Rindu Teruntai Doa
Sebagai seorang Ibu tentu saja hatinya semakin teriris sedih ketika anak kesayangannya tidak bersamanya, tidak lagi ada di sampingnya. Hanya untaian lantuan doa tersisip pada saat Juju Sholat, dirinya semakin merindukan sosok anaknya yang kini tidak tahu berada di mana, karena tanpa memberikan kabar. Hanya pilu kesedihan tergelayuti kecemasan hampir sejak setelah kepergian Sabrina.
Mukenah putih bila bisa bicara, mungkin saja akan memberitahukan di mana keberadaan Sabrina, namun mukenah putih semakin menjadi sahabat setia Juju selalu memakainya setiap dirinya Sholat. Wajahnya makin menua hampir mengeriput membaluti, namun kesetiaan bibirnya terus memanjatkan pada Allah, bila dirinya hanya mau Sabrina tetap selamat.
Sujud dua kali, keningnya mendarat pada sazadah bergambar Masjidil Haram, begitu tulus niat dan hatinya tanpa tersirat ada keraguan. Juju lalu duduk di antara dua sujud membacakan doa tasyahud terakhir di lanjutkan membaca shalawat Nabi Muhammad SAW saat tasyahud terakhir.
Makin berlinang dua mata kecilnya seraya berkaca-kaca penuh kesedihan mendalam di dua mata Juju, lihat saja lingkar bola mata makin menghitam. Kamar seraya sebegitu hening, tidak lagi di dengar suara canda tawa serta keluhan Sabrina lagi, kini setiap harinya hanya terdengar rindu teruntai doa setiap Sholat.
"Ya Allah, jagalah selalu Sabrina. Biarkan Sabrina memenuhi undanganMu tanpa halangan, berikan Sabrina kelancaran dari setiap langkah dan keinginan tulusnya, Ya Allah. Sabrina hanya ingin memenuhi undanganMu. Sabrina, Ibu rindu padamu. Hanya rindu teruntai doa, yang bisa Ibu panjatkan dari setiap Sholat. Ibu yakin, segala rintangan apapun bisa kamu lewati bila hatimu tulus menjalani keyakinan itu, agar dirimu sampai di Rumah Allah. Doa Ibu akan selalu menyertaimu, Sabrina" kedua tangannya terbuka seraya memohon penuh ketulusan dengan deraian air matanya, Juju yakin bila Sabrina akan senantiasa di berikan kelancaran atas segala ketulusan hatinya dengan keiningian mulianya.
Yang biasanya foto Ka'bah berbingkai emas selalu di tatap penuh kesenduan dua mata lentik Sabrina, kini foto Ka'bah seakan sepi tidak lagi ada yang menatapnya penuh kesungguhan. Hanya terdengar suara kesedihan hati terpancar dari wajah Juju, begitu rindunya pada Sabrina. Malam makin terselimuti gelap dengan membawa keheningan terlelap pada dua mata yang mulai terbawa lelap dalam tidurnya. Tapi tidak pada Juju, yang sebegitu makin rindunya dengan hanya bermodalkan untaian doa demi Sabrina.
Begitu juga dengan Sabrina, kini dirinya berada di rumah dua lelaki tampan yang bertanggung jawab ingin membantu dirinya. Tapi pastinya dalam hatinya ada rasa takut semakin menghantui dirinya, karena ada rasa tidak enak bila seseorang gadis tinggal di rumah dua lelaki yang baru saja di kenalinya. Lihat saja saat dirinya selesai Sholat Magrib, dua matanya selalu melirik pada pintu sedikit terbuka, bisa sajaa kapan waktu dua lelaki tampan bisa masuk kedalam kamar itu.
Masih mengenakan mukenah putih beralas sazadah berukuran besar, wajahnya saja masih sembab masih tersisa linangan air mata basahi wajahnya. Beranjak bangun Sabrina sambil melepit sazadah lalu di letakan di atas dipan berukuran besar. Lampu hias gantung terlihat menjuntai kebawah, terpasang di atap plapon kamar warnanya putih. Furniture bergaya Arabian memenuhi kamar cukup terlihat besar, kamar yang untuk di perbolehkan Sabrina tidur.
"Ibu?" guman setengah hati Sabrina tidak ingin membuat dirinya semakin sedih terbalut dengan kerinduan dirinya pada Juju. Padahal jelas terlihat bila wajahnya saja sedih, artinya Sabrina makin merindu Juju yang sama juga merindukan dirinya.
Sabrina terduduk dengan setengah kedua kakinya menyentuh lantai granit berwarna crem terang, serasa empuk sekali sopa tidak terlalu tinggi itu menahan pantatnya. Balutan kain sopa, pastinya dari bahan kain yang sangat mahal sekali bercorak warna coklat dengan banyak renda-renda berjuntai di setiap sudut sopa.