Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #25

Part #25

Daratan & Lautan

"Apa karena gua terlalu kasar sama, Sabrina?" merasa bersalah Yoga berdiri di depan pintu gerang, padangan dua matanya hanya perhatikan halaman yang sepi di hadapannya banyak rumah mewah milik warga keturunan Arab,. Hanya gelengkan kepala Hasan sambil tangan kirinya menyentuh pundak Yoga, artinya tidak seperti yang di akui dan di sesali Yoga.

"Kamu tidak salah, Yoga" memang tutur kata Hasan sopan dan lembut, tidak jarang dirinya marah dan bosan dengan sikapnya Yoga. Yoga berbalik berdiri di hadapan Hasan hanya tersenyum makin terasa bila kepergian Sabrina bukanlah kesalahan Yoga yang terlalu kasar. Dua tatapan mata lelaki tampan berdiri membelakangi pintu gerbang, hanya memandang jendela kamar masih terbuka lebar.

"Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa dengan kepergian Sabrina. Yang terpenting sekarang ini, bagaimana caranya kita kembali mencari Sabrina. Kasihan bila terjadi sesuatu yang tidak inginkan, Sabrina tidak punya surat-surat dan dia'kan baru datang di sini?" begitu bijaknya tutur ucapan Hasan hanya tersenyum pandangi wajahnya Yoga masih terbalut penyesalan.

"San" tidak jagi langkah Hasan berjalan kearah pintu masuk, lalu dirinya segera berbalik karena mendengar Yoga memanggil cepat menghampiri. Ada rasa keraguan terlihat pada bibir Yoga yang ingin menanyakan sesuatu pada Hasan siap menjadi pendengar yang baik, walau Hasan sedikit merasa tahu apa yang akan di tanyakan Yoga padanya.

"Kamu mau tanya apa? Kita sekarang ini ada di daratan. Bukan di atas kapal, jadi saya tidak punya wewenang dan hak untuk mengatur dan memberikan keputusan, ya walau saya tahu terkadang keputusan saya bikin kamu sering tidak sependapat dengan saya" tersimpul senyuman di wajahnya Hasan lagi-lagi tangan kanannya menepuk pundak Yoga masih terasa berat dengan pertanyaan yang akan di lontarkannya. Lihat saja bibirnya serasa terkunci tidak ingin bicara, tidak segarang bibirnya saat berada di atas kapal tengah lautan, di mana bibirnya selalu berselisih pendapat dengan Hasan.

"Kita ini sama-sama lelaki, Yoga. Sama-sama punya rasa suka dan menyukai dengan gadis. Walau belum lama ini, hati saya ini sempat terperosok jatuh kedalam jurang dan seakan tidak ingin bangkit lagi karena cerita cinta itu. Saking marahnya hati ini karena Nisa telah meninggalkan saya. Dia merasa bila saya jadi penghambat rencana pernikahan yang selama ini kami berdua sudah merencanakannya. Tapi karena Nisa tidak sabaran menunggu kepulangan saya. Yang notabendnya saya dan kamu sama-sama seorang pelaut, kerja di atas kapal membelah lautan ganas terkadang juga tenang dan pulangnya sangat lama. Mungkin saja bikin Nisa jadi bosan dan malahan meninggalkan saya. Awalnya hati saya ingin bangkit dari terperosoknya jatuh di jurang cerita cinta itu, tapi tidak tahu kenapa saat kemunculan Sabrina. Hati ini kembali ingin bangkit dan mencoba lagi untuk merasakan indahnya merajut cerita cinta itu lagi yang sempat sempat bersemayam dalam hati ini. Tapi saya tahu, bila kamu juga suka dengan Sabrina'kan? Aku ini kapten yang punya wewenang hanya ada di atas kapal. Sekarang aku di daratan, Yoga. Untukmu saja, Sabrina" tutur panjang curahan hati dan berapa kali tangan kanan Hasan menepuk pundak kanannya Yoga paksakan senyuman sambil melihat kedua langkah kaki Hasan masuki rumah.

Yoga tidak lantas ikut melangkahkan kedua kakinya masuk kedalam rumah ikuti Hasan sudah tidak terlihat, tapi pintu lebar masih di biarkan terbuka. Semakin tidak enak hatinya Yoga dengan tuduhannya semalam pada Hasan, bila dirinya menuduh Hasan selalu merebut apa yang dirinya mau. "Ternyata loe ngak sejahat apa yang gua tuduh pada loe, Hasan. Gua tahu loe juga suka sama Sabrina, gua bisa lihat dari sikap loe. Tapi loe memang seorang kapten kapal yang bijaksana, loe mau ngorbanin perasaan hati loe hanya buat gua" mungkin saja Yoga mulai sadar diri dengan kebaikannya Hasan, tapi tetap saja ada perasaan Yoga yang tidak bisa menerima keputusan Hasan agar dirinya saja yang mencintai Sabrina.

