Lebih Baik Pergi
Bergegas cepat setelah Sholat Subuh, Sabrina tampak terlihat melipat mukenah dan sazadah kemudian di letakan di atas ranjang. Perasaan hatinya semakin terasa tidak enak hati, di mana dirinya akan pergi diam-diam meninggalkan kebaikan dan perhatian tulusnya Hasan dan Yoga. Hanya pakaian yang di kenakan saat dirinya sewaktu berada di atas kapal, sedikitpun Sabrina tidak terbesit untuk mencuri atau membawa apapun.
Sempat wajahnya menoleh pada jendela, di luar masih gelap sekali hanya langit masih tidur dalam lelapnya. Lihat saja sinar rembulan masih tetap setianya menyinari semesta di sertai dengan kumandang Azdan Subuh masih terdengar merdu membangunkan setiap mahluk yang masih terbaring lelap dalam tidurnya, agar segera terbangun untuk semakin mendekat padaNya.
Ada bayangan rasa bersalah makin terbesit mengurung dalam sanubarinya terus mengajak agar segera pergi dengan cara melewati jendela kamar. Jendela kamar terlihat di luar langsung menjorok kearah pintu gerbang, ada rasa takutnya makintidak ingin mengajak Sabrina untuk lekas pergi. Tapi rasa nekatnya Sabrina, semakin kuat untuk segera pergi meninggalkan dua lelaki tampan yang sangat baik dan perhatian sekali pada dirinya.
Tapi kenapa langkahnya Sabrina hanya berjalan pelan melangkah kearah pintu, masih ada keraguan tangan kanannya untuk meraih handle pintu. Wajahnya makin terasa bersalah, makin di selimuti dosa kenapa dirinya sebegitu bodoh sekali pergi diam-diam dengan cara tidak sopan. Padahal Yoga dan Hasan sangat baik sekali padanya, tapi ada sesuatu yang di pikirkan Sabrina, kenapa sampai dirinya akan pergi kabur diam-diam.
"Lebih baik aku pergi saja dari sini. Walau aku tahu betapa bodoh dan berdosanya aku pergi secara diam-diam lari dari kebaikan Hasan dan Yoga. Berapa kali tangan kanan dan kirinya bergantian ingin menyentuh handle pintu tapi tidak jadi. "Aku ngerasa ndak enak saja sudah bikin susah Hasan dan Yoga" tangan kanannya tidak jadi lagi menyentuh hanlde pintu.
Lihat saja celana jeansnya makin kotor dan baju lengan panjangnya sudah kumel, apalagi hijab makin dekil, tapi hanya itu yang di pakai Sabrina. Walau kebaikan Hasan dan Yoga sudah memperbolehkan dirinya memperbolehkan memakai pakaian yang ada di dalam lemari, tapi tetap Sabrina tidak ingin pergi dengan membawa barang-barang yang bukan hak dan miliknya. "Maaf'kanku, Hasan dan Yoga. Aku ndak mau bikin kalian jadi susah. Lebih baik aku pergi saja dari sini saja. Walau aku ndak tahu harus kemana? Tapi aku yakin, bila Allah akan tetapi janjinya di luar sana" tersenyum penuh keyakinan tapi tetap saja perasaan hatinya tidak enak di sertai dua tangannya makin mantap meraih handle pintu terbuka lebar.
Terkejut dua mata penuh keharuan Sabrina melihat kesungguhan dua lelaki yang baru saja di kenalnya sedang Sholat Subuh. Sungguh makin berdosa, makin bersalah dengan tuduhan tidak berasalannya Sabrina ingin kabur lari ketakutan dari rumah yang di huni dua lelaki tampan, ternyata begitu penuh ketulusan sedang sujud dua kali, di mana Hasan jadi imannya.
Makin terbalut rasa bersalah di wajahnya, makin terharu bercampur bertubi-tubi rasa bersalah menghujam dirinya dengan tuduhan bila jiwanya akan terancam saat berada di dalam rumah seorang diri. Tapi tidak seperti tuduhan Sabrina, mana mungkin dua lelaki tampan itu sampai bisa berbuat tidak senonoh padanya, lihat saja mereka berdua sedang Sholat Subuh, pastinya mereka berdua segitu dekatnya dengan Allah dan pastinya tidak ada pikiran sepicik dan sejahat yang di pikirkan Sabrina.
"Maaf'kanku. Aku sudah berpikiran jahat pada kalian berdua. Tapi pastinya aku akan tetap pergi dari sini. Aku ndak mau menyusahkan kalian berdua. Lagian aku juga ndak mau nanti apa kata orang, bila ada orang yang melihat. Bila seorang gadis tinggal sendirian di dalam rumah dua lelaki yang bukan muhrimnya" perlahan tangan kiri Sabrina meraih handle pintu dan segera menutup pintu saat Hasan dan Yoga duduk di antara dua sujud.
Langkahnya makin mantap untuk segera pergi kabur, lihat saja dua matanya juga makin mantap mengarah jendela kamar masih terbuka. Tapi sinar rembulan malam sudah berangsur-angsur beranjak pergi, tandanya pagi akan segera datang dan di gantikan dengan sinar matahari akan segera datang. Cepat dua langkah kaki Sabrina tidak ingin menyia-nyiakan niatnya untuk segera pergi.
Kaki kanannya naik duluan keatas kusen jendela yang cukup lumayan tinggi, lalu kaki kirinya menyusul dan pantatnya sebentar di dudukan di antara tengah-tengah kusen jendela, sembari wajahnya melihat kearah pintu masih tertutup rapat. "Hanya Allah yang bisa balas kebaikan kalian berdua" penuh senyuman terucap dari bibir Sabrina, padahal hatinya masih tidak enak hati untuk pergi meninggalkan kebaikan Hasan dan Yoga.
"Brug" cepat Sabrina melompat dan sempat terjatuh dengan kedua kaki dengkulnya tertahan di lantai selasar halaman samping rumah. Tidak lantas dirinya cepat beranjak bangun, wajahnya tersenyum menatap langit masih terlihat gelap kelabu. "Ya Allah, pastinya saat ini langkahku akan berjalan keluar tidak tahu kemana. Tapi aku yakin, Ya Allah. Seiring doa dan ketulusan Ibuku, pastinya aku akan sampai di RumahMu. Walau aku sadar tidak mudahnya untuk sampai di RumahMu, Ya Allah" sontak sinar matahari keluar dari pandangan awan kelabu seraya ingin menjawab doanya Sabrina tersenyum beranjak bangun.
Perlahan dua tangannya akan menutup daun jendela cukup lumayan besar itu, tapi kenapa bisa tersangkut. "Duh! Kenapa lagi ini jendelanya? Kenapa ndak bisa di tutup?" ada rasa ketakutan mulai membaluti wajah Sabrina berapa kali dua tangannya berusaha keras menarik ujung daun jendela, tapi tetap saja tidak bisa di tutup.
Ternyata di sudut atas kusen jendela, tampak besi slot panjang grendelnya menjuntai kebawah itu yang bakin tertahan daun jendela sulit untuk di tutup. "Sab ... Sabrina ..." terdengar panggilan suara Yoga dari luar pintu kamar, sontak tambah panik Sabrina berusaha melompat dan jingke untuk mendorong slot panjang grendel agar bisa segera keatas dan dirinya bisa menutup daun jendela, tetap saja tidak bisa.