Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #4

Part #4

Dua Kehidupan Berbeda

Tampak rumah sederhana di bantaran sungai, bilik bambunya sudah pada bolong dan lihat saja atap yang terbuat dari pelepah daun nirah mulai kering, pastinya mudah tembus air dan bocor saat hujan datang.Tiang-tiang peyangga bangunan juga mulai rapuh termakan usia. bila ada angin besar menerpanya, pasti semua akan terhempas rubuh menimpa penghuninya.

Daun pintu dan jendela terlihat rapuh hanya kendengaran suara ringkih saat di buka apalagi saat akan di tutup. "Kreeek ..." suara daun pintu saat di buka Siti, senja menjelang sore dirinya baru saja pulang.

Hanya bakul keranjang kosong di tersangkut pada sisi kiri kusen pintu. Saat dirinya masuk, hanya hamparan ruang kecil berlantai tanah kering. Tidak ada kursi atau meja di depan rumah sebagai pemanis, seperti kebanyakan rumah lainnya.

Tapi secara harapiah, di telisik lebih dalam siempunya rumah jarang terdengar mengeluh apa lagi buat berkeluh kesahnya dan apalagi bertengkar cuman gegara rumahnya jelek. Walau Siti dan Miswan hidup dalam keterbatasan ekonomi, tapi mereka berdua selalu menjaga harmoni dan kesetiaannya.

"Kok kalian belum pada mandi?" sungguh sabarnya Siti, ketika dirinya baru saja pulang mencari nafkah langkah masuk kedalam, tapi walau hari ini apa yang di cari dan di jemputnya tidaklah sesuai harapannya. Akan tetapi Siti tetap bersabar sebagai istri dari Miswan dan Ibu dari dua anaknya.

Ata dan Dila, dua anak Siti dan Miswan siang itu mereka memang belum mandi, di pikiran mereka hanya belajar dan belajar. Mereka berdua seakan mengerti dan tidak ingin nasibnya sama dengan kedua orang tuanya yang hidup serba keterbatasan ekonomi.

Ata dan Dila hampir tidak ada waktu untuk bermain, setelah pulang sekolah mereka berdua hanya berada di rumahnya, mereka habiskan waktu untuk belajar. Tidak banyakan anak lainnya, bila pulang dari sekolah, pastinya cepat ambil ponsel pintar dan langsung online games.

"Maaf, Bu. Aku sampai lupa, jika waktu sudah hampir sore" salami dan kecup tangan Siti mengusap kepala Ata, anak paling tua kelas 6 SDN.

"Iya, Bu. Lah wong aku banyak PR. Ya, apa salahnya aku kerjakan saja" kedipan mata Dila, pada Ata tersenyum. "Ya, sana kalian berdua segera mandi" sahut Siti melirik Miswan hanya terbaring tidur tidak berdaya, sudah berapa bulan ini kakinya cacat karena korban tabrak lari.

Ata dan Dila lantas merapihkan buku-buku pelajaran kemudian di masukan kedalam tas masing-masing. Walau mereka berdua hidup sederhana, mereka tahu diri dan tidak banyak menuntut segala macam. Lihat saja tas mereka masing-masing, rasa sedih bila melihatnya. Tas gemblok Ata dan Dila pada bolong dan talinya putus.

Tapi mereka berdua tetap semangat, apalagi sepatu mereka berdua. Warna sama hitam, tapi solnya sudah tipis dan berlobang di bawahnya. Di kalah hujan, pasti kedua kakinya mereka berteriak kedinginan karena air pasti akan masuk kesela-sela membanjiri sol sepatu yang bolong.

Tapi tetap saja tidak menyurutkan niat semangat Ata dan Dila untuk tetap menggapai impian masa depannya. Ata ingin jadi Dokter Anak, sedangkan Dila cita-citanya sekali jadi Polwan.

Sesaat Siti tertegun sendu dua matanya ketika melihat Ata dan Dila masih belum beranjak mandi juga. "Loh kalian berdua?" naluri seorang Ibu tahu apa yang sedang di lihat dan di pikirkan kedua anaknya.

"Kalian berdua ndak boleh sedih dan bingung. Kalian berdua harus tetap semangat sekolah. Kamu mau jadi Dokter Anak dan kamu mau jadi Polwan. Pasti Ibu dan Ayah akan wujudkan semua cita-cita kalian berdua" husapan tangan halus lembut semakin terasa mendarat di pipi Ata dan Dila membalasnya dengan pelukan hangat mereka berdua memeluk Siti.

Hanya sedih tidak berdaya Miswan, serasa dirinya hanya bikin bertambah susah saja Siti. Makin sedih, makin merasa bersalah Miswan, dengan apakah dirinya bisa mewujudkan cita-cita dua anaknya. Sedangkan dirinya saat ini cacat dan akan selalu menyusahkan Siti.

Akan tetapi kehidupan sederhana mereka akan selalu tetap ada dan akan selalu terbukti, dengan ketulusan kasih sayang yang selalu akan tumbuh pada sanubari hati mereka masing-masing.

Beda halnya dengan Kastiri, hidupnya bergumul dengan segudang kebohongan dan rendah harga dirinya sebagai seorang gadis. Di mana Kastiri tidak bisa menjaga marwah dirinya sebagai seorang gadis terhormat, dengan mudahnya dirinya mendapatkan lembaran rupiah, bila dirinya mau di sentuh dan di jamah oleh lelaki.

Tidak pernah Kastiri melakukan kewajiban dirinya sebagai seorang Muslimah, dirinya semakin jauh dengan Sang Pencipta. Padahal selama ini nikmat yang di dapati Kastiri semua berasal dari kemurahan Hati Sang Pencipta.

Lihat selengkapnya