Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #13

Part #13

Apakah Ini?

Sesaat dua pasang mata hanya saling memandang saja, secara dalam hati mereka berdua semakin tertegun hanya saling menatap. Hasan tidak lantas cepat menolong, walau dua tangannya sudah meraih dua tangan Sabrina malahan juga seraya hatinya semakin tertegun melihat ketampanan wajah Hasan.

"Hai! Hai kamu! Cepat tolongin saya jangan diam saja!" "Prug" seolah-olah ketampanan wajah Hasan jadi bikin magnit tertegun terkasimanya Sabrina sampai-sampai dirinya baru sadar sejak sedari tadi Hasan cuman memandangi wajahnya saja tidak cepat menolongnya. Sontak saja tangan kirinya Sabrina di layangkan memukul pipi Hasan baru terdasar terbangun sesaat terbawa kealam sadar melihat kecantikan Sabrina.

"Kamu? Kamu ngapaian di sini? Uhhh ... Berat juga kamu!" berusaha sekuat tenaga Hasan dengan dua tangan menarik Sabrina. "Yoga ... Yoga ..." mungkin saja dua tangan Hasan belum bisa mengangkat tubuh Sabrina masih tergantung bergelayutan di besi peyangga dek. Tetap saja teriakan panggilan Hasan memanggil sesorang belum datang juga. Hampir saja dua tangan Sabrina terlepas dari jeratan dua tangan Hasan masih berusaha menarik setengah tubuhnya membungkuk kebawah.

"Ihhhh ... Hampir aku terjatuh! Cepat! Cepat tolong angkat saya keatas!" sedikit terkejut Sabrina hampir terjatuh kehamparan lautan luas semakin membiru. Makin panik dan cemas tergambar di wajah Hasan, dirinya berusaha menolong ingin Sabrina.

"Kapten!" datang seorang awak kapal, mungkin itu Yoga yang tadi berapa kali di panggil Hasan baru datang. "Yoga! Cepat bantu saya!" cepat dua tangan Yoga menarik tangan kiri Sabrina, sedangkan dua tangan Hasan menarik tangan kanan Sabrina mulai terangkat.

"Ini kenapa ada wanita di sini, Kap?" berusaha sekuat tenaga Yoga menarik Sabrina sedikti terangkat. "Sudah jangan banyak tanya!" semakin terangkat Sabrina, semakin Hasan tidak mau mendengar Yoga terus banyak bertanya.

"Hahh ... Akhhhh ..." sontak terangkat Sabrina, Yoga terjatuh akan tetapi Hasan seperti kejatuhan sesuatu dari langit menimpah menindih tubuhnya. "Auw!" menahan rasa dada Hasan sesaat pejamkan dua matanya, akan tetapi malahan Sabrina dirinya sesaat juga seperti memanfaatkan tubuh Hasan terbaring sebagai kasur empuk, tetapi wajahnya terus memandangi ketampaan.

"Apakah ini jawaban dari?" "Heh kamu ngapain nindihin saya? Sana kamu!" sesaat Sabrina menindih tubuh Hasan sambil berguman senyum dalam hati. Sontak dua tangan Hasan mendorong kiri kanan bahu Sabrina juga spontan ikut terkejut dan tersenyum malu.

"Heh loe ngapain gelantungan di situ? Terus kenapa loe bisa sampai gelantungan tadi, kayak monyet?" menahan sakit pinggang Yoga, tangan kanannya berapa kali terlihat seraya sedang memijat kecil. "Kap, jadi gimana ini? Apa nanti kita turunin aja di pelabuhan berikutnya?" masih menahan sakit pinggangnya Yoga bertanya tapi cuman di cuekin Hasan hanya menatap wajah sedih Sabrina, apakah sedang bersandiwara atau memang sedang sedih benaran.

"Saya mohon jangan turunin saya?" "Tapi loe ngak tahu kapal ini mau kemana'kan?" seraya memohon Sabrina agar dirinya tidak di turunkan, tetapi Yoga semakin tidak bisa menahan marahnya mungkin saja Sabrina naik kapal diam-diam. Mungkin itu yang membuat Yoga khawatir, bila terjadi sesuatu pada Sabrina tentu saja tanggung jawab Hasan, sebagai kapten kapal akan di pertaruhkan.

"Kapal ini, kapal cargo pengakut containert dan bukan pengakut orang. Nanti sebaiknya kamu turun saja di pelabuhan berikutnya, saat kapal ini bersandar" lirikan dua matanya Hasan melirik pada Yoga rada sinis menatap semakin sedih tergurat bingung, bila dirinya benar akan segera di turunkan Hasan saat nanti tiba di pelabuhan berikutnya.

Terduduk dengan dua kaki berdeku seraya memohon belas kasihan Hasan terpancing iba sedih. "Yoga?" walau Hasan seorang kapten dirinya juga tidak bisa mengambil keputusan, mungkin saja sejak dirinya jadi kapten kapal baru kali ini kapal yang di nakohdahi di naiki seorang wanita diam-diam. "Keamanan dan keselamatan semua awak kapal ini dan segalanya, bisa saya putuskan. Terlebih dengan cuaca alam di tengah lautan ini, kemana saya harus tentukan arahnya, itu juga saya yang ambil keputusan. Karena semua itu tanggung jawab saya. Tapi masalah seorang wanita diam-diam sudah naik kapal ini, baru terjadi di kapal yang saya nakohdahi. Yoga, kamu urus dia" sebenarnya ada rasa kasihan dalam hatinya Hasan, akan tetapi untuk masalah yang satu ini dirinya tidak bisa mengambil keputusan.

Lihat selengkapnya