Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #5

Part #5

Janji

"Lah wong ndak mau, ndak udah di pakso-pokso" terucap ada keraguan dari mulutnya Ricky meyakinkan Rarih, Ibunya yang ingin berharap sekali bila ada kepatian dari hubungannya dengan Sabrina. Hanya itu-itu saja jawaban yang di dengar Ratih, padahal dirinya ingin sekali bila Ricky cepat menikahi Sabrina.

Mungkin kehidupan Ricky terbilang cukup mewah, rumahnya saja cukup besar dan mewah bergaya jawa joglo. Lihat saja selasar halaman rumahnya begitu luas sekali, terparkir mobil antik keluaran jaman dulu. Tanaman hijau sudah di tumbuhi bunga, makin jelas terlihat betapa terawatnya seluruh rumah yang di tempatinya. Makin jelas derajat kekayaan yang di miliki drai rumahnya, tapi Ratih tidak pernah sombong malahan dirinya selalu mengajarkan Ricky selalu merendah diri dan tidak sombong.

Kursi dan furniture semuanya dari pahatan kayu, pastinya dari pengrajin terkenal di Jepara, Jawa Timur. Terduduk seraya tidak berkutik Ricky dengan sikap kerasnya karena dirinya bersalah hanya mengumbar berjanji pada Ratih duduk berhadapan dengan dirinya.

"Kapan kamu bisa yakinkan, Ibu? Ibu rasanya sudah malas mendengar jawabanmu dan hanya janji saja, bila kamu akan segera menikahi Sabrina, tapi mana buktinya? Apa karena Sabrina mau berangkat haji, lantas dirinya ndak mau kamu nikahi?" menahan kesalnya Ratih beranjak bangun, penampilannya beda sekali dengan Juju, Ibunya Sabrina.

Maklum gitu-gitu Ratih masih keturunan darah ningrat, tapi dirinya tetap tidak kaku. Ratih masih mau menerima Sabrina, walau bukan datang dari kalangan darah ningrat juga. Karena bagi Ratih, keturunan ningrat hanya status saja, tetapi hatinya seluas samdura untuk menerima segalanya.

Sekian lama dirinya terduduk menunggu akan jawaban, malahan bikin Ratih selalu menahan amarahnya, karena janji-janji Ricky akan segera menikahi Sabrina. "Ibu kurang sabar gimana, Rick? Selama ini Ibu ndak pernah melarang kamu dengan Sabrina, kamu'kan tahu Sabrina siapa? Tetap Ibu mau menerima Sabrina. Tapi lama-lama Ibu jadi malas saja, jadi kesel sendiri! Ya kesal sama kamu!" beranjak bangun Ratih setelah meluapkan kekesalannya lalu berjalan kearah pintu kamarnya. Ricky hanya masih terduduk dua matanya tidak berani melirik Ratih sudah masuk kedalam kamarnya, serasa makin tidak berkutik Ricky karena janjinya yang tidak pernah di tepatinya.

"Apa karena Sabrina masih ndak yakin denganku?" guman makin bingung makin menyulut wajah tampan Ricky perlahan beranjak bangun dari duduknya. Dirinya makin terbelengu sejuta kegundahan, tapi hati kecilnya tidak dapat di bohongi, bila dirinya sungguh mencintai Sabrina. Hanya kesunyian dan kesepian semakin merasuk dalam sukma raganya Ricky, raut wajahnya makin terasa ikut terbaring dalam ikatan cinta tanpa kepastian membumbung tinggi terbentur ruangan plapon ruangan tengah.

Sinar rembulan malam selalu pasti dengan janjinya, selalu menerangi semesta ini, akan tetapi janji manusia pada Allah belum tentu pasti padaNya. Walau Allah telah memberikan nikmat dan segalanya, Allah akan tetap selalu tersenyum menunggu penuh kesabaran dan selalu menyayangi hambanya, di kalah hambanya melupakan diriNya.

Janji Allah akan selalu di tepati, Allah tak pernah ingkar dengan segala setiap janjinya. Terlebih pada Umat yang tulus dengan ingin sekali mengunjungi RumahNya. Pastinya Allah akan memberikan jalan kemudahan, namun tak semudah harapan penuh ketulusan Sabrina.

Hanya tetesan air mata ketulusan selalu bercucuran sudah sembabi wajah cantiknya terbalut kerudung putih dan seluruh tubuhnya juga terbalut mukenah putih. Tidak akan pernah berhenti dirinya terus bersujud dan berdoa seraya terus bersujud dan tetap yakin menyebut Nama Allah. Bila dirinya sungguh berniat sekali dengan penuh ketulusan hati ingin sekali berada di Rumah Allah, memenuhi undanganNya.

"Ya Allah, hanya padaMu aku selalu berlindung dan berdoa. Aku percaya dengan segala rahmat dan nikmat yang selama ini aku rasakan, semua berkat dari kemurahanMu, Ya Allah. Hanya diriMu dan hanya padaMu, tempatku memohon dan hanya Engkau sebagai tempat perlindunganku" makin sedih rasanya linangan air mata penuh ketulusan di sertai dua mata lentik berkaca-kaca merona memerah makin tidak tahan membendung keharuan doa yang di panjatkan.

Dua tangannya terus memohon, seraya khusuk memohon segala petunjukNya, semakin sunyi semakin hening kamar sederhana yang selalu menjadi tempat pembaringan Sabrina setelah seharian dirinya mengejar lembaran rupiah. "Aku yakin Ya Allah padaMu, bila Engkau tak'kan pernah ingkar menepati janjiMu. Engkau pasti selalu menempati janjiMu, di kalah hati ini selalu mendengar seruanMu manggil-manggilku untuk segera datang mengunjungi RumahMu. Amin,Ya Robbal Alamin" dua telapak tangannya makin ikut merasakan kesedihan seraya menutup doa dan Sholatnya, dengan penuh khimat membasuh wajahnya masih penuh linangan air mata.

Walau hatinya penuh kesedihan, sedikit teringat apa yang sudah di perbuatnya Sabrina terlebih tadi siang. Kini harapan dirinya untuk memenuhi undanganNya makin tipis, karena tabungannya yang dirinya selama kumpulkan sedikit demi sedikit, tadi siang telah dii berikan Siti. "Aku yakin pasti ada jalan dari Allah. Lebih baik uang itu aku berikan pada Siti, karena dia pasti lebih membutuhkannya. Aku ikhlas, walau aku juga butuh uang itu" beranjak bangun Sabrina sambil melepit sazadah bergambar Ka'bah.

Tapi tetap saja hati kecilnya tidak bisa di pungkiri, ada rasa sedikit menyesal tersirat di raut wajah Sabrina karena uang yang selama ini di kumpulkan untuk berangkat haji sudah di berikan pada Siti. Berdiri dirinya berhadapan foto Ka'bah, tangan kanannya sesaat mengelus foto Ka'bah berbingkai warna emas. Tetesan derain air mata kembali terpancing basahi wajahnya, rasa hatinya makin besar ingin sekali memenuhi undangan Allah.

Lihat selengkapnya