Salim
Aku tak sabar untuk segera menemui Ibnu di kantor polisi dan ingin bertanya langsung padanya. Sementara para pencari berita menunggu di luar untuk mewawancarai Ibnu soal kasusnya. Aku sendiri tak sanggup membaca komentar julid para netizen yang menjatuhkan dan menjelek-jelekkan sahabatku itu, setelah berita ini meledak di media sosial. Walau ada juga yang masih percaya dan mendukung Ibnu.
“Tampangnya aja yang sok suci, ternyata aslinya sadis! “
“Makanya berhati-hati memilih guru itu penting, belum tentu perbuatannya sesuai dengan ucapannya! “
“Semoga guru diberi ketabahan dalam menjalani proses hukum, sebab kami masih percaya guru hanyalah korban. “
“Memang godaan terbesar seorang pria itu adalah wanita cantik, walaupun dia seorang guru spiritual! “
“Berhentilah menghakimi! Bagaimanapun guru spiritual juga manusia biasa yang bisa berbuat salah, “ komentar Psikiater Hargo ikut membela Ibnu.
Bla... Bla..Bla.... Dan seterusnya.
Sementara pak Lian dan Bu Sita hanya bisa mengelus dada, tak menyangka akan begini akhir kisah sahabat dari anak yang mereka sayangi dan ikut andil dalam menjebloskan Ibnu.
“Why Ibnu? “ tanyaku begitu sudah duduk di depannya.
“Aku melakukan semua ini demi kebahagiaan Larasati, Salim. Aku harap kamu masih percaya padaku, “ terang Ibnu dengan wajah menunduk. Tampangnya begitu lesu dan matanya jatuh layu. Aku sungguh tak tega melihatnya dan tak ingin ikut menghakiminya. Ibnu pun menceritakan kronologi kejadiannya hanya padaku, sebab ia sengaja merahasiakannya pada orang lain, apalagi pada polisi dan pengacara yang siap membelanya.
“Aku rasa sudah cukup kamu berkorban sejauh ini untuk Larasati, Ibnu. Apalagi sampai menghancurkan hidupmu sendiri.”
“Salim, apa kau tega melihat Larasati hancur? Bagaimana dengan nasib anaknya? Bagiku berkorban demi kebahagiaan Larasati adalah hal terpenting dalam hidupku.”