Dua Hati Mulai Jatuh Hati 1
"Ayo lekas di makan. Makanan dan minuman ini tidak beracun" berapa langkah Yakop berjalan kesamping, lalu dirinya duduk di pelataran dek. Wajah tua makin terlihat hampir terbalut mengeriput, rambut putihnya saja tertutup dengan topi khas seorang juru masak. Serba putih seragam berlengan panjang, dengan di lapisi apron hitam membalut setengah tubuh tua.
Yakop terduduk hanya tersenyum perhatikan Sabrina masih ragu ingin makan, walau perutnya sejak dari tadi sudah memanggil lapar keroncongan. "Kapal ini akan berhari-hari berada di atas lautan luas ini tidak tahu di mana ujung halunya. Terkadang bila cuaca dan langit sedang bersahabat dengan lautan ini, maka kapal ini akan berjalan semulus seperti berada di tumpukan kapas putih nan halus. Tapi bila cuaca sedang buruk dan langit sedang murka menunjukan arogannya, terkadang dia marah dengan sekejab menghempaskan menggoyangkan kapal sebesar ini dengan riak ombaknya yang ganas sekali" sedikit bertutur Yakop seraya dirinya memberitahukan Sabrina tentang sebenarnya keadaan di tengah lautan lepas.
Panggilan perut yang semakin lapar, makin bikin Sabrina tidak bisa menahan sepertinya lezat sekali masakan Yakop, juru masak kapal cargo yang di nakodahi Hasan. Terduduk di depan Yakop hanya tersenyum perhatikan makan Sabrina lahap sekali makan. Itulah penghargaan seorang juru masak, bila melihat seseorang sedang makan apalagi sampai lahap, berarti apa yang di masaknya dengan segenap hati benar-benar lezat dan enak.
Sempat tersedak Sabrina, cepat tangan kanan Yakop mengambil segelas air putih juga cepat di teguk Sabrina. Mereka berdua seperti sedang terduduk di tepian pantai lautan luas, hamparan riak tenang gelombang biru hanya terhalang bahu kapal dengan peyangga besi tingginya. Langit cerah semakin yakin, bila sebentar lagi dirinya akan segera berpamitan pulang. Pulangnya sinar matahari terik sudah mulai di buai dengan awan kelabu di sertai sinar kuning dari upuknya, tandanya siang akan segera berganti dengan gelapnya malam.
"Kamu kenapa bisa naik kapal ini diam-diam?" "Saya, Sabrina?" belum habis pertanyaan Yakop sudah di potong Sabrina menjawab menyebut namanya sambil sekali meneguk lagi air dalam gelas yang tersisa sedikit.
"Cakep sekali namamu, Sabrina. Seperti wajahmu yang cantik itu terbalut kerudung. Pastinya hati dan dirimu soleha sekali?" sontak terurai kesedihan di dua mata Yakop tidak tahu kenapa, sempat bikin bingung Sabrina perhatikan wajah Yakop cepat beranjak bangun sambil sesaat membungkuk dan dua tangannya mengambil piring tidak tersisa sama sekali makanan, apalagi gelas sapai tiris sekali.
"Pak?" tidak sempat dua tangan Sabrina mengambil piring dan gelas sudah di ambil duluan Yakop. "Saya Yakop. Saya juru masak kapal ini. Panggil saja, saya Pak Yakop" berusaha mengalihkan kesedihanya Yakop cepat akan meninggalkan Sabrina malahan berjalan cepat mendahuli Yakop terhenti hanya tersenyum perhatikan wajah Sabrina.
"Melihat wajah kamu, Sabrina. Saya jadi teringat anak saya? Pastinya saat ini dia sangat merindukan saya. Inilah konsukwensi bila bekerja di atas kapal, yang pulang saja tidak tahu kapan. Pastinya kapal ini akan berada di lautan selama berhari-hario bah'kan berminggu-minggu dan berbulan-bulan lamanya" sedikit lega sepertinya Yakop sedikit curhat pada Sabrina, ternyata Yakop rindu dengan anak gadisnya.
Sebenarnya Sabrina akan menjawab kenapa dirinya sampai nekad berada di kapal ini, tapi lagi-lagi Yakop seakan ingin meluapkan kerinduannya pada anak gadisnya saat melihat dirinya. "Pastinya juga anak gadis, Pak Yakop lebih cantik dan sholeh dari saya?" mulai menyahut Sabrina tetap sedikit merendah diri.
"Pak Yakop?" tidak jadi jalan lagi langkah Yakop terhenti saat di panggil dengan suara pelan Sabrina. "Kalau boleh saya tahu, kapal ini hendak berlabuh di mana lagi, Pak?" lantas tidak menjawab Yakop, dua matanya hanya memandangi langitan mulai datang awan gelap tandanya malam akan segera datang. Lirikan mata kanan Yakop tidak sengaja melihat kearah jendela, sudah berdiri Hasan akan segera melakukan sholat Magrib.
Sesaat dua mata Sabrina mencuri melihat kearah Hasan mulai mengucapkan niat di dalam hati, terlihat bibirnya bergerak, serta mulai mengucapkan takbirotul Ihram dan membaca surat Al-fatihah. "Kapal cargo ini terakhir akan bersandar di pelabuhan Jeddah, Arab Saudi" tersenyum Yakop menjawab lalu dua langkah kakinya mengajak menuruni anak tangga menuju ruangan geladak bawah kapal, mungkin saja dapur tempatnya selama ini memasak untuk keperluan awak kapal berada di geladak bawah kapal yang cukup besar sekali.
Serasa terpaku dua kaki Sabrina dan dua matanya tidak henti-hentinya terus memandang Hasan, yang kini sedang rukuh dan tumaninah. Langkahnya semakin berani, semakin dua kakinya mengajak mendekat berdiri di depan jendela yang tidak bertirai itu. Lagi-lagi wajah Sabrina hanya tersenyum kagum kini melihat Hasan sedang membaca iktidal setelah rukuk dan tumaninah di lanjutkan sujud dua kali.