasakan rindu untuk selalu pulang. Mengulang kenangan sambil menyusuri sudut kota ini seperti yang kulakukan. Menyusuri ruas jalan yang ditumbuhi pohon asem dan gayam sepanjang kaki berjalan, di antara gedung bersejarah dan toko-toko yang telah berdiri sejak lama dan menyimpan banyak cerita sejarah di balik temboknya. Tak heran semua aktivitas ada di sepanjang jalan yang dikenal dengan lintasan paraning dumadi ini. Jalan yang bermakna perjalanan manusia dari lahir hingga menghadap Sang Pencipta. Tak hanya pejalan kaki, ada juga yang berbelanja, berolahraga, melakukan foto pre weding dan pakaian adat, atau hanya sekedar duduk-duduk di kursi dan toko roti yang sudah melegenda dan cafe-cafe yang baru berdiri.
Kuawali langkahku dari sebuah tugu sebagai simbol awal kehidupan manusia. Sebelum akhirnya memasuki jalan utama, dimana gedung kepatihan berdiri yang digambarkan sebagai godaan dalam hal jabatan dan kedudukan. Lalu terus berjalan sampai di depan sebuah pasar tradisional yang bermakna godaan harta benda. Terakhir perjalananku sampai di alun-alun, simbol suatu tempat untuk membersihkan diri. Yah, aku barusan melewati empat jalan yang digambarkan sebagai bekal ke alam kematian. Sebagai manusia, apakah kita mampu menahan godaan akan jabatan, harta, dan terus melakukan taubat demi membersihkan diri yang penuh dosa? Sebab kematian itu pasti datang pada siapa pun, tak peduli ia kaya atau miskin. Berkedudukan tinggi atau rendah dan berdarah biru atau bukan.
Larasati
Suatu hari yang tak ingin kuingat selama hidupku, karena inilah awal mula luka di hatiku tergores begitu tajam karena ulah suamiku. Belum juga satu tahun kepergian papa dan aku baru saja menikmati kebahagiaan bersama Jian, tiba-tiba suatu malam aku dikejutkan oleh sebuah sms misterius yang masuk ke hp Jian. Mulanya aku tidak ingin lancang membuka-buka dan membacanya. Tapi kulihat Jian tertidur sangat pulas karena mungkin kelelahan, hingga tak mendengar sms yang masuk ke handphonenya. Aku yang penasaran, akhirnya nekat membuka hp suamiku. Deg! Begitu kubuka dan kubaca, sms yang diawali ucapan mesra dari seseorang. Rasanya aku tak sanggup membacanya. Yang jelas isinya mengatakan bahwa seorang wanita berinisial Si A akan pulang besok pagi dari Amerika. Aku curiga untuk apa dia sms tentang kepulangannya pada suamiku? Apa hubungannya dengan Jian? Apakah suamiku mencoba berselingkuh dibelakang ku. Oh Tian...Semoga ini semua tidaklah benar, mengingat betapa besar pengorbanan diriku selama ini. Bukankah aku tak hanya mendampinginya disaat senang saja? Tapi disaat susah sekalipun aku jumpalitan menghadapinya. Tanpa terasa, air mata mengalir dari kedua mataku.
Kutatap Jian yang sedang tertidur pulas di sampingku. Apakah Jian setega itu dengan mencoba mengkhianatiku? Aku tak boleh gegabah dalam mengambil langkah dalam hal ini. Kucoba tahan emosiku untuk segera marah-marah dan membangunkan Jian untuk mengaku. Tapi aku lebih memilih menyelidiki dulu kebenarannya. Keesokan harinya, wajahku tak lagi ceria melayani Jian sarapan pagi dan melepaskannya bekerja. Mataku yang sembab karena sehabis menangis tidak mengundang rasa penasarannya.
”Koko berangkat dulu ya, ”ucapnya terburu-buru. Aku yakin dia sudah tidak sabar ingin segera menemui wanita yang tadi malam mengirimkan sms. Sebenarnya bisa saja sms itu aku hapus, agar Jian tidak dapat membacanya. Tapi kupikir percuma saja, karena wanita itu pasti menelepon karena tahu sms nya tidak dibalas. Selain itu, aku ingin tahu kelanjutan dari sms tersebut. Benarkah firasatku tidak salah kalau wanita itu adalah selingkuhannya suamiku? Rasanya tak sanggup untuk memikirkannya lagi. Lebih baik segera kubuktikan saja kebenaran itu. Begitu Adrian berangkat, segera kupanggil taksi menuju bandara. Diam-diam aku pun menguntit kepergian Jian. Setelah dia pamit dengan alasan mau pergi keluar kota karena urusan bisnis. Dengan hati berdegup kencang kuikuti terus mobilnya dengan sebuah taxi. Begitu sampai di bandara, Jian pun terburu-buru turun. Kuputuskan untuk mengikutinya sampai ke dalam. Dan.apa yang kulihat benar-benar membuat duniaku serasa ingin runtuh!.
Tadinya aku ingin menghibur diri bahwa prasangkaku salah. Siapa tahu mungkin saja itu rekan bisnisnya. Tapi begitu kulihat dari jarak beberapa meter, Jian tanpa malu-malu memeluk wanita berambut panjang sepinggang di depanku. Lalu mereka bergandengan mesra keluar dari bandara. Sungguh menyakitkan rasanya menerima kenyataan karena dugaanku meleset. Tak mungkin seorang teman diperlakukan begitu mesranya. Tanpa mampu menahan lagi segera kuputuskan pulang sambil menangis. Aku memang tak mau melabrak mereka di depan orang banyak demi harga diriku dan suamiku. Sepanjang perjalanan, air mataku tak berhenti mengalir. Inilah luka pertamaku selama pernikahan yang begitu menyakitkan. Aku hanya akan menanyakan kebenarannya setelah Jian pulang ke rumah
"Koko lelah sekali, tolong ambilkan teh manis hangat ya, Sayang."
"Baik Ko." Aku pun segera melipir ke dapur dengan hati yang masih bergemuruh. Inilah saatnya, pikirku. Berusaha kutenangkan hatiku yang berdegub terus sedari tadi.
"Terima kasih. " Mas Adrian meneguk teh manis buatanku yang tak lagi kubuat sepenuh cinta seperti biasanya.
"Kok rasanya agak hambar ya? Sepertinya kurang gula," ucapnya sambil menatapku yang masih cemberut.
"Masak sih? ucapku sedikit ketus.
"Iya sehambar wajahmu hari ini," balas Jian mencoba mengajakku bercanda.