Putus Asa itu Mulai Datang
"Bangun! Cepat Bangun!" bentak sambil menarik mukenah Yoga makin meradang kesal melihat Sabrina masih meringkuk tergeletak di lantai ruangan khusus Sholat beralas karpet hijau dan masih mengenakan mukenah putih. "Hehh! Loe bangun udah siang ini!" kesal Yoga membangunkan lagi sambil membentak Sabrina masih tergeletak belum bangun juga.
Padahal di luar, awak kapal sudah sibuk dengan segala tugas dan pekerjaannya masing-masing. Mungkin saja Yoga, yang dirinya sebagai asisten captain kapal cargo punya wewenang juga untuk marah dengan segala yang tidak di sukainya. "Ihhh apaan ahh!" kesal Sabrina menghentakan tangan Yoga saat menarik ujung mukenak yang menutupi kedua kakinya Sabrina.
"Ini udah siang! Loe ngak bisa diam enak-enakan aja tiduran! Sebentar lagi loe harus turun di pelabuahan terdekat saat kapal ini sebentar lagi akan bersandar!" sontak cepat bangun Sabrina mungkin saja dirinya takut bila akan di turunkan pada pelabuhan berikutnya saat kapal akan segera bersandar.
"Jangan, jangan turunin saya" seolah-olah memohon seraya duduk berdeku setengah bersujud Sabrina memohon, walau dirinya serendah itu di hadapan Yoga. Mungkin itu tidak mengapa bagi Sabrina agar dirinya tidak di turunkan di pelabuhan berikut, hanya dirinya demi sampai di Arab Saudi.
"Loe harus turun di pelabuhan berikutnya!" tegas Yoga sambil telunjuk tangan kanannya menunjuk wajah Sabrina mulai sedih makin di rasuki ketakutan bila ketegasan Yoga pastinya akan menghalangi dirinya untuk tidak bisa berlabuh di Arab Saudi.
"Saya mohon jangan turunkan saya. Saya ingin tetap ikut kapal ini sampai di Arab" rada bingung juga Yoga mendengarkan ucapan Sabrina sambil dua tangannya cepat meraih dua kakinya Yoga cepat mendorong Sabrina mundur. Betapa hina dan rendahnya Sabrina sampai segitu meohon pada Yoga agar dirinya tidak di turunkan pada pelabuhan berikutnya, hanya karena dirinya ingin sekali memenuhi undangan Allah.
"Yoga" tidak jadi Yoga akan menarik ujung mukenah Sabrina saat terdengar suara Hasan melarainya sudah berdiri di depan pintu ruangan khusus Sholat. "Gadis ini tetap akan kita turunkan, kap! Karena manifestnya tidak ada dalam dokumen perjalan kapal cago ini!" sahut Yoga seakan dirinya penuh tanggung jawab dengan semua awak dan muatan kapal.
"Saya mohon kapten agar tidak menurunkan saya pada pelabuhan berikutnya. Saya mau kerja apa saja, asal saya bisa ikut sampai di Arab Saudi. Tidak apa-apa saya menyapu dan membantu bersih-bersih atau membantu Pak Yakop di dapur juga tidak apa-apa" segitu hina dan merendahnya Sabrina memohon dirinya pada Hasan tidak enak hati mundur saat dua tangan Sabrina akan meraih dua kakinya berusaha memohon pada dirinya.
"Tidak bisa! Loe harus tetap turun dari kapal ini!" memang tegasnya Yoga terkenal oleh awak kapal cargo yang saat ini berjalan di lautan beratap langit terang dan cerah terlihat dari jendela ruangan khusus Sholat. "Tidak mengapa selama saya bantu bersih-bersih dan bantu Pak Yoga di dapur. Saya rela, tidak di bayar atau di beri makan. Asal saya tetap berada di kapal ini dan sampai di Arab Saudi" benar-benar kali ini air mata sudah menetes jatuh basahi pipi Sabrina seraya makin memohon pada Yoga hanya diam melirik Hasan.
"Ya sudah kamu sekarang bantu, Pak Yakop di dapur sana" cepat bernajak bangun Sabrina sambil melepaskan mukenah dari tubuhnya ketika mendengar apa kata Hasan yang mengizinkan dirinya untuk tetap berada di atas kapal. "Sudahlah, Yoga. Kamu ngak boleh begitu juga. Walau gadis itu ngak ada manifest dokumen perjalannya. Apa salahnya kita bantu dia" menahan marah Yoga lagi-lagi Hasan seakan sudah terhasut dengan kecantikannya Sabrina.
"Terserah loe deh, San!" sahut Yoga beranjak jalan keluar. Hasan hanya berdiri di ruangan khusus Sholat, lalu bungkukan setengah badannya mengambil mukenah yang tadi di pakai Sabrina. Dengan senyumannya dirinya lalu melipit mukenah dan di letakan pada lemari kecil. Lirikan dua matanya melihat kearah luar jendela, semakin cerah langit memayungi lautan membiru dengan ombak tenangnya membawa kapal berlayar.
Sengaja sekali dua kakinya Yoga beralas sepatu pentopel hitam meninggalkan jejak kotor di atas lantai ruangan anjungan. Padahal sebagian lantai ruangan anjungan sudah di bersihkan dan di pel Sabrina, dengan tatapan sinis Yoga berdiri melirik Sabrina kembali membersihkan jejak sepatunya. Tapi tidak pada Hasan yang diam-diam mencuri lirikanya melihat kearah Sabrina masih tidak sadar, bila ada seorang lelaki yang begitu berbaik hati seraya melindungi dirinya dari kemarahan dan ketidaksukaan Yoga.