Jangan Rapuh

bismikaaaaa
Chapter #5

Celah

“Papa berangkat kerja dulu ya sayang, baik-baik dirumah” Papa mengelus-elus kepala gue.

Gue mengangguk-angguk. Tersenyum hangat, berusaha meredam gemeletuk degup jantung.

Mama muncul dari lantai dua, bersama si kembar dan baby sitternya.

“Amanda.” Mama berdiri di depan gue.

“Baik-baik yaaa disini. Mbok Susi nanti dateng siang. Mama nggak lama, kok. Cuma mau nganter si kembar tes kesehatan rutin”

Gue mengangguk lagi. Cepetan pergi, njiiirrr lama amat basa-basinya.

“Berangkat sekolahnya sama Bang Johan dulu ya, nak. Papa udah telepon dia buat datang. Hati-hati di jalan. Semangat belajarnya.” gue manggut-manggut, menatap balik netra mama dan papa yang berbicara dengan tekanan, seolah-olah memastikan kalo gue gak dianter Axel—padahal tiap hari juga gue sama Axel. Persetan dengan segala mata-mata mama papa, gue juga bisa suap mereka semua.

Setelah segelintir acara cium tangan and say goodbye see you next time, gue menutup pintu rapat-rapat.

Gue langsung masuk ke kamar. Gue buka salah satu pintu lemari gue yang paling besar.

“Xel… lo gapapa?”

“Uhukkk.. hmm… apa-apa nih” Axel keluar dari lemari. Wajahnya kusut masai. Sama kayak baju-baju gue yang tergantung di dalam lemari itu.

Axel duduk di tepi ranjang.

“Lo gak jadi berangkat?” gue duduk di kusen jendela, berhadapan dengan Axel.

“Lo pen– pengen gue berangkat?” jawab Axel, sedikit kaku.

Gue membulatkan mulut. Wow!

“Udah bisa ya sekarang, orang nanya dijawab pertanyaan.”

“Sengaja, biar lo tau rasanya.” Axel menyeringai. Nada bicaranya mulai terdengar nyaman.

“Rasanya? hmm… enak, kok. Seru”

“Dasar orang aneh” Axel menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk gue.

“Gue orang jawa, bukan orang aneh”

“Orang jawa yang gabisa bahasa jawa dan gatau tempat wisata di jawa. Overall???” Axel menaikkan alisnya.

Gue bangkit, mengambil bantal, lalu melemparkannya ke wajah Axel yang menyebalkan.

Tapi, Axel malah menahan tangan gue. Gue memberontak. Alhasil kami bergumul. Bikin kasur yang barusan gue beresin jadi kacau balau lagi.

Gue memeluk Axel, berusaha untuk mengendalikannya. Tapi dia tiba-tiba terdiam. Axel menatap gue penuh arti, dari jarak wajah kami yang cuma sesenti.

Pelipis dan rahang Axel masih lebam. Mungkinkah dia kesakitan, jadi tiba-tiba terdiam?

Axel bangun. Gue ikut bangun.

“Lo mau cerita?” ujar gue, pelan.

Axel menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.

“Semalem gue udah mau cabut, Cin”

Gue menoleh, menatapnya penuh perhatian.

“Ada laporan yang melibatkan hubungan kita” suaranya merendah.

Hening sejenak.

“SERIOUSLY?” jawab gue tiba-tiba. Axel terperanjat.

“Akh… kalo gitu, berarti hubungan kita berkah, Xel. KITA GAK JADI TERANCAM PUTUS SILATURAHMI!” gue memeluk Axel.

“Bangsat emang” Axel menimpuk kepala gue pelan.

“Ini serius, Cin” suara Axel bergetar. Gue mendongakkan kepala, mata Axel berkaca-kaca.

“Xel??”

Lihat selengkapnya