"Hidup di daratan dan di lauatan, sama saja. Sama-sama di kelilingi gelombang ganas. Kalau di lautan benar ada gelombang dan badai ganas. Bedanya di daratan, gelombang ganas itu cuman nasib saja yang nentuin gimana kita harus cepat meraihnya" guman bingung tersulut di wajah Sabrina mulai merasakan perutnya lapar keroncong mengamen lapar lagi.

Siang itu dirinya hanya berdiri di depan kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia Di Riyadh, Kerajaan Arab Saudi. Tidak tahu sudah berapa kilo meter kedua kakinya mengajak berjalan tanpa arah, mungkin sudah puluhan belasan kilo meter dua kakinya berjalan tanpa terasa. Haus makin menagih kerongkongan leher, karena sejak dari tadi belum di siram sedikitpun air. Apalagi makan, sejak tadi juga perutnya terus bernyanyi karena kelaparan, tentu sepeser uang pun tidak ada dalam saku celana dan baju lengan panjangnnya. Dan tidak mungkin dirinya jadi pengamen atau gelandangan, pastinya bakal kesorot Kepolisan Kerajaan Arab.

Masih bergaya khas Arabian bangunan kedutaan, dengan berpintu lebar dan berjendela besar. Mungkin saja kedua langkah kakinya Sabrina masih berada di depan kedutaan hanya ingin mengadukan nasibnya saja. Tapi rasanya dirinya tidak berani saat melihat berapa penjaga dengan wajah bertampang garang kumis melintang berdiri berjaga di depan kantor kedutaan. Sempat bikin dirinya ketakutan ketika salah satu penjaga memperhatikan dirinya, bikin Sabrina beranjak jalan takut dirinya di tangkat penjaga.

"Saya harus kerja, tapi mau berkerja di mana? Sedangkan saya ndak tahu ini ada di mana?" sinar terik matahari terus mengikuti setiap langkah jalan Sabrina, lihat saja bayangan dirinya sekan tidak kuat dengan sinar terik matahari semakin menyengatnya. Sisi kanan kiri hanya berdiri bangunan hotel dan rumah besar seakan tidak mau peduli dengan Sabrina makin di hantui rasa haus dan lapar. Langkahnya terus berjalan tidak tahu hendak kemana, sedangkan jalan mulai di ramai dengan warga lokal berjalan di sertai dengan mobil dan motor berjalan.

Serempak mobil berhenti saat lampu merah terlihat, rasanya tidak ada yang peduli dengan Sabrina. Lihat saja orang yang ada di dalam mobil serasa tidak peduli, karena memang tidak mengenal dirinya hanya terduduk di bawah tiang trapic light. Warga lokal cepat menyebrangi jalan, alih-alih berjalan cepat karena sedang lampu merah, mereka juga seakan acuh walau sedikit melirik melempar senyuman pada Sabrina hanya tersenyum sedikit membalasnya

Barangkali saja sengaja seorang anak gadis berkerudung hitam di dalam mobil sedang menyedot minuman dingin. Hanya diam menelan ludahnya Sabrina tersenyum perhatikan anak gadis berkerudung hitam masih lengkap dengan seragam sekolahnya. Mungkin saja anak gadis itu baru pulang sekolah dan baru di jemput oleh ayahnya duduk di belakang kemudi setir mobil. Lampu sudah hijau, mobil dan motor kembali berjalan.

Rasa ketakutan makin memanggil Sabrina saat di sisi kiri bahu jalan, tampak Poliisi Kerajaan Arab berjalan kearahnya. Mungkin saja Sabrina sudah parno duluan pikirannya takut akan di tangkap karena terus terang saja, bila dirinya di tangkap memamg tidak punya dokumen lengkap. Sabrina beranjak bangun dan segera berlari tapi malahan terjatuh. Makin dekat Polisi Kerajan Arab berjalan kearahnya, makin ketakutan Sabrina makin terkejut saat sudah berdiri seorang lelaki di hadapannya. "Sabrina?" perlahan wajahnya di dongakan keatas cepat Sabrina beranjak bangun saat di tarik tangan kanannya Yakop.

Lihat selengkapnya