Tercekam Rasa Kesalahan
Motor sekuter merek terkenal berjalan susuri jalan kota Ma'kah beratap langit teduh, sinar terik matahari tidak terlalu terik karena terhalangi banyak awan kelabu sedang menari di hadapannya. Motor terus berjalan susuri jalan sepi hanya terlihat satu dua orang berjalan di tepian jalan. Tapi tidak dengan kendaraan motor dan mobil masih terlihat sibuk dan padat memenuhi sudut jalan kota Ma'kah.
Dua pasang mata tetap perhatikan kiri kanan tepian jalan, yang barang kali saja seseorang sedang di carinya bisa ketemu. Dengan saling berbalut jaket hitam di kenakan Hasan dengan helm senada juga, tapi tidak dengan jaket Yoga berwarna biru dengan helm berwarna putih. Mungkin dalam benaknya Yoga masih berkalut rasa bersalah dirinya yang sebegitunya sangat pemarah dan egois sekali. Sehinggah membuat Sabrina merasa tertekan berangkali dan tidak mau tinggal bersama, padahal niatnya ingin menolong. Tapi sesunguhnya perasaan Yoga memang menyukai Sabrina, mungkin juga karena perangai sikapnya membuat Sabrina jadi tidak menanggapinya.
Motor sekuter berwarna biru tua terus berjalan cepat, serasa bobotnya makin berat karena Hasan sebegitu baiknya memboncengi Yoga duduk di belakangnya. Tetap saja dua mata Yoga tidak bisa di bohonginya, walau tetap fokus mencari Sabrina, namun hatinya terus di cekam rasa bersalah. "Gua tahu Sabrina memang ngak suka sama gua? Mungkin lebih baik gua mengalah saja untuk tidak membiarkan hati ini mengembara mencari cinta yang tidak pasti itu, apalagi untuk mengejar hatinya Sabrina" guman dalam hati Yoga padangannya tidak pernah lepas melihat sisi kanan kiri tepian jalan makin sepi, karena langit sebentar lagi akan berubah senja.
Tangan kanan Hasan mencengkram handle rem, sambil dua kakinya turun kejalan dan motor terhenti di tepian jalan. Lampu penerangan jalan mulai menyalah, tandanya malam akan segera datang menggantikan siang hari. Begitu indah sekali bak berada di negeri dongeng, pijaran lampu pelita terlihat sepanjang jalan dan sekitar menerangi tepian jalan dan setiap bangunan yang ada di hadapan mereka berdua. Apalagi lampu Masjidihil Haram terlihat sangat elok nan indah sekali penerangan lampunya, kubahnya menjelang tinggi dengan serpian pijaran ratusan kedipan cahaya penerangan lampu menerangi sekitar Masjidil Haram.
Benak Hasan tahu bila Yoga merasa tidak mau turun dari motor, rasanya malas untuk turun hanya untuk melepas lelah saja. Karena sejak seharian tadi mereka berdua terus berputar-putar hanya terduduk di jok motor sekuter mencari Sabrina tidak tahu berada di mana. Kilauan sorot cahaya lampu mobil makin menyilaukan pandangan Hasan ketika melirik kearah lalu lalang mobil yang lewat di pinggiran tepian jalan. "Sudah seharian kita mencari Sabrina, mungkin Allah belum pertemukan kita dengan dia" sedikit menghela napas Hasan makin sadar dengan Yoga lantas turun dari jok belakang motor sekuter.
Besi penyangga standar motor sekuter lalu di naikan agar motor sekuter tetap berdiri tidak miring dan terjatuh. Yoga lalu terduduk di tepian jalan, pandangannya sedikit terundang senyuman saat melihat dari kejauhan megahnya Masjidil Haram dengan ratusan pijaran kiluan cahaya penerangan lampunya. "Padahal gua berusaha untuk nempatin hati gua ini pada Sabrina, San. Tapi gua sadar, San. Mungkin karena kemarahan dan keegoisan gua sama Sabrina, makin bikin gua tercekam rasa bersalah yang bikin Sabrina takut sama gua" merasa bersalah tuturan Yoga semakin bikin dirinya sadar diri.
Hasan tersenyum lalu duduk di samping Yoga perhatikan motor sekuter masih setia menemani ada di hadapannya. Serasa mereka berdua sesaat terlepas dari tugas dan beban dari kapal, tidak seperti biasanya mereka berada di atas kapal mengarungi lautan ganas dengan segudang masalah yang bikin mereka berdua selalu tidak sependapat. Malam makin larut, makin mulai terlihat jejeran rumah dan pertokoan, bahkan gedung perhotelan mulai berkontribusi dengan menyalahkan lampu penerangannya.
"Langit itu saat siang hari pastinya ada matahari, bila datangnya malam pasti bulan dan bintang yang menemaninya. Begitu juga dengan hidup kita ada baik dan buruknya,Yoga. Hanya bagaimana kita harus menyikap hidup ini dengan benar, dengan bagaimana kita harus menumbuhkan dalam diri kita perbuatan baik terus dan bagaimana mengurangi perbuatan buruk dalam diri kita jadi perbuatan baik. Ya, seperti ada siang dan malam, dalam diri kita juga pastinya ada baik dan buruknya" begitu bijaknya Hasan menasehati Yoga tersenyum seraya masuk kedalam hatinya, tetapi tetap saja hatinya seakan tidak bisa menerima segudang nasehat Hasan, karena dirinya masih tetap tercekam rasa bersalah.
"Kring ... kring ..." suara dering ponsel memanggil mengundang cepat tangan kanan Yoga merogoh saku celana bagian kanannya. Mata sudah menahan kantuknya Hasan masih sempatnya melirik Yoga menerima panggilan telpon dari seseorang masih terduduk di samping. "Tin ... tin ..." suara klakson mobil bikin suara jawaban Yoga rada keras terdengar.
"Iya! Hahh? Apa?!" beranjak bangun Yoga berjalan agak menepi berdiri di depan toko yang sudah tutup, wajahnya makin jelas dengan sorot cahaya lampu dari atas depan toko. "Iya, iya besok gua nemuin loe, Diran. Iya, iya gua berharap loe bisa bantu masalah ini" ternyata yang menghubungi Yoga adalah Diran, temannya yang bekerja di Kedutaan Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi.