Jangan Rapuh

bismikaaaaa
Chapter #7

Bandara Angkasa Raya

“Kita abis ini kemana Xel?” gue bertanya dengan nada minor.

“Mungkin ke filipina? disana gue punya kenalan.”

“Apa nggak ke Timor Leste aja Xel?” bisik gue. Sontak mata Axel membelalak.

“What? negeri kecil itu? nggak salah Cin?” Axel menghentikan langkahnya.

“Lha terus? lo mau ke Cina? Rusia? Amerika? hah, jangkar papa lo semua itu mah Xel” Gue melepas gandengan tangan gue di lengan Axel. Menangkupkan kedua tangan di depan dada.

“Kenapa lo pengen ke Timor Leste? itu kan deket, Cin. Gue kurang tau juga, takutnya jaringan papa malah udah beranak pinak disana”

“Siapa yang bilang pengen?” gue menatap matanya lurus.

“Permisi” seorang waitress hendak melewati jalan yang gue pake berdiri. Axel menarik gue darisana.

“Gu—”

“Kita bicara di kamar aja” Axel memeluk pinggang gue, membawa gue ke kamar kami cepat.

Sesampainya di kamar, gue langsung duduk di sofa, menyalakan TV, kembali menonton dracin.

“Lo mau ke Timor Leste?” Axel duduk di samping gue.

Gue diam.

“Setau gue, di Filipina papa gaada relasi sama sekali. Dan gue justru punya lumayan jaringan disana. Temen-temen sesama desainer dari event internasional zyerelle waktu itu.”

Gue ngerti hal itu. Tapi gue ngeliatnya dari sisi yang beda. Bukan soal masa depan dan relasi semata.

“Gue pikir, karena Timor Leste miskin dan agak terbuang, bokap nyokap kita gaakan tertarik buat ngelirik.” jelas gue, pelan.

Axel manggut-manggut. “Itu juga bisa dipahami. Ya, terserah sih. Tapi kalo ke Timor Leste, resiko startnya lumayan gede, Cin. Kita gak tau apapun tentang mereka, bahasanya, dan budayanya.”

Gue mengangkat bahu.

Matahari mulai meninggi. Di kamar kecil ini kami belum bisa memutuskan hendak kemana kami harus pergi. Padahal waktunya mepet sekali.

Bokap nyokap gaakan diem aja.

“Kenapa gak ke Arab aja sekalian haji” celetuk gue sembarang, sambil terus menghabiskan snack yang ada di depan gue. Drama Cina masih tayang, berganti-ganti judul. Tapi, gaada satupun yang lebih menarik daripada drama hidup gue saat ini.

Axel tidak menyahuti. Tapi saat kemudian gue menoleh, matanya tampak berbinar-binar menatap gue.

What the hell?

“IDE BAGUS!” Axel manggut-manggut.

WHAT?

“Nanti malam kita berangkat” gumamnya.

“Ke?”

“Arab”

“Xel? lo gak mimpi kan?” gue memutar badan, menatap Axel lekat-lekat. Berusaha untuk menemukan kilatan candaan, walau hanya satu koma satu hertz di matanya.

“Serius.” Axel mengangguk mantap.

“Uangnya?”

“Lo meragukan kredibilitas kekayaan gue?”

Lihat selengkapnya