Rintik Hujan Keraguan
Walau hari ini tidak mendapatkan uang samal sekali, hanya membawa harapan kosong dan juga bakul keranjang kosong. Terlebih lembaran rupiah yang dikit demi sedikit di tabungnya, kini sudah berpindah tangan pada Siti, seorang sahabat yang lebih membutuhkannya. Tapi tidak lantas membuat Sabrina menyesal telah membantu Siti, walau hatinya masih keras untuk mewujudkan niatnya berangkat haji.
Pertigaan Pasar Manyar jadi perpisahaan dirinya dengan Siti, sahabat dan teman seperjuangan pengangkut sayuran di Pasar Manyar, Surabaya.
Hanya senyuman dan lambaian tangan saling berbalas, tapi bukan berarti mereka berdua akan berpisah dan pastinya mereka berdua besok akan kembali bertemu dan berjuang untuk menjemput kembali lembaran rupiah.
"Salam sama Miswan, sumimu dan anak-anakmu ..." teriak dari kejauhan Sabrina berdiri di pinggiran jalan, hanya tersenyuman dan balasan lambaian tangan kanan Siti kembali berjalan mulai meninggalkan sahabatnya itu.
Sumringah tatapan wajah Sabrina melihat langkah kecil berjalan Siti, yang saat ini pastinya dirinya akan mengadu pada Miswan dan anak-anaknya, bila dirinya mendapatkan rejeki yang datang dari Sabrina.
"Semoga uang itu menjadi berkah dan jalan kesembuhan untuk Miswan dan anak-anakmu, Ti" sungguh hanya doa ketulusan terumbar dari hati Sabrina penuh ketulusan, tidak sedikitpun dirinya merasa menyesal telah memberikan uang pada Siti. Padahal uang tersebut sudah sejak lama dirinya kumpulkan untuk mewujudkan niatnya.
Kembali dirinya berjalan susuri tepian jalan sepi beratap dedaunan rindang pepohoan berdiri tegak di tepian pinggiran jalan. Hanya senyuman sumringah dan ketulusan selalu terpancar di raut wajah Sabrina.
Lalu lalang kendaraan mobil dan motor makin sedikit terlihat, karena hari makin menjelang siang. Lirikan mata tersenyum betapa setianya kedipan nakal sengatan matahari terkadang menjilat dan menyetuh wajahnya di sertai dua kakinya tanpa letih masih terus berjalan.
Sontak terhenti langkah jalan Sabrina, dua matanya melihat kagum terumbar pujian makin tidak terbendung Kubah Masjid berlafal Allah. Spontan dalam benaknya, dirinya serasa terbayang nyata berada di hadapan Ka'bah sedang melakukan Tawaf.
Putih bersinar dirinya mengenakan irham seluruhnya putih berkilau, saat lampu-lampu terang Masjidil Haram menyoroti seluruh. Sorotan kilauan cahaya lampu, bak cahaya surga begitu terang sekali menerangi sekitar Masjidil Haram, megah dan besarnya sulit di bayangkan bangunannya, bila keAgungan Allah selalu membuat magnit daya tarik bagi siapa yang bertandang.
Jutaan kedipan taburan bintang dan terangnya sinar rembulan malam, makin terasa Sabrina mengagumi keagungan Sang Pencipta, serasa dirinya benar berada di Masjidil Haram, di hadapan Ka'bah.
Tetesan derai air mata sontak membasahi daratan cantik pipi kiri kanannya, getaran bibir kecilnya seakan tidak bisa membayangkan betapa Agung dan Mulianya Ka'bah yang selama ini di impikan telah ada di hadapannya.
Tetapi tetesan derai air matanya, malahan membawa dirinya kembali terjaga dari impian sesaat dirinya terbawa ketika berada di Masjidil Haram, Ka'bah. Ternyata tetesan kecil rintik hujan telah turun basahi wajah cantiknya, bikin Sabrina terjaga.
Tapi tetap saja senyuman kesetiaan dua matanya masih manja terumbar keAgungan dalam sanubarinya masih perhatikan Kubah Masjid berlafal Allah, yang ada di hadapannya.
Padahal rintik hujan, yang di kiranya tetesan kesungguhan dirinya nyata telah berada di Masjidl Haram, Ka'bah, nyatanya semua itu hanya ilusi terbawa angan surgawi sesaat saja. Kini tetesan rintik hujan itu benar nyata dan membangunkan Sabrina dari bayangan sejenak impiannya.
Awan putih yang tadinya cerah, kini telah berganti dengan segumpalan awan hitam menutupi menghalangi pandangan sinar matahari. Begitu setianya sinar matahari masih berusaha mencari celah agar bisa menyinari langkah pasti Sabrina sudah kembali berjalan lagi.
Cipratan air yang tergenang di tepian atas median jalan berapa kali terlindas ban mobil, tapi tidak sampai menciprati pakaian yang di pakai Sabrina siang itu.
Basah sudah bakul keranjang kosong siang itu begitu nyata kosong hampa. Pastinya akan membuat sedih Juju, karena harapan bakul kosong saat di ajaknya menjemput rejeki. Kini kembali pulang dengan tidak terisi penuh dengan sayuran yang tidak lagi jadi penyambung hidup hari itu, di mana hanya itu harapan Juju setiap harinya.