Makin Yakinnya Sabrina
Pelukan hangat penuh keharuan tidak segera di lepaskan Sabrina makin erat memeluk Juju terasa hangat dalam pelukan anak semata wayangnya sebentar lagi akan segera pergi meninggalkan dirinya. Deraian air mata makin tidak tertahan, seakan menguras pelupuk dua mata Juju semakin berkelopak menghitam bercampuran derasnya linangan air mata.
Rautan wajah makin menua, makin tidak relanya dirinya untuk segera melepaskan pelukan hangat Sabrina juga sama semakin sedih. Malam semakin hanyut, semakin membawa keheningan itulah keinginan Juju bila malam tidak segera berganti pagi. "Kamu yakin dengan cara kamu jadi TKW bisa berangkat haji Sabrina?" dua tangan Sabrina mendarat di wajah Juju tetap tetesan air mata ketika dua tangan dengan sapuan hangatnya menyeka air mata.
"Aku yakin, Bu. Malahan aku semakin yakin, semakin percaya bila ini jalannya dari, Allah. Mungkin dengan jalan aku jadi TKW, aku bisa lebih mudah bertandang kerumah Allah. Ya, walau hati kecilku saat ini berkata, apakah aku bisa? Tapi aku yakin, Bu. Hanya doa Ibu, yang bikin aku yakin semakin yakin sekarang ini" pelukan semakin erat, semakin tertutur ucapan dari bibir kecil Sabrina sudah bercampur basah dengan derain air matanya.
Tapi kali ini malahan dua tangan Juju mendarat halus penuh kelembutan pada wajah Sabrina semakin berlinang derai kesedihan air matanya. Hatinya mulai terpancing kesedihan, apakah dirinya bisa rela meninggalkan Juju seorang diri. selama dirinya berada di Arab Saudi. Apakah Sabrina bisa memenuhi undangan Allah dan apakah dirinya bisa melancarkan nita tulusnya, semua itu hanya rahasia Allah.
"Hanya doa yang akan selalu Ibu panjatkan pada Allah, tuk'mu Sabrina. Walau pastinya tidak semudah dan tak selancar niat ketulusan keinginanmu ketika berada di sana. Yakin dan semakin yakin hatimu penuh ketulusan, bila kamu bisa memenuhi undanganNya" penuh keyakinan terucap dari bibir penuh keyakinan Juju jempol kiri kanannya menyeka dua mata Sabrina kembali memeluk erat lagi.
Segera dua tangan Juju melepaskan Sabrina sesaat melirik apa yang akan di lakukan Juju berjalan menghampiri lemari tanpa bercermin. Sesaat Sabrina hanya tersenyum walau masih tersirat kesedihan, bila esok hari dirinya akan segera pergi meninggalkan Juju buat sementara waktu, tapi pastinya akan memakan waktu yang sangat lama dan penuh kesedihan. Walau ketulusan doa Juju pasti akan menyertai niat Sabrina, tapi pastinya juga tidak akan semudah harapannya akan selancar niat untuk segera berada di Rumah Allah.
Sinar rembulan sangat indah sekali sinarnya, kedipan jutaan pijaran bintang makin menghiasi lagit malam. Sungguh anggun nan penuh keindahan ciptaan Sang Pencipta, Pemilik Dari Segalanya yang ada di dunia ini. Pastinya kita harus mensyukuri segala dan menjaganya terlebih harus selalu berkeyakinan bila malam atau siang, sama saja akan membawa keindahan dan kedamaian.
Apa yang sudah ada di tangan Juju, Sabrina belum tahu. Dirinya hanya tersenyum seraya tidak jenuh-jenuhnya menikmati keindahan langit malam, sinar bulan saja masih menyinari wajahnya makin terlihat cantik. "Ibu tidak bisa membantumu, Sab. Apalagi buat nambahi ongkosmu di jalan. Ibu hanya bisa kasih ini untukmu" sontak berbalik Sabrina dua matanya makin terasa tidak bisa menahan keharuan makin cepat di tetesi air mata.
Dua tangan Juju menyodorkan Ihram, kilauan putihnya makin bikin dua mata Sabrina makin silau makin berkaca-kaca sedih dan cepat memeluk lagi Juju. Juju sempat terpancing sedih, tangan kanannya tetap pegang kain Ihram dan tangan kirinya membelai pundak belakang Sabrina.
"Dulu kain Ihram ini sebenarnya untuk Ibu berangkat haji, akan tetapi Allah mungkin belum mengundang Ibu agar datang kerumahNya. Tapi Ibu yakin, kain Ihram ini Ibu berikan padamu dan bisa kamu pakai saat kamu berada di Masjidil Haram, Ka'bah" kini dua tangan Sabrina makin memeluk erat Juju semakin tidak berdaya dirinya perlahan mendorong Sabrina mundur selangkah.
Kain Ihram di peluk erat Sabrina semakin dalam erat mendekapnya, saat di berikan Juju. "Ibu yakin, Allah akan tepati janjinya" hanya tetesan air mata jawaban dari Sabrina semakin haru dengan segala doa keyakinan Juju.
"Tapi Bu? Masih ada yang aku cemaskan?" tatapan kosong dua mata Sabrina seklias menatap wajah masih sedih dan sendu Juju tahu apa yang sedang mengalungi hati dan perasaan cemasnya Sabrina. Juju lantas hanya duduk di atas dipan seraya dirinya ingin memancing Sabrina agar terduduk juga di sampingnya.
"Tadi siang Bu Ratih datang, dia cuman mastikan saja tentang rencana kalian berdua? Tapi untung saja Beliau sangat bijaksana sekali, ndak memaksa kamu. Bu Ratih tahu, bila kamu ingin sekali berangkat haji. Beliau juga tadi menawarkan bantuan, tapi Ibu menolaknya. Pastinya juga kamu ndak mau menerima bantuannya" terasa hangat terbaring wajahnya Sabrina mendarat di pangkuan dua pahanya Juju terbentang di atas ranjang terbalut kain lurik bermotif kembang sedap malam dengan dasar kain warna coklat.
Tidak hentinya tangan kirinya Juju membelai rambut dan tangan kanannya terus mengelus wajah Sabrina makin terguncang hatinya semakin ada rasa serba salah. "Tapi, Bu?" "Kamu yakinkan saja niatmu, Sab. Masalah pernikahanmu dengan Ricky. Kamu sandarkan selalu pada Gusti Allah. Bila Ricky memang jodohmu, pastinya dia akan selalu setia menunggu. Tapi bila Ricky bukan jodohmu, dia pasti tidak akan lagi menunggumu. Jadilah bulan yang selalu bersinar terang, selalu di rindukan banyak orang" mungkin Juju makin tahu sikap keras Sabrina, walau hatinya semakin gamang pergi meninggalkan Ricky.