Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #31

Part #31

Belajar Dari Kesalahan

"Rahman yang menghamilimu, Kas?!" lagi-lagi makin erat seraya ingin mencekek pipi kiri kanan Kastiri makin pasrah dua matanya kosong saat bibir Siti seraya memaksa dirinya menjawab. "Iya, Ti. Rahman yang mengahimiliku. Bodohnya aku, Ti. Selama ini diriku hanya di jebak saja dengan kebaikannya. Sampai-sampai aku terbuai dengan segala rayuan dan kebaikannya, tapi semua malahan menjebakku" sedihnya mulia terurai dengan rasa kemarahan makin membaluti wajahnya Kastiri beranjak bangun di ikuti Siti juga beranjak bangun.

"Kurang ajar itu sih, Rahman!" kesal Siti melirik kearah dalam pasar, terlihat lelaki sedang di tarik paksa jalan oleh gadis pengangkut sayuran. Ternyata Rahman sedang di tarik paksa jalan, kepalanya tidak terlihat karena bakul keranjang kosong di masukan pada kepalanya. Tangan kiri kanannya terikat dan di tarik selendang kain, ketika langkahnya berhenti sontak gadis pengakut sayuran langsung menariknya jalannya. Tentu saja jadi tonton gratis buat pengunjung dan penjual di pasar melihat kejadian itu.

"Jangan, Siti" Sudah kamu diam saja, Kas!" tangan Kastiri menarik bakul keranjang sontak langkah Siti jadi ikut terhenti saat akan berjalan menghampiri, tapi malahan kesal tangan kiri Siti hentakan tangan Kastiri. Ada rasa ketakutan di raut wajahnya Kastiri, pastinya ada ancaman yang sampai bikin dirinya ketakutan tidak berani hanya berdiri saja di samping mobil bak terbuka.

"Dasar kamu, Rahman! Lelaki pengecut ndak berani bertanggung jawab sama perbuatanmu sendiri! Lihat itu Kastiri! Kasihan dia! Seenak-enaknya kamu tidak mengakui jabang bayi yang di kandung Kastiri! Jelas-jelas itu perbuatanmu, Rahman!" makian tudingan Siti makin meradang tunjuk-tunjuk wajah Rahman terdiam menunduk, berapa kali kepalan tangan kanan Siti mendongkrak dagu Rahman keatas tapi lagi-lagi di dongakan kebawah.

"Dasar lelaki pengecut kamu, Rahman! Kamu harus nikahi, Kastiri! Jangan mau enaknya saja kamu! Pantas saja otakmu sama dengan tanganmu yang kurang ajar itu dan selalu kritilan!" tudingan makian tidak henti-hentinya dari semua gadis pengangkut sayuran sambil menjijili mulut Rahman dengan aneka macam sayuran karena saking kesal dan emosinya.

"Rahman, aku ndak mau menghakimi kamu. Tapi aku hanya mau kamu ada rasa kasihan dengan Kastiri, kamu'kan tahu hidupnya hanya seorang diri tanpa ada sanak keluarga apalagi orang tuanya. Aku mau kamu nikahi Kastiri" mungkin bila Siti marah percuma tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang ada, dengan sabarnya Siti meminta pada Rahman agar segera menikahi Kastiri saja.

"Iya kamu harus nikahi Kastiri! Kalau kamu ndak mau, awas kamu! Jangan sampai semua sayuran itu aku paksa masuk kedalam mulutmu itu!" makin meradang dengan nada ancaman semua gadis pengangkut sayuran memaksa dan mengancam Rahman sempat melirik mobil bak terbuka miliknya masih penuh dengan sayuran.

"Kastiri, sini kamu!" panggil Siti, tapi langkahnya Kastiri tidak berani melangkah sontak semua gadis pengangkut sayuran menarik dua tangan Kastiri. "Bilang sama Kastiri, Rahman! Kalau kamu mau menikahinya!" ketus sinis terucap bibir rada memaksa Siti mendorong perlan Kastiri kehadapan Rahman.

Tidak ada jawaban, hanya diam dua matanya menatap kesedihan yang di rasakan Kastiri. Serasa bingung dan tidak tahu kenapa bibir Rahman seakan terkunci rapat tidak bisa bicara. Seakan bibirnya di ganduli rasa berdosa yang amat terberat sekali, sampai hatinya juga tidak berani memerintahkan bibirnya agar segera bicara pada Kastiri.

"Cepat kamu bilang ndak, kalau kamu mau nikahi Kastiri!" ancaman dari satu gadis pengangkut sayuran sambil mengarahkan sayuran pada bibir Rahman tetap tidak bergeming, malahan semakin tertutup rapat. Menahan sabar sekali Siti mendorong maju Kastiri makin berdiri persis di hadapan Rahman. Sesaat dua pasang mata saling menatap, tidak tahu apa yang di lakuin Siti pada mereka berdua.

"Pegang coba perut Kastiri, Rahman" pinta Siti pada Rahman perlahan tangan kanannya menyentuh perut Kastiri melirik Siti mengangguk tersenyum. "Apa yang kamu rasakan dengan perutnya, Kastiri. Pastinya kamu merasakan ada getaran bahtin'kan? Lah iya, Rahman? Pasti bahtin kamu merasakan getaran janin yang sedang di kandung Kastiri dalam rahimnya itu, karena janin yang ada di perut Kastiri itu adalah buah hasil cinta kamu dan Kastiri!" awalnya pelan tutur kata Siti tapi makin lama makin rada emosi, maklum naluri seorang Siti yang juga pernah mengandung janin dalam rahimnya.

"Aku mau nikahimu, Kas. Tapi?" "Tapi apa, Rahman?" sedikit bicara lantang tetap saja ada keraguan dalam hati Rahman tergambar di wajahnya tapi di patahkan Siti menatap dalam wajah Rahman menunduk. "Aku tahu keadaanmu, Rahman. Tapi sebagai lelaki kamu harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu itu. Ndak lantas kamu biarkan begitu saja Kastiri, karena janinnya semakin hari semakin bertumbuh jadi benih bayi mungil. Pastinya saat bayi itu lahir, kalian berdua akan sangat menyayanginya" lagi-lagi Siti menahan rasa amarahnya dengan penuh kesabaranya menasehati Rahman.

"Rahman, aku mau hidup denganmu apa saja. Aku mau menerima segala dari kekurangan dan kelebihanmu. Aku mau di ajak hidup susah. Asal kita berdua bisa merawat anak yang nantinya akan aku lahir'kan" Kastiri mencoba meyakinkan Rahman perlahan dua matanya mulai berkaca sedih, tandanya hatinya mulia terpanggil dengan seruan kesedihan yang terumbar dari bibir Kastiri terlahir tulus dengan segala ucapannya.

"Ya sudah, aku tahu apa yang sedang di pikirkanmu, Rahman. Kamu ndak ada uang'kan buat nikahi Kastiri? Sudah kamu berdua ndak usah mikirin itu. Aku masih ada uang simpanan. Uang itu dari Sabrina" makin tidak enak hati Kastiri ketika Siti tahu apa yang sedang di pikirkan Rahman, bila dirinya tidak punya uang untuk menikahi dirinya. Terlebih uang Siti, adalah uang pemberian dari Sabrina.

"Kamu ndak usah sungkan, Kas. Pastinya Sabrina senang sekali kalau kamu sudah menikah dengan Rahman, apalagi sampai Sabrina tahu bila uang yang di berikan untuk saya, kamu pakai menikah" benar tersirat ketulusan di wajahnya Siti akan membantu Kastiri dan Rahman agar mereka berdua jadi menikah.

Lihat selengkapnya