Mereka yang sudah ditakdirkan akan bertemu, sejauh apapun mereka terpisah. Mereka yang tak ditakdirkan takkan bertemu, walaupun bertemu muka
- Kumpulan kisah klasik Dinasti Ming-
Salim turut senang karena akhirnya Ibnu akan bertemu kembali dengan wanita yang ia rindukan selama ini. Sahabat kecilnya hingga mereka tumbuh bersama-sama dan melewati masa remaja yang indah. Begitu sampai di depan rumah Pak Lian, wajah Ibnu terlihat gugup dan salah tingkah.
“Ibnu, hei! Tarik nafas jangan nervous gitu lah bro! “ canda Salin mencoba mencairkan ketegangan yang ada.
Ibnu balas menyengir sambil terus melap keringatnya, padahal udara lagi sejuk dan tidak panas karena masih pagi. Pintu pun dibuka setelah kami ketuk dan keluarlah Pak Lian.
“Ayo masuk Salim, ini Ibnu ya? “tanya Pak Lian. Ia sudah mendengar kisah Ibnu dan Larasati dari Salim waktu bertemu di gang China Town kota rindu.
“Iya Pak, saya Ibnu sahabatnya Larasati dan Salim. Kami dulu bertiga dekat sekali layaknya keluarga. “
“Wah, pasti sudah saling rindu ya lama tak bertemu temannya. Larasati baru selesai mandi dan sekarang lagi di kamar berhias ditemani istri saya, sebentar lagi juga selesai. Mari kita duduk dulu, kalian mau minum apa” tanya Pak Lian berbasa-basi.
“Apa saja boleh Pak, “jawab Salim
“Sebentar saya tinggal dulu ke dapur ya, “ jawab Pak Lian tersenyum.
Salim melihat Ibnu duduk gelisah di kursi ruang tamu yang kecil namun rapi tersebut. Pastilah hatinya berdegub kencang karena saking rindunya ingin bertemu Larasati. Salim hanya tertawa kecil melihat Ibnu sudah lebih tiga kali ijin bolak balik ke toilet untuk pipis. Hampir 10 menit menunggu, Pak Lian dan istrinya pun datang bersama Larasati yang sudah rapi dan selesai berhias. Ibnu menatap pangling wanita yang sudah ia kenal bertahun-tahun di depannya. Dandanannya menor namun tatapannya dingin dan tidak fokus.
Tiba-tiba ia merasa agak asing dengan sosok Larasati yang ia kenal. Tatapan mata Larasati tak seceria dan hidup seperti dulu. Keramahannya juga tak muncul selain senyum tipisnya sambil memandang ke arahnya datar. Akhirnya Pak Lian pun menceritakan keadaan Larasati yang sebenarnya. Tanpa bisa dicegah air mata menggenang di pelupuk mata Ibnu dengan hati yang sangat hancur. Dulu ia merasa sangat terluka ketika ditinggal pergi Larasati hingga ia patah hati yang berujung depresi. Tapi kini hatinya lebih hancur lagi melihat kondisi Larasati yang sudah berubah 180 derajat. Kemana perginya wanita yang ramah dan penuh kehangatan itu? Dulu bola matanya selalu bersinar indah dengan pembawaan riangnya yang selalu mampu menghidupkan suasana. Terus terang ia merasa shock melihat perubahan Larasati yang begitu drastis. Ternyata gangguan jiwa yang diderita Larasati, mampu membuat banyak perubahan pada dirinya.