Jangan sedih dan rapuh, jika kehidupan itu mudah
maka kelahiran tidak akan diawali dengan tangisan
- Ali Syari ‘ati -
Ibnu
Hari ini adalah hari yang penuh kejutan bagiku dan Larasati. Seorang bayi mungil lahir dari rahimnya di rumah sakit kota hujan. Awan yang tadinya selalu berawan melankolis, sore ini mendadak terlihat cerah!
“Putranya tampan sekali, berkulit putih bersih dan bola matanya indah cemerlang persis ibunya, ” ucap seorang perawat yang membantu proses kelahiran. Larasati tersenyum bahagia sambil terus memandangi wajah bayinya yang berada di pelukannya. Katanya seorang ibu akan langsung jatuh cinta begitu pertama kali melihat bayinya lahir. Aku rasa Larasati juga merasakan hal itu pada putranya. Sebab kulihat matanya yang mendung kini menjadi berbinar-binar kala memandang anak yang ada dalam dekapannya, setelah selesai minum asi darinya. Tanpa sadar aku menangis terharu, walau diawal amat panik mendampingi proses melahirkan Larasati. Maklumlah, aku baru kali ini menyaksikan wanita melahirkan, dan rasanya seperti menanti kelahiran anak sendiri. Padahal Larasati bukanlah istrinya dan ia berharap untuk itu. Begitu pun pak Lian yang sangat bahagia menimang cucu pertamanya. Aku langsung menghubungi Salim dan psikiater Hargo, demi mengabarkan berita bahagia ini.
Psikiater Hargo sendiri datang berkunjung ke rumah pak Lian setelah Larasati keluar dari rumah sakit, mengingat padatnya kesibukan beliau.
“Usahakan untuk tetap memantau obatnya dan perkuat dukungan, sebab kadar hormon estrogen dan progesteron ibu setelah melahirkan menurun drastis. Penurunan hormon inilah yang memicu terjadinya perubahan suasana hati dan kondisi emosional yang tidak stabil, Ditambah lagi kondisi kejiwaan Larasati yang belum sepenuhnya pulih. Pengawasan dan support dari orang terdekat akan mencegah terjadinya depresi paska melahirkan yang bila sudah berat akan memicu terjadinya trauma paska melahirkan, selain gejala baby blues yang biasa terjadi selama dua minggu sehabis, melahirkan, “jelas psikiater Hargo pada kami. Aku, pak Lian, bu Sita dan bu Rukmini, bibi Larasati yang langsung datang dari Solo, setelah mendengar Larasati bersalin.
Aku setuju dengan nasehat dokter Hargo, karena kita juga harus peduli dan menunjukkan perhatian penuh pada si ibu, jadi jangan hanya fokus pada bayinya saja. Sebab pernah ada kasus dari salah satu anggota kajian kehidupan yang ku pimpin pernah curhat, bahwa istrinya hampir saja membunuh anak mereka, beberapa hari setelah melahirkan. Ceritanya begitu dia berangkat bekerja, si istri membawa bayinya ke sebuah danau dengan berniat untuk menenggelamkan diri bersama bayinya. Untung ada tetangga yang melihat si istri pergi ke danau sambil menggendong bayinya. Sehingga aksi bunuh diri istrinya bersama bayinya yang baru lahir bisa segera dicegah. Tak heran, kami bergantian ikut bangun malam dan begadang demi kebutuhan tidur Larasati terpenuhi tanpa merasa terbebani. Rasa capek kami langsung hilang begitu memandang wajah polos anak Larasati yang sedang tertidur pulas. Hari pun berganti tanpa terasa Won Bin sudah berusia satu tahun. Larasati memang memberi nama anak lelakinya sesuai nama aktor Korea idolanya. Sampai akhirnya aku mulai berani bertanya,
“Apa tidak sebaiknya Jian tahu soal Won Bin Sati? Bagaimanapun Jian adalah ayah kandungnya. “