Dua Hati Mulai Jatuh Hati 2
"Waktunya Sholat Magrib. Kamu tidak akan bisa menunda waktunya Sholat, bila telah datang waktunya. Bila waktunya Sholat itu pergi, pastinya kamu telah kehilangan kesempatan untuk dekat denganNya" seraya Hasan ingin meminta Sabrina segera melaksanakan Sholat Magrib, berbalik Sabrina sedikit terpaku dengan ketampanan wajah Hasan.
Hanya saling menatap dua pasang mata, seakan benar bila pandangan pertama itu akan mendatangkan cinta. Terlebih status Hasan baru saja di tinggal kawin Nisa, karena tidak sabaran menunggu Hasan yang notabend sebagai seorang pelaut. Dan Sabrina kini dirinya jauh sekali, mungkin dirinya saat ini sednag terpisah dengan Ricky, bukan jaraknya yang sedikit. Tapi Sabrina dan Ricky terpisah dengan lautan terbentang luas, yang tidak tahu di mana ujungnya.
Kapal terus berjalan senyap membela riak ombak tenang beratap langit terang karena cahaya sinar bulan dan kiluan jutaan bintang menerangi hamparan lautan. Hanya diam membisu tumpukan ratusan containert yang tidak tahu akan di kirim kemana. Semakin pekat asap outih terus keluar membumbung tinggi membela langitan keluar dari cerobong besar, pastinya jantung mesin kapal semakin extra cepat berkerjanya.
Seragam putih tentu masih membalut tubuh Hasan semakin gagahnya dirinya dengan masih mengenakan kopiah hitam dengan sepatu hitam pantopelnya. Kumis tipis memayungi bibir kecilnya, dengan jambang halus menjuntai sisi kiri kanan sebagai penambah ketampanannya. Tatapan senyuman manis makin bikin terkuliknya perasan hati Sabrina hanya masih diam menatap lelaki yang di panggil kapten itu.
"Maaf, tadi dengan sikap Yoga. Yoga memang begitu kalau melihat orang asing yang datang diam-diam. Apa lagi ada orang yang naik kapal ini dengan cara menyelinap" lembut sekali tutur kata Hasan memberitahukan siapa Yoga, tetapi tetap saja dua matanya masih mencuri kecantikan Sabrina makin tersipu malu bila dirinya terus di pandangi.
"Kamu sudah makan? Ohh iya. Saya Hasan, kapten kapal ini" mulai ada perhatian terucap dari bibir tipisnya Hasan, tapi tetap dirinya masih menjaga etika sebagai seorang kapten, sambil tangannya mengulurkan pada Sabrina.
"Sudah. Tadi, Pak Yakop yang memberikan makanan buat saya. Saya, saya Sabrina" jawab Sabrina sambil mengulurkan tangannya juga, lalu dua tangan bersalaman sebentar. "Maaf, bila saya tadi sudah membuat kamu dan Yoga jadi panik" terasa tidak enak Sabrina merasa bersalah berbalik lagi-lagi dua matanya hanya memandangi riak tenang lautan seperti pantulan cermin besar terlihat jutaan kilauan bintang dan sinar rembulan.
"Lautan ini luas sekali, tidak tahu di mana ujungnya. Lihat itu jutaan bintang dan rembulan itu, seakan sangat dekat sekali bila di lihatnya dari atas kapal ini. Tapi saat kita akan mendekatinya, maka secepat apapun kapal untuk mendekatinya, bulan dan jutaan bintang itu akan segera pergi, karena pastinya siang sudah menunggunya. Begitu juga dengan umur kita, semakin hari semakin bertambah dan pastinya waktu hidup kita di dunia semakin berkurang. Begitu juga dengan kamu, Sabrina. Begitu juga kesempatan kamu untuk menjadi sahabat setiaNya Allah akan segera berakhir, walau kamu sekarang hanya mengulur-ngulur waktumu hanya untuk menjalakan Sholat Magrib" seraya menyindir dengan halus Hasan hanya tersenyum melirik Sabrina sedikit kelabakan bingung.
"Ruangan itu, memang untuk Sholat awak kapal" sesaat langkah Sabrina terhenti setelah di tunjukan ruangan jendelanya tidak bertirai, yang mana tadi Hasan melakukan Sholat Magrib. "Terima kasih, kapten" sahut Sabrina dengan penuh senyuman sembari dua langkah kakinya pastinya menuju ruangan yang memang di khususkan untuk Sholat.
"Tapi mukenah?" "Pakai saja mukenah di dalam ruangan itu" terhenti lagi dua kaki Sabrina pikirannya baru sadar bila tasnya tadi sengaja di jatuhkan kelauatan saat dirinya bergelantungan di besi peyangga. Hasan tahu bila Sabrina memang naik kapal menyelinap dan tidak membawa apapun, begitu lembut terucap penuh perhatiannya Hasan tahu apa yang sedang di pikirkan Sabrina.
"Cinta setia seseorang pada pasangannya pastinya tak'kan pernah setia selalu, pastinya akan selalu ada celah untuk mengingkari. Tetapi cinta setiaNya Allah tidak pernah mengikari pada setiap hambanya yang tulus sesungguhnya percaya dan pastinya Allah selalu menepati janjinya dengan penuh ketulusan dengan kesetiaannya" tidak tahu kenapa sampai terbesit pikiran seperti itu dalam hatinya Hasan, atau karena dirinya baru saja mengalami kenyataan ketidaksetiaan cinta.
Tatapan dua mata berkaca sendu penuh kekaguman terus memandangi Sabrina sudah terbalut dengan mukenah putih pinjaman, saat dirinya mulai akan melaksanakan Sholat Magrib. Penuh decak kagum masih menggelayuti dua mata sampai turun kehatinya Hasan, semakin memuji kecantikan wajah Sabrina seraya sedang memuji Sang Pecipta dengan segala lantunan doa.