Jalan Dari Allah
Semakin terpancing penasaran dua mata Sabrina melihat koran, makin membungkuk setengah badannya tetapi cepatnya tangan kanannya mengambil koran yang sekarang sudah ada di tangan kanannya. Makin penasaran hati dan dua matanya makin fokus membaca berita koran di halaman depan.
"Seorang gadis jadi TKW di Arab, bisa naik haji" sisipan berita harian surat kabar "Berita Surayaba" sontak yang tadinya deraian linangan air mata deras bercucuran, kini cepat di seka tangan kanannya Sabrina. Wajahnya seakan sumringah setelah membaca berita koran, dalam benaknya makin terpikir bila Allah telah memberikan jalan keluar dari segala ketutulusan dan keinginanya yang selalu terhalang selama ini.
Makin tersenyum, tapi bekas kesedihan dua matanya masih membekas dan masih ada serpihan sisa tetesan air mata yang tadi sempat membasahi wajah cantiknya Sabrina. "Apa ini jawaban dari segala doa-doaku selama ini. Bila Allah telah membuka'kan jalan untukku?" guman dalam hati Sabrina dirinya masih terbalut mukenah putih lantas berbaring di atas ranjang dan koran bekas malahan di dekap dalam pelukan hangat dengan dua tangannya semakin mendekap.
Semakin yakin jelas tergambar di wajah Sabrina, bila dirinya pasti segera berada dan memenuhi undangan Allah, dengan cara dirinya akan jadi TKW. "Tapi'kan jadi TKW di Arab'kan ndak mudah juga? Pasti butuh biaya uang buat transport dan urus surat-surat" ketekuk lagi wajahnya Sabrina makin terhimpit dan terhujam lagi rasa putus asa. Cepat badannya di bangunkan dan di dudukan di atas ranjang, kedua kakinya bersila.
Koran bekas yang tadinya merasa hangat dalam dekap dua tangan Sabrina, kini koran bekas itu serasa kedinginan dan kesepian saat hanya di biarkan begitu saja di samping dirinya masih terduduk bersila, wajahnya mulai tergurat putus asa lagi malahan bercampur aduk.
"Aku ndak ada uang. Pastinya jadi TKW juga ndak mudah. Pasti butuh banyak uang. Ndak mungkin gara-gara aku ingin berangkat haji sampai aku bikin susah Ibuku harus jual rumah ini. Ndak mungkin!" makin terbungkus wajah tidak berkeyakinan lagi, makin terbungkus lagi rasa putus asa membungkus wajah Sabrina melirik lagi koran bekas tergeletak di sampingnya.
"Tapi gadis itu saja bisa sampai jadi haji. Wektu aku ora bisa? Aku kudu yakin! Kalau Gusti Allah, sudah kasih jalan. Aku kudu yakin!" lagi-lagi koran bekas mendapatkan pelukan hangat lagi di peluk dan di dekap dalam pelukan hangat Sabrina, wajahnya makin tergambar lagi keyakinan bercampur keharuan.
Kepakan dua sayap burung sebegitu cepat dan kompaknya di langit biru, mereka terbang tinggi menembus awan putih. Langit semakin cerah, seraya tahu ikut bersuka ria dengan keyakinan Sabrina segitu kuat tekad dan kegigihannya ingin sekali segera berada dan memenuhi seruan undangan Allah.
Tetesan kristal embun putih menjadi tanda kehidupan baru di mulai, di mana ari urat dedaunan seakan berbahagia sekali riang menyerap tetesan kristal embun pagi. Berdiri tegak pepohonan dengan riang gemuruhnya dedauan saat semilir angin meniupnya.
Hanya penuh senyuman dan sentuhan doa terpancar dari raut wajah Juju perhatikan Sabrina pagi-pagi sedang merapihkan dan mengikat koran, majalah dan barang bekas yang tidak lagi terpakai. Harapannya makin di penuhi keyakinan, walau tahu apa yang akan di perbuatnya tidak mempermudah dirinya untuk segera mewujudkan impiannnya. Karena masih banyak lembaran rupiah-rupiah yang di cari dan pastinya akan mengeluarkan peluh butiran keringat, bila Sabrina benar-benar ingin berada di Rumah Allah.
"Hanya doa selalu Ibu lantukan pada Allah, untuk mewujudkan impianmu, Sab" hanya senyuman balasan ungkapan kasih sayang Juju melirik Sabrina. Lantas sudah datang gerobak, dua gagangnya di tarik seorang lelaki tua berjalan masuk keselasar halaman rumah. Dia itu adalah Karjo, tukang rongsok yang dulu katanya hidupnya sangat sugih, tapi kenapa sekarang dirinya jadi tukang rongsok, semua itu hanya rahasia Allah Maha Tahu SegalaNya.
Keriput bertubuh kurus makin merengut seluruh tubuh Karjo, tapi wajahnya selalu tersenyum tetapi di balik matanya masih ada kesedihan yang di simpannya. Langkah jalan bergetar tidak sehebat saat dirinya sugih, langkahnya selalu pasti dan pikirannya tidak sekusut sekarang ini. Andalan hidupnya saat ini hanya jual beli barang rongsok, tidak seperti dulu hidup bergelimangan banyak harta dan banyak sekali tukang rongsok yang bekerja pada dirinya.
"Assalam' mualaikum" sapa terucap lembut tapi bibirnya bergetar menahan rasa lapar, karena sepagian ini Karjo belum makan. Lihat saja wajahnya pucat sekali, serasa dirinya juga menahan sakit yang sejak lama di deritanya. Dua tangannya di turunkan dari pegangan kiri kanan gagang gerobak, perlahan langkah kakinya menghampiri Sabrina berbalik.
"Waalaikum' salam" sahut santun terdengar dari bibir kecil Sabrina ada rasanya dirinya tidak tega melihat Karjo saat ini ada di hadapannya. Juju sedikit tersenyum menyimpulkan perasaannya, hatinya tahu dengan keberadaan Karjo saat ini dan masa lalu. Hanya tersirat rasa keprihatian dari raut wajah Juju hanya melirik Sabrina seakan dirinya terpanggil ada rasa tidak tega pada Karjo.