Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #23

Part #23

Ada Keraguan

"Loe tenang aja, Sab. Gua bakalan bantuin loe kok" hanya terdiam menahan rasa cemburunya Hasan merasa bila Yoga lebih cepat dari dirinya mencari perhatiannya Sabrina.

Sabrina hanya berdiri melirik Hasan seraya menahan sesuatu yang akan di sampaikannya. "Pokoknya besok gua coba langsung temuin Diran, gua yakin dia pasti mau batuin loe Sabrina. Ya paling tidak bisa kasih solusinya" lagi-lagi Yoga sungguh pandai mencari perhatiannya Sabrina mulai terasa sedikit yakin dengan penjelasan dari Yoga.

Tapi rasanya hati perasaan Sabrina kenapa tidak begitu sreg dengan Yoga yang walau sebegitunya ingin membantu dirinya. Mungkin saat Sabrina berada di kapal, dirinya semakin tahu sikap asli dan perangi Yoga, walau kini di hadapannya Yoga berusaha membantu dirinya. Kenyataannya memang Sabrina mulai menyukai Hasan, akan tetapi kenapa Hasan seperti hanya diam dan selalu mengalah dari Yoga sebegitu ingin menarik hatinya Sabrina.

Wajah tampan Hasan makin mencungkil hati terkecil Sabrina sesaat hanya menatap wajahnya, tidak menampik bila perasaannya ada rasa suka dengannya. Tapi tetap saja Sabrina masih memegang kesetiaan cintanya pada Ricky. Tentu masih ada keraguan dalam hati ia Sabrina untuk menerima Hasan, pastinya dirinya juga merasa tidak enak hati pada Yoga.

"Hasan loe kenapa?" "Ngak? Ngak apa-apa?" terkejut Hasan ketika di tanya Yoga merasa hatinya tidak enak, mungkin juga Hasan tahu bila Yoga terlalu agresif mencari perhatiannya Sabrina. "Ya udah. Hari makin malam. Lihat tuh udah jam 10 malam" mungkin saja Yoga tahu cuman beralasan doang dirinya mengalihkan pembicraan sambil menunjuk jam dinding. Kemudian langkah kakinya berjalan kearah kamar dan dirinya masuk lalu menutup pintu kamar.

Yoga benaran mulai jatuh hati pada Sabrina, walau dirinya sadar bila saat berada di kapal berapa hari dirinya begitu sangat tidak suka sekali dengan Sabrina. Pintu sedikit terbuka, dua matanya tidak bergeming sekali mengintip keluar. Makin ada rasa cemburu dalam hatinya Yoga, lihat saja dua matanya seraya tidak menerima Hasan hanya berdiri memandangi Sabrina berdiri di hadapannya saja.

Hasan dan Sabrina hanya berdiri saling berhadapan, bibir mereka berdua seakan tidak berani untuk mengucapkan sesuatu atau mengungkapkan rasa hati mereka berdua. Sedikit tersenyum wajah Hasan, seraya dalam hatinya memuji kecantikan Sabrina masih terbalut mukenah putih. "Kamu begitu cantik, Sabrina" guman dalam hatinya memuji Sabrina serasa mendengar bisikan pujiannya Hasan.

"Kamu juga terlalu tampan, Hasan" cuman mesem-mesem Sabrina wajahnya tersenyum tersirat rasa kagum hatinya pada Hasan. Tentu saja makin timbul rasa cemburu buat Yoga yang kenapa Hasan dan Sabrina masih berdiri saling menatap di ruangan tamu.

"San! Udah loe tidur aja. Besok loe sama gua sama-sama nemuin Diran" mungkin saja hanya itu untuk mengalihkan rasa cemburunya Yoga meneriaki Hasan agar lekas meninggalkan Sabrina. Tapi nyatanya Hasan tidak lantas bergegas pergi sesaat dirinya masih berdiri dan masih menatap wajahnya Sabrina tersirat ada keyakinan dalam hati, serasa penuh bertambah ketenangan hatinya.

Begitu juga Yoga masih belum menuntup pintu, hatinya benaran kebakar api cemburu semakin membakar hatinya masih melihat Hasan berdiri di depan Sabrina sedikit melirik kearah Yoga cepat tutup pintu. "Aku mau tidur dulu, San" mungkin saja Sabrina tidak enak hatinya melihat Yoga sejak tadi, dirinya lalu cepat beranjak masuk kedalam kamar dan segera menutup pintu.

Tapi Hasan masih berdiri menatap dua pintu kamar tertutup yang bersebelahan, tidak di pungkiri bila perasaan dirinya memang tidak bisa di bohongi, bila dirinya menyukai Sabrina. Tapi Hasan merasa tahu juga, bila Yoga juga menyukai Sabrina. Hanya senyuman terlempar ketika dua kakinya Hasan berjalan mengajaknya masuk kedalam kamar yang tidak jauh dari kamar Yoga dan Sabrina.

Sempat Yoga melirik foto dirinya dengan Hasan saat masih sekolah pelayaran berapa tahun lalu, begitu gagahnya mereka berdua dengan seragam sekolah pelayaran yang ketika itu di kenakannya. Yoga terduduk di kursi berhadapan meja kecil, tangan kanannya tersulut emosi lantas membalikan foto tertelengkup pada meja. "Brug" wajahnya mulai terpancing marah bercampur cemburu, karena memang sejak dari dulu dan saat ini Yoga dan Hasan selalu bersaing. Tapi lagi-lagi kenapa selalu Hasan yang selalu merebut dan mendapatkan apa yang di inginkan Yoga.

Lihat selengkapnya