Dua Hati Makin Bersaing
Taksi terus berjalan susuri jalan kota Mak'ah, siang makin panas sinar terik matahari makin menyengat berkilau. Terasa sepi di tiap sudut jalan hanya diam membisu tertutup rapat setiap pintu hotel dan pertokoan, yang ada di sisi kiri kanan tepian jalan. Tidak seperti biasanya saat musim haji datang, banyak jamaah berpakaian irham memadati hampir setiap sudut jalan kota Ma'kah yang dekat dengan Masjidil Haram.
Tatapan haru dua mata memandang Sabrina dari kejauhan dalam taksi, ketika melihat menjulang tinggi kubah Masjidil Haram. Rasanya dirinya makin terharu, makin ingin berada di tengah-tengah untuk melakukan tawaf. Tapi ada daya, kini dirinya sekarang harus sadar diri, dirinya hanya seorang musafir yang tidak memiliki kelengkapan surat.
Bahkan makin cemas terlihat di wajah Sabrina, kalau-kalau dirinya bertemu di tanyakan kelengkapan surat-surat oleh Kepolisian setempat, pastinya dirinya akan segera masuk kerangkeng dan hilang kesempatan dirinya menjalankan niatnya.
Yoga melirik kaca spion tengah taksi, dirinya duduk di bagian depan sisi samping kiri sopir taksi, lihat saja wajahnya sudah menua di penuhi dengan kumis putih dan rambut putihnya.
Sejak dari tadi sopir taksi, yang adalah warga lokal tidak banyak bicara apalagi bertanya. Pandangannya sekali-kali ikut melirik juga kaca spion tengah, terduduk mulai bingung Sabrina bersampingan dengan Hasan hanya terduduk diam.
Hasan tahu apa yang sedang di pikirkan dalam hatinya Sabrina, bila perasaan hatinya semakin terbelenggu rasa cemas dan bimbang. Mungkin saja Hasan ingin menawarkan bantuan pada Sabrina, tapi sejak sedari tadi Yoga segitu juga ikut prihatin dengan pandangannya selalu melirik kearah Sabrina.
"Kamu tenang saja, Sabrina. Nanti gua akan bantuin loe, buat ngurus-ngurus surat-surat. Ya'kan, San?" celetuk Yoga melirik Hasan sontak majuin posisi duduknya yang tadi enak sekali kepalanya di sandarkan pada headrest jok mobil.
"Iya, iya Sabrina" sahut Hasan cepat dua tangannya malahan pegangan bahu sisi kiri kanan jok yang di duduki. "Nanti kamu akan kita bawa kesahabat kita di sini, dia kerjanya di kedutaan Indonesia untuk Arab Saudi" sambung Hasan ngepas bangat melihat wajah Yoga melirik penuh keprihatian pada Sabrina.
Ada rasa makin cemburu Hasan, bila Yoga juga mulai jatuh hati pada Sabrina. Rasanya hati yang merekah saat berada di atas kapal dan sempat sempat tersirami cintanya Sabrina, kini sepertinya mulai menguncup penuh keraguan.
"Benar tuh, Sab. Pokoknya loe tenang aja deh, gua pasti akan bantuin loe" makin di yakinin Yoga, bikin Sabrina tersenyum lebar bahagia bila khawatirannya tidak lagi membelenggu dirinya. Tapi terasa hatinya makin tidak enak hati dengan Hasan hanya diam. Pandangan Hasan hanya keluar kiri jalan, walau kedua matanya di batasi kaca mobil melihat jejeran rapi rumah milik warga Arab.
Berbeda dengan rumah orang Indonesia, yang pada umumnya memiliki atap menyerupai segitiga, tapi tidak pada rumah milik orang Arab. Hampir semua rumahnya bergaya Arabian, memiliki atap yang unik yaitu cenderung datar atau rata. Tentu saja gaya ciri khas tersebut menjadikan rumah terlihat unik dan elegan secara bersamaan, lihat saja jejeran rumah-rumah bentang sepanjang jalan tampak begitu indahnya di pandang mata.
Taksi terus berjalan menyusuri jalan ramai dengan dengan lalu lalang kendaraan beroda empat, lihat saja hampir semua jenis mobil yang berpapasan dengan taksi, adalah mobil SUV. Arab Saudi adalah Negara terkaya dengan penghasil minyak bumi dan penyelenggara ibadah haji adalah penyumbang pendapatan terbesar bagi Kerajaan Arab Saudi. Tentu juga banyak sekali para pencari kerja salah satunya dari Indonesia, yang bekerja di segala sektor yang banyak tersedia.
Tersenyum wajah Sabrina ketika melihat papan nama Jalan Presiden Joko Widodo terletak di salah satu ruas jalan utama, yang membelah Abu Dhabi National Exhibition Center dan Embassy Area. Kawasan itu ditempati sejumlah kantor perwakilan diplomatik. Nama jalan ini sebelumnya adalah Al Ma’arid Street yang menghubungkan Jalan Rabdan dengan Jalan Tunb Al Kubra.
Tidak bosan dan jenuhnya Yoga terus memandangi Sabrina dari kaca spion tengah, tentu semakin menaruh curiga Hasan bila benar saja sahabatnya itu juga menaruh hati pada Sabrina. Benar bila dua hati terpendam dalam alunan hembusan cinta masing-masing dalam sanubari lelaki tampan saat ini mulai bersaing untuk mendapatkan hatinya Sabrina. Tapi apakah Hasan dan Yoga tahu, bila Sabrina telah memiliki hati yang lain?
Taksi berhenti di depan rumah yang cukup besar dan elegan, rumah tersebut di pinjamkan Hasan dan Yoga selama mereka berdua masih bekerja. Begitu takjubnya Sabrina setelah turun dari taksi, begitu juga lirikan sopir taksi ketika melihat rumah yang ada di depan matanya serasa menelan ludah dan berdecak takjub.
Sempat bingung juga sopir taksi ketika menerima lembaran uang kertas 2 lembar Riyal, pecahan 100 Riyal. "Ini banyak sekali?" ragu-ragu tangan kanan sopir taksi menerima uang bayaran dari Hasan. "Semua itu untuk, Bapak" Yoga hanya tersenyum sudah tahu memang kebaikan Hasan sudah terbukti, bila dirinya selalu memberikan uang lebih pada sopir taksi atau siapa saja.
Dua lelaki tampan berdiri di belakang Sabrina masih tidak percaya bila dirinya sudah berada di Arab Saudi, tas koper masing-masing handlenya masih berada dalam genggaman tangan kanan mereka berdua. Semakin ingin menunjukan dan bersaing ingin mendapatkan perhatiaannya Sabrina. Langkah kaki kanan Hasan maju di ikuti langkah kiri kaki Yoga maju. Sabrina serasa makin terlindungi dua lelaki tampan yang mengapit dirinya di depan rumah bergaya khas Arab.
Rumah dengan bertembok tinggi, lihat saja desain rumahnya semakin kental bergaya Arab, atapnya saja datar dan terlihat memiliki jendela besar. Jendela yang besar dan lebar membuat rumah tampak seperti terlihat luas.