Jangan sedih dan rapuh, jika kehidupan itu mudah maka kelahiran tidak akan diawali dengan tangisan
- Ali Syari'ati -
Salim
Setiap travelling ke berbagai kota dan negeri, aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi toko buku. Sebab selain menjelajahi berbagai tempat, menyambangi toko buku adalah kesenanganku, sama halnya dengan menulis. Buku tak hanya membuat ide-ide menulisku semakin terpancing, tapi juga sebagai amunisi. Hanya saja belakangan ini aku lagi tertarik membaca buku yang membahas isu kesehatan mental dan tema kehilangan. Buku melalui duka dengan mencuci piring karya seorang psikiater adalah salah satu buku yang kubeli dan langsung kubaca, tidak kubiarkan dulu di rak sampai akhirnya punya mood dan waktu senggang untuk membacanya. Salah satu kalimat yang kusuka dari buku ini adalah,
“Tidak ada orang yang senang mencuci piring, sebagaimana tidak ada orang yang senang dengan kehilangan.
Lalu hari ini aku melihat sebuah buku terbaru tema kehilangan karya Irhayati Harun yang berjudul daun yang jatuh, haruskah membuat pohon bersedih? Judulnya sungguh menarik hatiku hingga langsung membawanya ke kasir. Setelah lebih dulu membaca tulisan ringkas di belakang bukunya sebagai gambaran isinya. Begitu sampai di penginapan aku langsung merobek plastik bukunya dan hanyut membaca isinya. Aku kembali menemukan kalimat menarik yang berbunyi,
“Setiap kehilangan akan dikembalikan Tuhan lewat kelahiran. Sebagaimana sebatang pohon kehilangan daunnya yang jatuh, maka akan tergantikan dengan daun yang baru”
Meski kita tahu, dari buku-buku tema kehilangan yang kita baca tak seratus persen mengajarkan kita pelajaran sesungguhnya sebelum merasakan sendiri kehilangan itu. Sebagaimana ungkapan Fahrudin Faiz, seorang filsuf muslim yang dikenal dengan ngaji filsafatnya mengatakan,
“Aku membaca ratusan buku, tetapi pelajaran paling dalam justru datang dari kehilangan, kesunyian, dan air mata di sepertiga malam”