Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #7

Part #7

Semakin Yakin Penuh Ketulusan

"Ya, kabeh wis dijupuk, ora prelu mbayar, Pak Karjo" otak pikiran Sabrina sudah di cuci dengan curahan rintik air nasehat bijak oleh Juju. Sontak tertegun dan bingung Karjo ketika mendegar kurang jelas, maklum pendengaran Karjo kurang jelas, maklum faktor umur jadi dua kupingnya rada budek.

Hidup Karjo makin terlunta tidak karuan, boro-boro untuk biaya berobat, kadang untuk makan saja masih di kasih orang dan pakaiannya saja kumal lecek tidak terurus. "Opo?" kurang jelas dengar kuping kanannya Karjo sedikit di majukan kearah mulut Sabrina.

"Ya, kabeh wis dijupuk, ora prelu mbayar, Pak Karjo ..." rada kenceng suara Sabrina mengulangi lagi sambil mulutnya di dekatkan pada kuping kanan Karjo malahan sedih. "Lah kenapa sedih, Pak Karjo?" bingung Sabrina melirik Juju spontan dua langkah kakinya mendekati Karjo merasa dirinya tahu malu hati, karena sebegitu banyak orang yang sangat peduli pada dirinya.

"Saya malu, saya selalu merasa di kasihani banyak orang dengan keadaan saya saat ini. Dulu sebegitu sombong angkuhnya saya, ketika saya sedang sugih. Saya malah lali karo Gusti Allah. Tapi ketika Gusti Allah sudah membalik'kan semua cerita kehidupan sugih saya seperti sekarang ini. Lihat, sekarang keadaan saya saat ini, Gusti Allah isih tresna marang aku, Sabrina. Saya malu, saya sedih dan marah pada diri sendiri. Sebegitu sayangnya Gusti Allah dengan saya sekarang ini, walau makan saja jarang, tapi saya masih di kasih kesehatan. Saya malu, saya malu karo Gusti Allah, dengan masih mau peduli pada saya yang dulu segitunya saya melupakan semua kewajiban, yang semestinya saya lakuin" sedih terduduk berdeku, begitu panjang luapan penyesalan Karjo seraya dua tangannya ingin menyentuh menciumi dua kaki Sabrina cepat mundur selangkah kebelakang.

"Ndak begitu, Pak Karjo" merasa tahu dirinya yang mudah tidak pantas di sembah sujud oleh yang tua, cepat dua tangan Sabrina menarik bahu kiri kanan Karjo beranjak bangun semakin sedih menyesal dua matanya merona berkaca merah menahan bendungan kesedihan.

"Gusti Allah, masih sayang karo Pak Karjo. Masa lalu biarlah jadi pembelajaran buat Pak Karjo agar tidak lagi mengulanginya. Masa sekarang ada di hadapan Pak Karjo agar tidak perlu lagi mengingat masa lalu. Walau saat ini Pak karjo bukanlah siapa-siapa, tapi tetap di mata Gusti Allah, Pak Karjo adalah satu-satu hambanya yang masih mengingat dan selalu menyembahNya" sama keharuan terumbar dari raut wajah Juju melihat Karjo semakin dirinya merasa malu dan menyesal.

"Wis nggawa kabeh, ora ing byarak ora apa-apa. Kabeh iki saiki duweke, Pak Karjo" makin sedih Karjo menatap wajah kesungguhan dan ketulusan Sabrina yang telah memberikan barang rongsok padanya.

"Matur suwun, muga-muga Gusti Allah ngrungokake kabeh pandonga lan maksud sing apik, Sabrina" hatinya makin bahagia Pak Karjo cepat memeluk sebagian barang rongsok sambil terdengar lantunan doa dari mulutnya walau tersamar dengan isak tangis kesedihan harunya.

Tidak putus asa dan harapan, Sabrina tetap memanggul bakul keranjang kosongnya. Dirinya lagi-lagi akan menjemput lembaran rupiah, yang pastinya Gusti Allah sudah menggarisi nasib setiap hambanya, itupun bila hambanya tidak berdiam diri saja. Pastinya harus selalu menjemput rejeki, dengan cara halal dan mau berusaha dan tidak terus-terusan berdiam diri malas-malasan harus berusaha dan berdoa, memang rejeki turun dari langit.

Pagi menjelang siang terasa sejuk penuh senyuman terlihat di langit birunya. Awan putih seraya berkelompok berkelompok membentuk lingkaran putih, namun masih bisa menembus langit biru.

Harapan dan keyakinan dengan segala perbuatan baik Sabrina, benaknya selalu melangkah bahagia dan riang penuh keyakinan. Berharap dengan segala apa yang telah di perbuatnya, akan menjadi pembuka jalan niat sesungguhnya untuk memenuhi undangan Allah.

Bakul keranjang kosong masih jadi sahabat setia Sabrina tampak bergerak-gerak di belakang punggung saat dua langkah kakinya berjalan semakin cepat.

"Sabrina ..." teriak suara memanggil dari belakang berlari kecil Siti sama menggendong di belakang bakul keranjang kosong di belakang punggungnya.

Berbalik penuh senyuman hangat Sabrina makin terpancar aura kecantikannya terbalut hijab merah muda, dengan pakaian dress hitam terusan panjang menutupi seluruh tubuhnya yang langsing dan sisi kanan kiri serta pergelangan tangannya juga hampir tertutup. Sampai lapisan ujung dalaman celana panjangnya terlihat dengan beralas sepasang sandal jepit. Dua kakinya makin cepat melangkah jalan menghampiri Siti.

"Bagaiman Miswan, suamimu, Ti?" tanya Sabrina berharap jawaban yang bakalan membuat hatinya merasa yakin, dengan segala kebaikan atas bantuannya yang selama ini berikan.

Lihat selengkapnya