Navigasi & Cinta 2
"Hahhh! Andai kapten mendengar kata-kata saya, tidak begini jadinya, kap!" kesal Yoga berusaha menahan laju jalannya kecepatan kapal sambil tangan kanannya menarik pelan-pelan tuas rem kebawah perlahan kecepatan knot kapal lambat. Terlihat hempasan cipratan riak air gelombang sedikit masuk lewati celah basahi lantai anjungan navigasi.
Hanya tenang dan diam Hasan tetap mengendalikan laju kapal agar tetap seimbang dan tidak jatuh ketika terkena hempasan gelombang makin ganas. "Gletar ... tar ..." suara hantaman kilat terlihat menghujam di tengah-tengah pusaran badai dan gelombang air lautan makin ganas.
Semakin menukik tinggi ujung haluan kapal membela gelombang makin tinggi menerjang, tapi dengan kehandalan dan kehebatan Hasan tahu apa yang akan di perbuatnya. Sejak dari dulu dirinya sebegitu tenang dan yakin, bila datang gelombang besar ada di hadapannya, dirinya selalu bisa mengatasinya dengan ketenangan hatinya, tidak seperti Yoga yang selalu mengandalkan emosinya saja.
Tidak tahu kenapa Sabrina berlari terus susuri dek lantai makin basah, tidak tahu apa yang sedang di khawatirkannya. Wajahnya sudah sembab dengan cipratan buih-buih gelombang air lautan. Padahal dalam hatinya ada rasa takut saat melihat gelombang badai besar hampir menerpa dirinya cepat berlari menghindar. "Ya Allah, jangan jadikan niatku terhenti sampai di sini saja" guman dalam hatinya Sabrina terus berlari, padahal nyalinya ciut.
"Makanya sejak dari dulu saya tidak suka bila kamu di tugaskan oleh perusahan jadi kapten! Karena loe tidak tegas, Hasan!" ternyata sejak dari awal Yoga memang tidak suka, mungkin dirinya sirik bila perusahaan memberikan wewenang penuh Hasan, yang di tugaskan jadi kapten. Padahal Yoga tahu bila Hasan, sikapnya tidak tegas dalam mengambil keputusan.
"Pantesan aja loe di tinggalin sama pacar loe, San! Karena loe ngak tegas!" "Prug" kesal tudingan Yoga yang bawa-bawa masalah pribadinya Hasan sampai tidak bisa menahan emosinya mendaratkan bogem mentah kewajahnya Yoga.
"Loe boleh tuding dan hujat saya dengan segala tudingan kamu itu yang ngak beralasan itu, Yoga! Tapi kamu jangan bawa-bawa urusan hati saya!" dua tangan Hasan meraih kerah seragam putih yang di pakai Yoga terdiam tatap dua mata penuh amarah ketidak sukaan Hasan.
"Kapten Hasan ..." sontak luntur kemarahan Hasan ketika mendengar panggilan Sabrina, dua tangan Hasan cepat melepaskan kerah seragam putih Yoga mundur. "Kapten Hasan tidak apa-apa?" tiba-tiba makin jelas ada kekhawatiran tergambar jelas di dua mata Sabrina menatap sendu wajah penuh senyuman Hasan.
"Kapten lihat itu!" seruan terdengar dari awak kapal yang berada di depan ruangan anjungan navigasi, tampak langit mulai cerah. Burung-burung terlihat riang terbang bebas di atas permukaan gelombang lautan yang mulai tenang. Semakin membiru berkilau saat sinar matahari menyatu menari-menari di atas riak kecil gelombang lautan yang siap-siap di lewati kapal besar.
"Wajahmu basah, Sab" terlontar pelan dari bibir Hasan tapi kenapa Sabrina masih tdiak sadar, tatap dua matanya masih menatap penuh kecemasan dan rasa khawatir. "Kenapa aku begitu khawatir pada Hasan?" guman dalam hati Sabrina, sepertinya mulai tumbuh benih cinta yang terpendam dalam hatinya. Padahal dirinya baru berapa hari mengenal Hasan, mungkin saja pandangan pertama saat dirinya di tolong Hasan ketika dirinya sedang bertaruh nyawa berpegangan pada peyangga besi dek ketika itu.
"Sabrina" terkejut Sabrina saat di panggil Yakop sudah berdiri di belakang dirinya. Yoga hanya diam dua tangannya kini kendalikan kemudi kapal. Bekas lebam merah terlihat membekas di pipi kanannya. Yoga sedikti menahan sakit saat di lirik Hasan berdiri di sampingnya. Semakin cerah, semakin tenang gelombang lautan di luar terlihat dari kaca besar anjungan navigasi.
"Kita mungkin tidak bisa mengendalikan sikap ganasnya alam ini, yang di gerakan dan menjadi kehendaknya Allah kapan saja. Tapi kita bisa mengendalikan sikap ganasnya alam ini kapan saja, dengan cara kita tenang dan yakin berdoa selalu padaNya. Karena Allah selalu suka dengan sikap seseorang yang selalu tenang dan tidak tergesa-gesa" sindiran halus Hasan bikin makin terdiam mungkin membuat sedikitnya berpikir Yoga.
"Ternyata benar, pertemuan dan pandangan pertama itu menumbuhkan rasa. Apakah aku juatuh pada, Hasan?" guman dalam hati Sabrina tampak wajahnya senyum malu hanya diam perhatikan Hasan berdiri di samping Yoga.
"Kapten ini ada berita dari pelabuhan berikutnya" asisten kapten membaca secarik kertas sesaaat di baca Hasan tersenyum melirik langkah keluar Sabrina dan Yakop dari ruangan anjungan navigasi. "Sabrina" tidak tahu berita apa yang membawa Hasan beranjak jalan menghampiri Sabrina terhenti langkah jalannya.
Lagi-lagi hanya tatapan senyuman terlontar dari wajah manis Sabrina, hanya sisa buliran buih air belum mau pergi dari wajah cantiknya. Yakop mulai sadar dan apa yang menjadikan kekhawatiran Sabrina, ternyata Sabrina mulai jatuh hati pada Hasan. Yakop mungkin tidak enak hati melihat Hasan sudah berdiri berhadapan dengan Sabrina, langkahnya kemudian berjalan meninggalkan Sabrina dan Hasan berjalan kearah haluan.
Rasa marah masih tertahan dalam benaknya Yoga, dua tangannya masih terus pegang kendali kemudi kapal. Tapi dua matanya tidak bisa di pungkiri hanya melihat Sabrina dan Hasan berdiri depan ruangan ajungan navigasi terhalang kaca besar saja.