Salim
Sejauh apapun kita berjalan, pasti kita merindukan pulang ke tempat bernama rumah yang membuat nyaman
Aku sedang rebahan di penginapan berbentuk kapsul di Malioboro, karena harganya yang murah namun tetap nyaman dengan AC dan kamar mandi bersama, sambil menikmati kumpulan cerpen ‘sepasang sepatu tua' karangan Sapardi Joko Damono. Salah satu cerpennya yang berjudul rumah, membuatku tergelitik untuk menuntaskannya. Sebab tokoh utamanya rumah, sebuah benda mati sebagai pencerita. Sang rumah mengatakan bahwa dia jengkel karena orang boleh memilih rumah, tetapi kenapa rumah tak berhak memilih penghuninya? Selain itu rumah tak boleh ikut penghuninya, jika pergi meninggalkannya. Tetapi penghuni berhak seenaknya saja pergi kalau sudah capek dan perlu istirahat, baru kembali pulang ke rumah. Lucu juga ya, aku pun jadi tersenyum-senyum sendiri membacanya. Malah yang lebih bikin rumah sakit hati dari buku ini adalah ketika setelah dibangun malah dikontrakkan, bukan ditinggali. Rumah jelas tidak suka kalau bukan pemilik rumahnya sendiri yang menempati, apalagi bila rumah sudah suka dengan pemiliknya. Rumah takut dengan keluarga macam apa yang akan tinggal. Apakah yang menempati orangnya kasar dan suka bikin keributan sehingga rumah serasa neraka? Atau yang menempati seorang kriminal hingga rumah menjadi tempat kejahatan. Jelas rumah tak lagi dirindukan karena sudah tidak nyaman sebagai tempat tinggal dan pulang. Setiap kita pasti merindukan rumah, tapi pernahkah kita merasa dirindukan rumah? Bila pulang hanya membuat yang ada di rumah tidak betah dan tidak nyaman dengan kehadiran kita.
Selesai membaca, aku pun turun dan keluar penginapan untuk menyusuri jalan Malioboro demi mencari sarapan yang sudah sedikit kesiangan. Slow living, adalah motto hidupku dan warga kota rindu, karena disini kehidupan berjalan santai tidak seperti di Jakarta yang fast living alias sat set dan serba cepat. Tak heran angka stres di kota ini lebih rendah dan lebih nyaman untuk ditinggali. Makanya orang luar kota ini banyak yang memutuskan untuk menghabiskan hari tua bersama pasangannya setelah pensiun. Tujuanku adalah ke pasar Beringharjo, makan soto panas pake nasi ditemani aneka sate dan gorengan. Murah meriah sekitar 20 ribu an tapi enak dan mengenyangkan. Setelah perut terisi, aku pun memilih singgah sebentar ke toko batik keluargaku yang kini aku serahkan pada pakde untuk menjaga dan mengelolanya selama aku berkelana. Pakde juga yang menempati rumah kami setelah ibu tiada. Sementara aku sendiri lebih tenang tidur di penginapan di sekitar Malioboro, sekalian mencari inspirasi.
"Salim, sampai kapan berkelananya, toh nduk? Pakde dan Budemu kangen kita ngumpul lagi seperti dulu. Sudah saatnya kamu memikirkan masa depanmu dengan mencari pendamping hidup, biar ada tempat yang bikin kamu rindu pulang. "
"Aku lagi senang mengembara seperti yang dulu dilakukan Ki Ageng Suryomentaran, pakde. Soal jodoh, nantilah pakde, kalau sudah waktunya pasti Salim beritahu dan minta pakde buat melamar, " jawabku terkekeh. Mencoba mencairkan suasana, biar pakde tidak terlalu serius menanggapi hidupku.
"Bisa aja kamu jawabnya, nduk. hehehehe."
Ki Ageng Suryomentaran adalah Anak Sultan Hamengkubuwono ke tujuh Jogja yang rela melepaskan gelar kepangeranannya, dan memilih mengembara mencari jati diri. Seorang filsuf Jawa yang melahirkan kawruh jiwa, ilmu jiwa alias ilmu bahagia yang terkenal dengan istilah Saiki, Neng Kene, Ngene Aku Gelem. Artinya siap menerima apapun masalah dan menghadapi kesulitan hidup yang sekarang dihadapi. Bukan menolak kesusahan dan hanya menginginkan kesenangan saja padahal susah dan senang tidak akan ada selamanya, tutur Plato nya Jawa tersebut. Ilmu kawruh jiwa ini pun kerap dibawakan Ibnu dalam kajian kehidupan di padepokannya.
Setelah puas melepas rindu pada pakde, aku putuskan masuk ke toko oleh-oleh hamzah batik, yang ada di seberang pasar. Toko yang sudah terkenal dan jadi pusat utama pengunjung dari berbagai kota bila ke Jogja. Patung ikon toko, Raminten yang berkebaya hijau menyambutku dengan tatapan matanya yang tegas. Seolah ingin berkata
“Monggo dilihat-lihat dulu”
Biar kuberitahu, Raminten adalah seorang pria yang lahir di Jogja dengan nama Hamzah HZ Beliau lahir dari seorang ibu yang pandai bergaul. Sedari kecil Hamzah HZ telah di suruh oleh ibunya ikut kursus menari dan senang bermain wayang hingga akhirnya bermain ketoprak. Nah, saat sering bermain ketoprak inilah Hamzah HZ merasa jenuh lalu meminta peran sebagai perempuan di sitkom Jogja TV yang berjudul 'Pengkolan' yang memerankan pembantu, dengan nama Raminten yang memiliki karakter perempuan Jawa tua. Sejak itulah orang-orang lebih mengenal baik sosoknya dengan nama Raminten. Dimana semua usaha yang Hamzah jalani awalnya adalah usaha toko kelontong. Lalu ada batik yang dari kecil hingga menjadi besar bernama Hamzah Batik yang dulunya kita kenal Mirota Batik di Malioboro. Sekarang tak hanya menjual batik, tapi ada aneka kerajinan dan barang antik juga, termasuk oleh-oleh.
Raminten juga menjadi salah satu pengusaha paling sukses dan dikagumi, setelah orang tahu alasannya dibalik mendirikan beragam kerajaan bisnis yang ternyata tak hanya mengejar materi, tapi demi menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Bahkan kini beliau juga orang di balik suksesnya pertunjukan Raminten Cabaret Show setiap minggu di hari Jumat dan Sabtu malam.