Kesungguhan & Ketulusan
"Prug, prug ..." suara dua langkah kaki penuh kesungguhan dan ketulusan terbungkus sepatu kets putih bertali di atas dermaga kiri kanannya sesak sekali dengan kapal cargo besar sedang bersandar. Wajah penuh kesungguhan dan ketulusan makin tersirat keyakinan dalan benaknya Sabrina, tapi lagi-lagi raut wajahnya makin di buat bingung berdiri di tengah dermaga besar.
Celana jeans serta kemeja lengan panjang merah tua, tetap tidak ketinggalan hijab setia berwarna merah mudah selalu membalut aura wajah dan kepalanya. Napas sedikit ngos-ngos'an karena habis berlari cepat seraya sedang di kejar penuh keyakinan tapi belum tentu apakah dengan keyakinannya Sabrina bisa sampai di Rumah Allah.
Dari atas kapal yang sebentar lagi akan segera berjalan meninggalkan pelabuhan Tanjung Perak, tampak terlihat sibuk seluruh awaknya sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Rantai sauh jangkar besar terangkat dari bawah, sangat ringkih sekali suaranya. Riak ombak di hasilkan dari baling-baling belakang pendorong kapal, terlihat berputar sangat kencang sekali sampai menghasilkan ombak besar.
Sekilas wajah tampan Hasan melihat wajah kebingungan Sabrina sesaat menatapnya, mungkin bukan wajah tampan Hasan yang bikin Sabrina tersenyum, tapi terbesit ada sesuatu di dalam pikirannya. Sontak langkah dua kakinya makin kembali cepat berlari sambil pundak kiri kanannya menggemblok tas ransel hitam besar ikut bergerak saat semakin cepat langkah kakinya berlari menuju kapal yang sebentar lagi akan berlayar.
"Aku harus naik kapal itu" guman makin cepat degub jantung Sabrina semakin dirinya mendekati kapal yang sebentar lagi akan berlayar dengan sudah banyak containert tersusun rapi berada di setiap dek. "Tunggu ... tunggu ..." teriak Sabrina saat naiki anak tangga ketika tangga menuju keatas otomatis akan di dorong oleh petugas kesyahbandaran.
"Hei ..." lerai petugas kesyahbandaran dengan cepat menarik kaki kiri Sabrina, sontak saja kaki kananya menendang wajah petugas kesyahbandaran mundur. Semakin cepat kapal akan berjalan, hampir terjatuh Sabrina hanya berpegangan peyanggan besi. "Ya Allah!" ketakutan Sabrina melihat dirinya tergangtung hanya berpegangan besi peyangga, sedangkan kapal makin bergerak berjalan dan di bawahnya bila dirinya terjatuh maka lautan akan jadi rumah terakhirnya.
"Toot ... toot ..." suara klakson kapal sontak makin bikin terkejut ketakutan Sabrina, dua tangannya semakin berusaha keras berpegangan peyangga besi agar dirinya tetap selamat dan tidak terjatuh kepermukaan lautan. "Haii ... kamu ..." teriak lagi petuas kesyahbandaran ikut panik bila di lihat dari raut wajahnya masih melihat Sabrina masih bergelantungan berusaha naik keatas dek kapal.
"Ya Allah, bila ini kesungguhanku penuh ketulusan untuk tetap yakin sampai berada di RumahMu. Bantu dan tolonglah aku, Ya Allah" semakin tidak kuat lagi Sabrina menahan dirinya masih bergelantungan di peyangga besi dek kapal makin bergerak cepat berjalan meninggalkan pelabuhan. Semakin ada rasa ketakutan ketika dua matanya melihat gelombang riak ombak makin besar di bawahnya. Dua tangannya semakin berat menahan berat dirinya, wajahnya semakin pucat berapa sesaat masih bergelantungan.
Tapi tiba-tiba tangan kirinya di lepaskan dan segera pundak kirinya melepaskan tali tas ransel besarnya, lalu tangan kirinya bergantian berpegangan lagi. Tidak tahu apa yang akan di perbuat Sabrina, ternyata setelah bahu kanannya melepaskan tali tas ranselnya. Ransel segera di lepaskan dan tercebur sudah di siap mengangah mulut besar tiada tara lauatan lepas melahap tas ransel miliknya.
Beban dua tangannya makin berkurang, walau ada perasaan sedih karena dalam tas ranselnya banyak perbekalan, pakaian, uang serta dokumen yang pastinya akan di butuhkan Sabrina selama nanti berada di Arab Saudi. Hanya sedih dua matanya melihat tas ranselnya menari-nari di atas riak gelombang ombak, mungkin hanya itu yang bisa di perbuat Sabrina agar dua tangannya tidak terlalu berat menahan beban.
"Luasnya lautan ini akan tetap aku seberangi, aku yakin niatan tulus ini akan sampai nantinya di Rumah Allah" makin yakin walau mulai kedua tangan Sabrina mulai terasa lelah menahan beban dirinya masih bergelantungan di peyangga besi dek. Langit main cerah, makin terasa sepi dirinya berada di atas kapal tengah lautan yang tidak seindah bayangan Sabrina.
"Aku semakin yakin, ketika saat ini aku masih berada di bawah. Aku selalu penuh kesungguhan dan ketulusan bersujud memohon padaNya. Pasti niscayanya janjiNya pasti akan di tepatinya, terlebih ketika nanti semua janjiNya itu sudah di tetapi dan aku berada di atas. Aku pastinya akan selalu bersyukur dan mengingat padaNya selalu. Dan aku yakin apa yang sedang aku alami saat ini, adalah perjuangan yang belum terhenti, masih banyak aral rintangan di sana. Ini semua karena karena kehendak Allah" dua matanya terpejam sesaat seraya berdoa di sertai kesungguhan dan penuh ketulusan tetap kedua tangan Sabrina masih bergelantungan di atas peyangga besi dek.
Berapa kali dua tangannya mencoba mengangkat tubuhnya, mungkin saja Sabrina berpikir dirinya sudah membuang tas ranselnya agar beban terasa ringan. Tapi tetap saja yang di lakukan Sabrina sia-sia saja, karena dua tangannya semakin lelah dan tidak bisa mengangkat tubuhnya lagi walau hanya sekedar wajahnya melongok keatas dek kapal.
Makin pasrah Sabrina bergelantungan di atas besi peyangga dek kapal, walau kedua tangannya makin tidak kuat berpegagan menahan tubuhnya. Makin kelihatan kepasraan dari wajahnya, bila sewaktu-waktu dua tangannya terlepas dan siap-siap saja lautan luas akan melahap tubuhnya.
"Mungkin ini sudah jadi kehendaknya Allah, aku harus menerima kenyataan pahit bila aku harus berpisah dari Nisa. Saat ini yang harus aku lakukan adalah kesungguhan penuh ketulusan hati ini untuk mendapatkan apa yang sedang aku cari selama ini" guman makin yakin penuh senyuman Hasan berdiri di atas dek.