Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #26

Part #26

Pelukan Hangat Sabrina Buat Yakop

Mungkin karena sudah parno di hantui rasa kalut cemas di gelayuti ketakutan Sabrina padanya jadi imigran gelap tanpa dokumen lengkap. Dan sudah beranggapan bila Polisi Kerajaan Arab akan menangkap dirinya, tapinya nyata tidak menangkap dirinya. Polisi Kerajaan Arab, dengan seragam khas coklat mudahnya itu dengan kumis tebal memayungi bibirnya malahan terhenti untuk membeli minuman di kedai kedil pada tepian pinggiran jalan.

Ada rasa geli mau tertawa, tapi Sabrina takut malu pada Yakop ternyata sudah berdiri di hadapan dirinya. "Pak Yakop?" cepat Sabrina menarik pakaian gamis panjang putih yang di pakai Yakop siang itu rada bingung perhatikan Polisi Kerajaan Arab sedang istirahat sejenak melepas lelah sebelum melanjutkan patrolinya lagi, sambil menyedot minuman dinginnya masuk lewat celah kerongkongannya.

"Kamu kenapa, Sabrina? Kenapa ada di sini? Kok kayak ketakutan begitu?" masih penasaran wajahnya Yakop di dongakan keluar dari sedikit tembok yang mengalingi di ikuti Sabrina melihat kalau-kalau Polisi Kerajaan Arab benaran ingin menangkap dirinya. Tapi untung saja Polisi Kerajaan Arab memang sedang asyik menyedot sedotan plastik sambil berdiri di depan kedai minuman.

Tampak lorong kecil buntu terlihat sisi kiri kanannya terlihat dinding tembok tinggi rumah milik warga lokal, hanya terlihat lalu lalang kendaraan mobil dan motor terlihat dari di mana Sabrina dan Yakop masih berdiri di tengah celah lorong.

"Krukk ... Krucuk ..." tidak enak hati Sabrina saat terang-terangan perutnya mengamen kelaparan di hadapan Yakop sedikit pilu mendengarnya, pastinya dirinya tahu bila gadis yang katanya sangat mirip sekali dengan anaknya sedang kelaparan. "Makan ini" tiba-tiba tangan kiri Yakop merogoh tas lebar yang terbuat dari kain tersangkut di bahu kirinya dan menyelempang depan perutnya itu dan sudah ada sepotong roti terbungkus plastik putih pada genggaman tangan kanannya.

"Ndak. Ndak, Pak. Saya ndak lapar" " Krukk ... Krucuk ..." tetap saja roti kemasan di sodorkan tangan kanannya Yakop kearah Sabrina menahan laparnya terdengar lagi suara perutnya mengamen. Sontak tangan kirinya mengambil sepotong roti dan cepat kemasan plastiknya di buka dan di makan lahap sekali. Yakop lalu terduduk senderan dinding tembok rumah warga dengan beralas koran yang di ambil dari tas lebar berbahan kain miliknya.

Roti hampir habis di lumat mulut Sabrina, sempat dirinya tidak enak hati bila Yakop memberikan roti pada dirinya, tapi sedangkan Yakop malahan belum makan juga. "Ini, Pak Yakop masih ada rotinya?" sebentar Sabrina berdiri sambil tangan kirinya menyodorkan roti pada wajah Yakop melirik saja.

"Makan saja, Sab" terduduk Sabrina kembali melumat roti lagi saat ada kepastian Yakop bila dirinya tidak lapar dan malahan memintanya agar memakan lagi roti tersisa sedikit itu. Sabrina lalu duduk di samping Yakop tersenyum melihat cara duduknya bersila melipatkan dua kakinya.

"Loh Pak Yakop kenapa? Kok sedih begitu?" roti benaran sudah habis di lumat Sabrina sedikit keselak kerongkongannya, lagi-lagi tangan kirinya Yakop merogoh tas kain lebarnya sudah di genggaman tangannya sebotol air minum lalu di berikan pada Sabrina lantas mengambilnya. Benar saja air botol kemasan lalu di teguk, rasa haus semakin menagih dahaganya Sabrina sedikit tersenyum melirik Yakop malahan melirik botol sudah tiris airnya.

"Airnya?" mungkin karena Sabrina jalan-jalan sudah belasan kilo meter sampai haus dahaganya menghabiskan air milik Yakop, tapi kesedihan Yakop bukan karena roti dan air kemasan botolnya di habiskan Sabrina. Makin bingung Sabrina lagi-lagi Yakop sedih lihat saja dua matanya makin berkaca-kaca merona sambil dua matanya tidak lepas memandangi wajah Sabrina.

"Kamu memang mirip sekali dengan anak saya, Sabrina?" benar ternyata kesedihan Yakop hanya rindu pada anaknya. "Memang Pak Yakop sudah berapa lama tidak bertemu dengan anaknya?" balik tanya Sabrina seraya ingin tahu lebih dalam kapan terakhir Yakop bertemu dengan anaknya. Tapi bukan jawaban kapan malahan Yakop malahan benaran sedih, lihat saja dua mata makin di gelayuti kesedihan yang mendalam.

"Loh kok, Pak Yakop sedih?" makin bingung Sabrina bertanya lagi karena pertanyaan hanya di jawab dengan kesedihan Yakop makin deras linangan air matanya. "Pastinya sekarang anak Pak Yakop juga rindu sekali dengan ayahnya, yang seorang juru masak kapal. Pastinya anak Pak Yakop bangga sekali, bila masakan ayahnya itu enak sekali" semakin bingung Sabrina, karena semakin deras deraian air matanya Yakop saat di puji tentang anaknya.

"Aduh kenapa, Pak Yakop? Kok jadi nambah sedih begitu? Apa saya salah ngomong?" cepat beranjak bangun Sabrina tangan kirinya masih pegang botol kosong. Tapi karena masih di gelayuti rasa ketakutan, dirinya lalu beranikan diri keluar dari celah lorong. Tersenyum wajahnya Sabrina saat Polisi Kerajaan Arab sudah tidak adalagi, lalu dirinya duduk jongkok di hadapan Yakop.

"Lama sekali saya tidak bertemu anak saya, Sabrina" sahut bergetar bibir Yakop makin tidak kuasa lagi menahan derasnya lagi deraian linangan air matanya. Tentu makin bingung Sabrina menatap wajah mengeriput Yakop, yang seusianya masih giat mencari uang pastinya hanya untuk anak kesayangannya itu.

"Sudah berapa tahun Pak Yakop tidak bertemu dengan anaknya?" balik tanya lagi Sabrina makin terasa bingung lihat saja keningnya mulai berkerenyit. "Sudah hampir dua tahun ini, saya tidak menemui anak saya. Karena dia sekarang sudah terbaring dalam dekapan Allah" makin sedih Yakop, sontak terkejut pilu Sabrina wajahnya mulai memerah tanda tidak bisa menahan kesedihan dan kepiluan yang di rasakan Yakop.

Lihat selengkapnya