Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #8

Part #8

Semakin Tersingkir, Semakin Yakin

"Apa serendah itu untuk mendapatkan rejeki? Sampai semudahnya diri kita sebagai seorang wanita, mudahnya di sentuh dan di jamah dengan lelaki yang bukanlah suami kita?" sindiran halus terlontar dari mulutnya Siti tapi dalam ketika di dengar Kastiri sontak meradang marah.

"Siti!" tidak jadinya Kastiri akan memanggul sayuran yang malahan di letakan kembali di bak mobil. Rahman akan melerainya, tapi tangan kanan Kastiri begitu kuatnya menghentakannya karena sudah terasuk kemarahan makin membungkus wajahnya.

"Memang benar'kan? Kamu itu?" "Siti!" belum sempat Siti kembali melontarkan kata-kata pedasnya sepedas cabai ceplik. Cepat Sabrina menarik Siti kebelakang dirinya, seolah-olah Sabrina jadi tameng menghadang kemaragan Kastiri semakin meradang.

"Sini loe! Mulut loe itu harus di bebeki cabe! Ndak usah munafik loe, Siti! Dan ndak usah urusin hidup gua! Gua mau begini! Begitu! Itu urusan gua!" berapa kali tudingan telunjuk jari tangan kanan Kastiri mengarah pada Siti, tapi selalu terhalang Sabrina.

"Sabrina! Loe juga minggir! Loe juga sama! Sama-sama munafiknya dengan Siti, teman loe itu! Lebih baik gua apa adanya. Ndak kayak loe! Cuman mau duitnya Ricky, tapi loe ndak mau'kan di nikahi sama Ricky?" tudingan tidak beralasan tepat sampai benaran menghujam sanubari Sabrina yang sabar mulai terpancing emosinya.

"Eeeh, Kastiri! Mulutmu itu sama seperti bakul keranjangmu itu! Besar, tapi selalu kosong! Tuduhan kamu itu ndak beralasan! Aku ndak pernah cinta sama Ricky karena uangnya saja! Malahan aku ndak mau dia manjain diriku ini dengan setumpuk uangnya!" bantah sambil berapa kali beraninya tangan kiri Sabrina menjeguk kening Kastiri mundur kebelakang tertahan Rahman.

"Kas, Kastiri sudah-sudah" lerai Rahman melirik malu karena sebagian wanita pengangkut sayuran kasak-kusuk pastinya gara-gara dirinya membuat Siti mengatai Kastiri tidak-tidak.

"Aku lebih baik ndak punya uang. Dari pada tubuh ini dengan mudahnya di sentuh sama lelaki yang bukan suamimu itu!" sengaja berbalik Sabrina sontak bakul keranjang kosong menghadang dan mengenai dada Kastiri makin meradang kesal.

"Iihhhh ... Sabrina ...! Kowe ... Uhhhhh ...!" kesal tidak karuan Kastiri makin meradang marah menahan bakul keranjang Sabrina sontak laju jalannya terhenti.

"Iihhh ... Lepasin ..." tidak lantas cuman diam Siti malahan mendorong Kastiri terjatuh menahan marahnya saat di tertawai wanita pengangkut sayur lainnya.

"Kas?" "Iiih! Kamu dari tadi cuman diam saja ndak belainku!" terdorong mundur Rahman saat akan menolong Kastiri malahan mendorong mundur Rahman.

"Aku sumpahin kamu ndak pernah bisa berangkat haji ..." teriak semakin kencang terucap dari mulut Kastiri semakin marah sambil menyumpahi Sabrina.

"Sumpahmu ndak mempan! Memang kamu siapa?! Kamu cuman wanita murahan yang gendeng! Ndak mungkin Gusti Allah mau dengar ucapan sumpah serapahmu itu, Kastiri!" balik tuding Siti makin meradang marah akan menjambak rambut Kastiri, di tahan Sabrina.

"Sabrina, orangnya baik. Hatinya baik. Aku pasti yakin, kalau Gusti Allah akan nepatin janjine pada Sabrina bisa berangkat haji. Ndak sepertimu, Kastiri! Hatimu jahat! Ndak pernah berbuat baik sama orang! Pastinya suatu hari Gusti Allah akan menghukum kamu!" belum puas lagi-lagi tuding menyerang Kastiri makin tersudut diam, saat serangan berantai terus terucap dari mulutnya Siti.

"Hahhhhh ... Gua ndak percaya sama, Allah ...!" "Astagfirullahladzim, Kastiri! Kamu ndak boleh bicara begitu!" kesal luapan kemarahan Kastiri langsung di potong Sabrina berusaha menenangkan Kastiri.

"Loe siapa ngelarang-larang, gua!?Loe dua orang tua, gua? Loe saudara, gua? Saat gua percaya sama Allah, kenapa Allah renggut dan ambil dua orang tua, gua?!" sinis jawaban Kastiri pada Sabrina segitu prihatin dirinya pada Kastiri yang tidak percaya Allah.

"Sab, sudah. Ndak udah di ladein wong gendeng ini. Nanti kamu jadi ikut-ikutan gendeng" sekuat tenaga tangan kanan Siti menarik tangan kiri Sabrina tatapan dua matanya masih memancarkan rasa keprihatinanya mendalam pada Kastiri

"Umur itu memang milik Gusti Allah, Kastiri. Tapi bukan berarti saat Allah mengambil dua orang tua kamu, bukan berarti kamu lantas nyalahin Allah. Karena hidup dan matinya seseorang di dunia ini, kita ndak ada yang tahu. Dan jangan di jadikan alasan kamu membenci Allah, atas kepergian dua orang yang kamu sayangi itu. Mesti kamu sadar kenapa Allah lebih cepat mengambil dua orang yang kamu sayangi. Karena Allah lebih sangat-sangat sayang sekali pada dua orang tuamu itu" sempatnya Sabrina membalikan fakta ketidak sukaan Kastiri pada Allah. Hanya terdiam Kastiri melirik menahan sebal wanita pengangkut sayuran masih kasak-kusuk membicarakan dirinya.

"Sabrina?" terhenti langkah jalan Sabrina dan Siti mesem-mesem mendorong Sabrina makin kedepan Ricky. Semakin sebal Kastiri melihatnya, malahan dirinya cepat bergegas memanggul sayuran.

"Kalian kenapa diam saja?! Cepat angkut sayuran itu!" ikut-ikutan kesal Rahman perintahkan wanita pengangkut sayuran cepat menarik turun sayuran dari belakang mobil dan segera memanggulnya.

Lihat selengkapnya