Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #18

Part #18

Navigasi & Cinta 1

"Kapten, berapa kilometer di depan kapal ini cuaca kurang bersahabat. Gelombang angin besar sekali" kata asisten kapal setelah melihatnya dari teropong yang kemudiian di letakan di dasbort anjungan. Hanya diam tidak menjawab Hasan masih pegang kendali kemudi kapal.

 Kemudi kapal sebagai penentu arah kemana kapal akan berlayar. Bila kemudi mengarah pada arah yang benar maka kapal kitapun akan sampai pada tempat yang kita maksud, tapi bila kemudi kapal mengarahkan pada tempat yang salah maka kapalpun akan tersesat. Tentu warning dari asisten kapten kapal seraya tidak di gubris Hasan hanya santai menanggapinya.

Inilah yang kadang-kadang membuat Yoga sejak dari dulu tidak sejalan dengan sikap Hasan yang tidak tegas. Sering Yoga selalu berselisih beda pendapat, yang padahal jelas-jelas di depan kapal memang bahaya sudah mengintai. Tapi selalu dan selalu saja di tanggapi santai oleh Hasan.

Benar saja saat dua mata Yoga di dekatkan pada lensa teropong, benar terlihat cuaca kurang bersahabat terlihat gumpalan awan hitam yang akan menghasilkan badai dan angin besar dan pastinya bisa bikin celaka kapal. Juga terlihat di layar radar, bila berapa kilometer lagi, bila tidak segera memutarkan haluan maka kapal akan terhempas badai dan gelombang angin besar.

Tapi lagi-lagi Hasan hanya diam dan rasanya tidak peduli hanya tersenyum, seakan tahu apa yang akan di perbuatnya. Mungkin saja pendapat dan instingnya mengatakan beda dengan kepanikan Yiga serta asisten lainnya.

Bukannya Hasan tidak peduli dengan ketakutan Yoga, mungkin saja Hasan tahu apa yang akan di lakukannya dan dirinya tidak tergesa-tergesa untuk melakukan sesuatu dan mengambil keputusan.

"Al-Anaah, itulah yang dulu ada pada diriku, Yoga. Segala tindakan dan apa yang aku akan saya lakukan tidaklah semestinya tergesa-gesa, walau saya tahu di depan sana ada badai dan angin besar, pastinya akan menghempaskan kapal ini. Tapi dengan insting yang saya miliki, saat kapal ini berjalan pelan dan segala doa usaha saya berdoa pada Allah, pastinya kita semua akan selamat dan tentunya kapal ini juga tidak akan terjadi apa-apa" itu jawaban lugas penuh sabar dari ketakutan dan kecemasan Yoga menahan amarahnya.

"Tapi kecepatan jalan ini berapa knot, kapten? Lihat saja, kecepatan kapal ini tidak berjalan lambat, malahan semakin cepat berjalan laju jalannya!" bantah Yoga menunjuk spedo meter kecepatan jalan kapal di angka 52,8 knot atau setara dengan 100 km per jam dengan bobot 1000 ton muatan. Kecemasan Yoga makin menggelayuti wajahnya, karena pastinya kapal tidak bisa lambat, walau terlihat angka kecepatan berkurang.

"Lebih baik kita alihkan saja haluan kapal ini untuk sementara ke sisi utara, Kapten! Karena kapal ini penuh beban dan pastinya kapal ini akan terjebak dalam badai dan gelombang angin besar itu, kapten!" kesal Yoga berusaha ingin mengambil alih roda kemudi dari dua tangan Hasan serasa makin tenang saja.

"Dorongan angin akan membuat kapal ini berjalan pelan, Yoga. Kamu tenang saja, lihat itu kecepatannya makin berkurang" padahal awan hitam gelombang badai makin dekat jelas terlihat, tapi tenangnya Hasan makin bikin cemas dan paniknya Yoga serta awak kapal lainnya yang berada di anjungan saat itu.

"Hahh! Keras kepala!" kesal Yoga menuding jari tangan kanannya menunjuk wajah Hasan tetap tenang walau bahaya sebentar lagi ada di hadapannya. "Turunkan lagi kecepatannya sampai 40 knot!" perintah Hasan, cepat asisten dan Yoga mulai menurunkan kecepatan tapi makin tersirat di raut wajah mereka kecemasan.

Sementara di ruangan geladak bawah, di ruangan pantry semua awak semakin sibuk sedang persiapan makan siang. Yakop di bantu Sabrina menahan laparnya, walau sejak dari tadi perutnya masih terus mengajak mengamen kelaparan. "Kamu makan saja dulu, Sabrina. Nih" piring berisi kue basah di berikan Yakop untuk Sabrina merasa tidak enak hati melirik lainnya sedang memasak.

"Perut saya masih kenyang, Pak" menolak Sabrina cepat kembali mencuci panci, tapi Yakop tahu bila makin terdengar suara lapar perutnya. "Kenyang dengan angin laut, perutmu?" piring berisi kue di letakan di hadapan Sabrina melirik crew pantry lainnya, tapi sebenarnya mereka tidak mengapa. Mungkin Sabrina hanya merasa tidak enak hati saja pada yang lainnya.

"Makan saja, saya tahu kamu sejak malam hari belum makan" celetuk dari salah satu crew fantry. Cepat piring di ambil tangan kirinya Sabrina, lahap sekali kue di makan dengan tangan kanannya sambil melirik yang lainnya hanya tersenyum.

"Pak Yakop, kenapa kok Yoga galak sekali? Beda bangat sama Kapten Hasan?" kue sudah kosong di piring dan sudah masuk kedalam perut Sabrina malahan bertanya yang sempat Yakop tidak langsung menjawabnya. Yakop malahan melanjutkan mengaduk gagang sendok sayur yang hanya di putar-putar kedalam baskom besar berisi kuah sayur dengan sejumlah sayur bercampur tulang iga sapi muda, karena siang itu Yakop akan menyajikan sop sapi iga muda dengan sayuran serta rempah-rempah.

"Prang, prug, pring ..." baru saja Yakop akan menjawab, tapi kapal sudah bergoyang sontak saja semua perabotan terjatuh di sertai piring dan gelas berjatuhan kelantai geladak. Makin kecut dan panik wajah Sabrina mendekati Yakop.

Lihat selengkapnya