Langkah Pertama & Niat Tulus
Senyuman sumringah di sertai hati penuh ketulusan makin jelas terlihat pada raut wajah Sabrina berdiri di dermaga. Sungguh hanya badannya saja terbalut lengan panjang, celana panjang jeans biru serta hijab putih masih melekat di tubuhnya. Sepatu kets putih mulai kelihatan kusam, mungkin bekas sisa percikan air laut saat berada di atas kapal.
Kapal besar bersandar mulai terlihat sibuk mobile crane menurunkan containert yang pastinya memiliki dokumen manifest lengkap, tidak seperti Sabrina masih berdiri di tengah dermaga.
Sempat bingung dirinya hendak kemana, karena di hadapannya hanya mesin mobile crane terlihat sibuk memindahkan contaniert akan di tumpukan pada tempatnya. Tampak dari atas terlihat asli warga lokal berada sedang mengoperasikan mesin mobile crane.
Sedangkan kiri kanan hanya diam membisu kapal besar dengan di punggunggnya tertulis nama perusahaan kapal. Makin terasa bingung, jelas makin terlihat di wajahnya Sabrina, bila dirinya hendak kemana lagi melangkahkan dua kakinya.
Walau langkah pertama kakinya sudah menjejakan kedua kakinya di pelabuhan Jeddah, Arab Saudi dengan niat tulus untuk segera memenuhi undangan Allah. Tapi tetap saja ada keraguan dalam hatinya makin mengurung wajah cantiknya.
"Aku tidak tahu harus kemana melangkahkan kedua kakiku ini? Rasanya kedua kaki ini benar-benar terpasung dalam pasung keraguan dan ketakutanku. Ya Allah, hendak kemana aku melangkah lagi?" berjalan pelan dua langkah kaki Sabrina walau mulutnya berucap seraya tidak yakin.
"Sabrina ..." sontak terhenti langkah berjalan Sabrina ketika mendengar ada yang memanggil dirinya. Bingung dan makin tidak yakin bila yang memanggil dirinya ternyata Yoga.
Langkah berat Yoga berusaha menghampiri Sabrina serasa malas meladeni apa yang akan di lontarkan dari mulut penuh amarahnya Yoga. Sabrina malas cepat berbalik lagi akan berjalan, pastinya malas untuk mendengar ocehan Yoga.
"Sabrina tunggu. Pastinya kamu butuh seseorang untuk jadi pemandu jalan'kan?" berhenti langkah Sabrina setelah mendengar apa yang di katakan Yoga.
"Memang kamu mau?" "Gua, mau jadi pemandu loe. Hampir berapa bulan sekali kapal bersandar dan gua tahu persis tempat di sini" terpancing mulut Sabrina menjawab belum selesai kembali di yakinkan lagi Yoga hanya berdiri di hadapan dirinya semakin bingung melihat Yoga.
Mungkin sedang terbesit di dalam hatinya Sabrina, bila Yoga habis minum obat apa. Kenapa begitu baik sekali pada dirinya saat kapal sudah bersandar. Tidak seperti saat Yoga berada di atas kapal, dirinya tegas dan galak sekali pada dirinya.
"Kamu benaran, Yoga?" masih tidak percaya Sabrina balik bertanya tegas pada Yoga malahan melirik sisi kiri dermaga terlihat sepatu pantopel hitam sedang berjalan. "Ya kalau kamu mau, aku juga mau mengantarkan kamu" sahut Hasan ikut tersenyum tangan kanannya menarik handle tas koper hitam besar.
"Loe dan gua'kan, Hasan?" di timpali Yoga melirik senyuman Hasan. "Benar, Sabrina. Kami berdua bersedia mengantarkan kamu kemana saja. Ya'kan Yoga?" sambung Hasan makin tersenyum melirik Yoga hatinya serasa makin bersalah dengan sikapnya saat berada di atas kapal.
"Sory ya, Sab. Saat berapa hari loe ada di atas kapal. Sikap gua terlalu keras bangat sama, loe. Gua sadar sekarang, gua mau belajar sabar dari setiap keputusan yang gua ambil. Ngak baik juga setiap keputusan di ambil dengan amarah dan emosi. Gua mau belajar dari Hasan, pantas selama ini gua kalah ilmu sabarnya dari Hasan" tutur Yoga berjalan sambil tangan kanannya menarik handle tas koper warna biru.
Sabrina berjalan terasa hatinya makin yakin dengan wajah penuh senyuman sumringah. Dirinya makin yakin, bila Allah memang telah memberikan jalan baginya. Serasa bak putri cantik, dirinya berjalan di apit dua cowok tampan berseragam putih gagah, dia adalah kapten dan asistennya.
"Gua tahu niat loe mau kemana, Sabrina? Sory gua udah ngepoin rencana loe dari Hasan" celotehan Yoga di sertai suara berisik roda tas koper terdengar berbarengan. Sabrina hanya tersenyum berjalan di atas dermaga beratap langit cerah, secerah hatinya.
"Dia paksa aku, Sabrina. Agar aku ngasih tahu kamu hendak kemana?" ledek Hasan seolah-olah dirinya di paksa Yoga agar kasih tahu tentang keberadaan Sabrina di Arab Saudi.
"Tapi Sabrina? Dokumen surat dan kelengkapan kamu ada?" langkah kaki Yoga terhenti, sontak saja Hasan dan Sabrina juga ikut terhenti langkahnya. Mulai wajah kebingungan menggelayuti wajah cantiknya Sabrina, mulai sedikit memudar kecantikannya.