Kastiri Hamil?
Seperti biasanya pagi telah menyambut datang pencari rejeki halal yang setia mulai berjalan dengan menggendong keranjang bakul kosong pada pundak belakan. Gadis tangguh kuat dan hebat berbalut kebaya dan kain bercorak aneka warna berbalut sandal jepit karet pada kiri kanan telapak kakinya terus mengajak berjalan cepat.
Wajah penuh senyuman dan keyakinan nan pasti bila dirinya akan segera mendapatkan rejeki, yang katanya memang sudah di gariskan Gusti Allah. Walau hanya garisan takdir rejeki, tetapi tetap ada niat tulus datang dari setiap sanubari gadis pengangkut sayuran di Pasar Menur Surabaya. Setiap gerak langkahnya selalu di sertai senyuman kepastian bila mereka semuanya akan ketiban rejeki dari Gusti Allah.
"Heii ... Kalian kenapa ninggalin aku? Aja kaya aku, kita kabeh wanita sing hebat lan kuwat. Mula aja nganti lali" teriak Siti sudah berjalan duluin gadis-gadis hanya melempar senyuman pada Siti. "Kaya mobil saja, Ti, ndak mobil saling mendahului. Aja wedi. Rejeki, masing-masing wis diatur karo Gusti Allah" sahut satu gadis wajahnya sumringah melirik Siti justru cuman tersenyum sambil berjalan.
Langit Surabaya, pagi itu serasa tampak bahagia sekali dengan awan putihnya berguling sana kemari seraya sedang menari di sertai kebahagian. Burung-burung dari kejauhan begitu kompaknya mengepakan dua sayapnya terbang sangat cepat untuk mencari makan. Seperti halnya gadis hebat dan tangguh yang sama seperti burung, dua kakinya semakin cepat melangkah untuk menjemput rejeki.
"Ti, kamu tahu gimana kabarnya, Sabrina?" sepertinya ada tiang trapiclight di depan Siti sontak berhenti dua langkah kakinya, ya otomatis gadis pengangkut sayuran yang berjalan di belakang Siti mengerem mendadak dua kakinya. Hampir saja terjatuh, tapinya tidak sampai menubruk Siti.
"Kepiye sampeyan ngerti aku? Aku wis takon marang ibune uga ora ngerti kepiye kahanane Sabrina uga ora ngerti" jadi kepikiran Siti raut wajahnya makin terkulai rasa kerinduan pada Sabrina, sahabatnya yang keras kepala dan kini tidak tahu berada di mana.
"Ya sudah, kita doa'kan saja Sabrina agar selamat walau sekarang ndak tahu berada di mana. Aku sih yakin, keras kepalanya Sabrina itu bisa mewujudkan cita-citanya" "Amin ..." celoteh dari gadis pengangkut sayuran berdiri di hadapan Siti di sertai doa dengan senyuman sumringah dari semuanya termasuk Siti.
Waktu pagi mungkin sudah menujukan pukul 6.30 pagi, tandanya pagi akan segera beranjak siang. Makin cepat langkah jalan gadis pengangkut sayuran, di depan mereka sudah terlihat Pasar Menur di mana mereka akan menjemput rejekinya. Tapi tidak sepertinya biasa dan hari-hari sebelumnya, di mana mereka harus berebutan untuk mengangkut sayuran dari atas mobil bak terbuka. Tapi kini di hadapan mereka, mobil bak terbuka milik Rahman, sih lelaki tangan kritilan kurang masih terlihat menumpuk sayurannya.
"Siti, lihat itu?" langkah Siti tertahan saat tangan kiri gadis pengangkut sayuran menarik bakul keranjangnya. Siti dan lainnya tersulut bingung pada wajahnya melihat Kastiri cuman duduk di pinggiran mobil bak terbuka dengan tanpa alas. Sepertinya wajah Kastiri sedang murung dan sedih, tidak tahu kenapa apa yang terjadi dengannya. Tidak seperti biasanya Kastiri yang selalu mengatur semua sayuran dari mobil Rahman. Dan juga juga tidak tahu di mana, sih tangan kritilan kurang ajar itu berada.
"Kas?" panggil Siti berdiri di hadapan Kastiri masih duduk wajahnya makin murung, tidak tahu kenapa sampai panggilan Siti saja di cuekin. "Kamu kenapa? Kok murung begitu koyok sayuran lecek!" sindir Siti sambil bertanya, tetapi lagi-lagi Kastiri cuman diam dan semakin wajahnya terbalut sedih. Dua tangannya memotes-motes sayuran dan dua kakinya menendang bakul keranjang.
Tentu saja Siti terundang ingin tahu dan semakin ingin lebih tahu kenapa dengan keadaan Kastiri, walau sering jahat pada semua gadis pengangkut sayuran. Jiwa Siti terpanggil untuk menolong Kastiri, naluri Siti sebagai seorang sahabat yang sering tersakiti tahu dan merasakan ada sesuatu yang sedang terjadi pada Kastiri. Rasa tidak peduli dengan sikap Kastiri, walau dirinya memang sering berlaku jahat pada Siti saat itu hanya ingin menolongnya saja. "Kamu kenapa, Kas?" dua tangan Siti cepat mengelus seraya ingin memeluk pipi kiri kanannya Kastiri malahan tiba-tiba hujaman tetesan deraian air mata mengalir deras.
"Ti, Siti tolong aku. Tolong aku, Siti" sedih terasa pilu membela dada terasa sesak semakin penasaran bercampur sedih Siti refleks memeluk erat Kastiri. Tangisan penuh kepiluan makin merontokan sikap keegoisan Kastiri sebelumnya yang sangat berlaku jahat pada Siti dan gadis pengangkut sayuran lainnya. Dua tangan Siti makin basah karena terus menyeka tidak hentinya makin deras kesedian deraian tetesan air mata semakin sembab basahi pipi Karsiti tidak terbalut kerudung itu, lihat saja pakaiannya sedikit terlihat seksi ketat.
"Kamu kenapa, Kas? Mung ngomong karo aku, ojo wedi karo kula, Kastiri" wajah Kastiri makin sedih dua bola matanya serasa tidak berani untuk mencolek bibirnya untuk berucap serasa di ancam ketakutan. Makin erat dua tangan Siti menarik seraya halus memeluk pipi kiri kanan Kastiri semakin di dekatkan pada wajah Siti sejak dari tadi dirinya juga setengah duduk jongkok.
"Mungkin ini karena ulahku sama kamu dan Sabrina. Sekarang aku terima ganjarannya dari Gusti Allah, Ti. Sekarang Gusti Allah sedang menghukumku, karena aku sering berlaku jahat padamu, Sabrina dan mereka" mengakui kesalahannya makin merona berkaca bola matanya semakin deras meneteskan air mata.
"Ora, ora. Sampeyan ora salah, Kastiri. Kamu kenapa sampai sedih begini. Ada apa, Kastiri?" wajah kesedihan Kastiri mendarat di pelukan dada Siti serasa semakin bingung, semakin Siti curiga pastinya sedang terjadi sesuatu dengan Kastiri, walau Siti mengelak tidak menyalahkan Kastiri.