Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #9

Part #9

Hanya Doa Buat Sabrina

"Budaya kita, ya budaya yang santun dan harus saling menghormati tata krama ini. Tapi, tak semestinya Sabrina hanya diam tidak memberikan kepastian jawaban, kapan dirinya sungguh-sungguh mau memenuhi janjinya. Bila Sabrina hanya diam saja, sama saja Sabrina tidak menghormati saya dan ketulusan cinta Ricky" tidak tampak terlihat raut wajah marah dan kecewa tersirat di wajahnya Ratih duduk sopan berhadapan dengan Juju tersenyum tidak terlihat tegang di wajahnya. Siang itu Juju mendapatkan kehormatan kedatangan wanita keturunan ningrat yang sangat penuh sopan santun, selalu terlihat di raut wajahnya penuh tersenyum.

Dua wnaita yang sudah cukup berumur, pikiran mereka tak lagi di selimuti rasa egois dan kemarahan, hanya kedatangan Ratih ingin saja memastikan dirinya pada calon besan itu. Tentang Sabrina, yang kenapa sampai detik ini tidak mau memberikan kepastian dan selalu saja menolak ajakan Ricky.

"Saya ndak akan pokso-pokso, Sabrina. Saya mengerti sekali dengan sikap kerasnya, dirinya ingin sekali berangkat haji. Tapi'kan apa salahnya menikah dulu dan setelah itu'kan mereka berdua bisa berangkat bersama" lagi-lagi hanya senyuman tidak tersirat sedikit rasa kecewaan dari Ratih yang begitu sungguh bersabar sekali pandangannya melirik kearah foto Ka'bah terbingkai frame emas, yang ada di ruangan tamu cukup sederhana tapi tertata rapi.

"Berkali-kali juga sudah saya nasehati, Sabrina. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Anak itu keras kepala sekali. Lagi-lagi Sabrina ingin kekeh berangkat haji dengan tabungannya sendiri. Saya juga ndak tahu sampai kapan Gusti Allah masih berbaik hati dengan saya, Beliau masih kasih saya kesehatan dan umur panjang. Hanya doa terbaik selalu saya panjat'kan buat Sabrina" tersenyum tergambar di wajah Juju walau dua matanya tidak bisa di bohongi, ada rasa kesedihan dan kwhawatiran terus menggelayuti hatinya tentang sikap keras Sabrina.

"Artinya kita sebagai orang tua saat ini hanya bisa mengalah dan berdoa hanya yang terbaik saja buat anak-anak kita berdua" beranjak bangun Ratih semakin terpancar aura wajahnya semakin menerima keputusan Juju juga tidak bisa memaksakan kehendak sikap keras kepala Sabrina.

Walau keturunan ningrat yang melekat dan membungkus seluruh tubuh Ratih, tidaklah menjadikan dirinya angkuh dan sombong. Malahan dirinya sungguh bijkasana dan mau mengerti dengan sikapnya Sabrina, yang tetap dengan sikap kerasnya. Karena Ratih tahu, sikap keras Sabrina ingin berangkat haji sebelum menikah patut di acungi jempol, tapi pastinya sisi sanubari hati kecilnya yang paling terdalam pastinya ada rasa sedikit kecewa.

"Bila begitu ndak apa-apa. Kita hanya berharap dan berdoa saja pada Gusti Allah, bila Sabrina dan Ricky berjodoh itu adalah jalan dan takdirnya Gusti Allah. Namun bila mereka berdua ndak berjodoh, ya kita sebagai orang tua juga ndak bisa bisa berbuat banyak" beranjak bangun Ratih tersenyum sambil tangan kanannya mengelus tangan kanan Juju merasa tidak enak hati.

Siang menjelang sore, padahal langit mulai mengajak siangnya beranjak pergi meninggalkan siang. Tapi sinar terik kecil matahari masih saja nakal mengiringi langkah hati Sabrina, bila hati kecilnya masih sebegitu setia dan masih berharap bila hatinya masih terbuka menerima kesetian cintanya Ricky.

Tapi rasanya semua itu tak terjadi, bila keras hatinya semakin besar membelengu seluruh otaknya untuk tetap melangkahkan pastinya niatnya berangkat haji seorang diri, tanpa bantuan dan tanpa adanya Ricky yang ingin pergi bersamanya. Pastinya Sabrina tahu, bila selama ini yang di pikirkan hatinya makin telah melukai hati dan perasaannya dengan sikap Ricky.

Sinar matahari kecil nakal begitu riangnya masih mengiringi dua pasang kaki terus berjalan, tidak tahu sampai di mana hulunya terhenti langkah tidak penuh kepastian itu. Wajah nan cantik dengan terbalut hijab putih, makin terasa berat langkah Sabrina karena dirinya masih di bayang-bayangi langkah Ricky yang terus mengikuti dirinya. Di mana Ricky hanya ingin menanti jawaban, kapan dirinya bisa menemani gadis pujaan hatinya bersama-sama berangkat haji.

Tepian pinggiran jalan makin sepi, makin terasa dedaunan sudah tidak lagi seceria pagi hari, di mana selalu mendapatkan sentuhan dna kelitikan hembusan angin segar yang berasal dari sentuhan angin surga. Sekali-kali daun kering merasa sadar diri tidak lagi bisa berlama-lama mengakui rating pepohonan sebagai tempat berlindungnya lagi. Dedaunan kering mulai sadar diri berguguran berterbangan melayang lalu turun terhempas tersamar dua pasang kaki terus berjalan tanpa berhulu di mana terhentinya.

Sontak langkah Sabrina terhenti, saat keranjang bakulnya di tarik tangan kiri Ricky, dari wajahnya saja berharap bila masih ada kesempatan dirinya untuk selalu bersama Sabrina. Sesaat diam Sabrina berdiri membelakangi Ricky cepat melepaskan tangan kirinya dari bakul keranjang kosong. Dua matanya sebentar melirik langit mulai bergantian tugasnya, siang mulai perlahan beranjak pergi, berganti dengan awan kelabu berdatangan menyamari langit terang.

"Sungguh hati ini terasa seperti batu kerang yang kokoh walau terhempas riak ombak besar. Walau aku sadar, betapa kuatnya hati ini untuk tetap berusaha untuk selalu melabuhkan cinta ini padamu, tapi rasa-rasanya semakin lama batu karang itu akan terhempas juga, Sab" ternyata ungkapan Ricky bukan lagi untuk menanti jawaban Sabrina, malahan terasa dirinya terasa pasrah bila kekasih yang di harapkannya akan segera pergi meninggalkan dirinya untuk sesaat atau selamanya.

Dua mata sendu Sabrina menatap teduh dua mata Ricky semakin tidak lagi berharap dengan dirinya, ada kedipan dari dua mata Sabrina tapi bukan berarti Ricky akan membalas dan mengartikan kedipan dua mata Sabrina, akan lagi membuat dirinya semakin setegar batu karang lagi.

Lihat selengkapnya