Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #17

Part #17

Sabar & Keteguhan

Lirikan dua mata sinis Yoga perhatikan Sabrina yang sebentar-sebentar tangan kirinya pegangi perutnya, berarti panggilan perutnya yang masih terus mengamen kelaparan keroncongan makin menjadi. Gagang pel terjatuh kelantai, menahan tidak marahnya Yoga semakin menahan kesalnya juga melihat sikap Sabrina malahan mencuri senyuman melirik Hasan.

"Loe bisa kerja ngak?!" cepat dua matanya Sabrina mengalihkan kedepan tersekat kaca, gelombang lautan cukup tenang makin teduh dua mata Sabrina cepat tangan kanannya mengambil gagang pel lagi. Ada rasa masa bodoh dengan sikap Yoga, yang memang sikapnya tegas sudah berdiri membelakangi Hasan dua tangannya tetap fokus pegang kemudi kapal. Sontak terdiam Yoga, dua matanya berbinar berkaca melirik kearah Sabrina, ada rasa terpancing mulai sedikit ada rasa kasihan.

"Allah memberiku hidup dengan setiap helaan napas yang saat ini masih kurasakan. Dan pastinya Allah juga memberikan dua sipat mulia padaku. Al-Hilm, ada pada diriku tidak cepat marah dan membalas kemarahan bila ada orang yang marahiku. Al-Anaah, tidak tergesa-gesa untuk membalaskan setiap ketidak sukaan orang terhadapku, aku lebih baik berpikir untuk diam dan tidak berpikiran tergesa-gesa untuk membalas kemarahmu itu!" halus tapi dalam terucap dari bibir Sabrina rasanya menusuk hatinya Yoga terdiam sesaat hanya berdiri perhatikan langkah keluar Sabrina dari dalam ruangan anjungan

Ikut teriris juga perasan hati Hasan ketika mendengar sindiran halus Sabrina buat Yoga sempat melirik malu padanya. "Sudahlah Yoga, kamu jangan terlalu keras dan kasar pada gadis itu. Kasihan juga'kan dia" Yoga tidak menjawab apa kata Hasan yang serasa semakin hatinya mulai merekah untuk segera di sirami calon benih cinta yang tidak pasti. Yoga sontak beranjak keluar dari ruangan anjungan, tapi tidak pada Hasan hanya tersenyum perhatikan Sabrina mengelap kaca anjungan dari sisi kiri.

Tidak malu-malu pandangan mata Sabrina pandangi wajah tampan Hasan, walau mereka berdua tersekat kaca besar anjungan. Ada rasa keyakinan makin membelenggu perasaan Hasan, lihat saja dua matanya mungkin sudah menuruni sampai hatinya. Bila Hasan makin jatuh hati pada Sabrina, yang tentu saja moment ini tidak akan di sia-siakan Sabrina. Bila dirinya harus mencari perhatian Hasan, agar dirinya tidak di turunkan pada pelabuah berikutnya.

Walau rasa lapar perutnya makin terus mengajak mengamen lagu kepalaran, tapi hatinya harus tetap mengajak riang sambil tangan kirinya terus mengelap kaca anjungan. Tanpa di sengaja saat kedua kakinya jingkeh saat akan mengelap kaca bagian paling atas. "Auw!" terjatuh Sabrina, dengkul kaki kirinya terbentur lantai.

Spontan Hasan meninggalkan ruangan anjungan, dan kemudi kapal di berikan pada asisten kapten yang memang sejak dari tadi ruangan anjungan ada berapa asisten kapten. Dengan kepastian langkah dua kakinya cepat menghampiri Sabrina, siapa tahu saja saat hatinya Hasan ketika saat ini ini sedang merekah maka akan di siram air cintanya Sabrina.

"Sab?" baru saja Hasan akan menolong Sabrina sudah beranjak bangun berdiri, walau masih terasa sakit. Asisten kapten sedikit tersenyum perhatikannya dari sekat kaca anjungan, serasa dirinya tahu apa yang sedang di lakukan Hasan pada Sabrina. Kapal terus berjalan di atas permukaan tenangnya air laut, semakin membiru hamparan gelombang kecil mendorong kapal cargo besar bermuatan containert besar yang beraneka warna.

Langit seakan ikut bahagia dengan cerahnya awan putih, sinar matahari berkilau memantulkan serpihan riak-riak kecil gelombang air lautan dari kejauhan. Gagang pel masih di pegang Sabrina dan ember berisi air sisa masih di tenteng Hasan. Mereka berdua berdiri di depan haluan kapal (bow), serasa angin makin membelai halus wajah mereka berdua. Sempat bareng ada ada rasa malu, ketika Hasan dan Sabrina sama-sama barengan meletakan gagang pel dan ember di lantai dek.

Kepakan sayap burung terlihat terbang di hadapan mata mereka berdua, ada rasa menunggu siapa yang akan memancing pertanyaan dulu. Berbarengan menatap dan mencuri lirikan dan seketika barengan mereka berdua bertanya. "Kamu?" "Kamu?" sama-sama dua mulut manis saling bertanya, tapi malahan hanya terdiam malu dengan senyuman kecil memandangai langitan luas memayungi hamparan birunya lautan.

"Aku dulu deh yang bertanya?" langsung saja Hasan yang bertanya, tapi terhenti karena apa yang harus di tanyakan dirinya pada Sabrina hanya diam menunggu dengan perasaan hatinya semakin malu. "Tapi? Tapi apa yang aku harus tanyakan pada kamu, Sabrina?" beranikan lagi mulut Hasan untuk menyambung pertanyaan tadi yang terputus, tapi tetap saja lagi-lagi pertanyaannya jadi tidak jelas.

"Pastinya kamu seorang kapten kapal ini punya tanggung jawab berat sekali. Kenapa kamu tidak mengusir aku turun saat nanti pelabuhan berikutnya. Tidak seperti Yoga yang tidak suka pada penumpang gelap yang manifestnya tidak jelas. Aku juga sama manusia biasa yang punya keinginan terbatas dan pastinya punya kesalahan. Tapi apakah aku harus seperti peti kemas itu, yang punya dokumen perjalan dan manifest jelas sehinggah peti kemas itu bebas mau di letakan di mana saja?" sadar dirinya Sabrina merasa dirinya memang penumpang gelap yang tidak punya dokumen perjalanan lengkap sambil dua berbalik membelakangi besi peyangga haluan, dua matanya perhatikan banyak tumpukan containert.

"Terima kasih, Kapten Hasan kamu sudah mau memberikanku kesempatan tumpangan gratis ini. Semoga saja kesabaran dan keteguhan hati ini bisa mengantarkan aku sampai di RumahNya Allah" cepat berbalik lagi Sabrina berdiri sambil dua tangannya meraih pegangan besi haluan, hijapnya tertiup angin tapi tidak sampai lepas.

Hanya tatapan senyuman makin tersimpul menggelayuti wajah tampan Hasan, langkah kaki kanannya beranikan dirinya semakin mendekati berdiri di samping Sabrina. "Kamu jangan ambil hati apa yang di katakan Yoga, Sab. Sebenarnya Yoga itu orangnya baik, dia hanya menjalankan tugasnya saja" tangan kanan Hasan melepaskan topinya, rambutnya mulai bergerak tertiup hempasan angin.

Lihat selengkapnya