Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #32

Part #32

Belajar Memaafkan

Tidak begitu ramai Pasar Jafariyah, seramai saat musim haji tiba. Tapi ada juga kesibukan memadati setiap toko, di mana terjadi transaksi jual beli. Kalau saja musim haji tiba, pastinya Jamaah haji asal Indonesia begitu sangat gemar memadati toko aneka perbelanjaan berlokasi persis di sebelah Pemakaman Ma’la, kawasan Dahlatul Jin.

Lihat saja berbagai barang dijual, seperti sajadah, kain, pakaian, hingga parfum. Tak heran bila Jamaah haji asal Indonesia begitu besar animonya membeli oleh-oleh sangat banyak sekali untuk sanak sudaranya di kampung halaman mereka dengan terlihat keluar dari pasar ini membawa berkantong-kantong barang.

Begitu sangat ramahnya pemilik toko dan begitu pandainya mereka berhasasa Indoensia, tentu saja semakin membuat daya tarik Jamaah asal Indonesia dengan keramahtamahan dan sopan santun yang tentunya juga meenjadi budaya kehidupan orang Arab.

Bangunan di Pasar Jafariyah terdiri atas satu lantai, tetapi dengan lorong-lorong memanjang sehingga terkesan luas. Tampak makin jelas terlihat papan nama "Toko Nur" milik Yakop dari luar, bangunan toko tidak terlalu besar tampak dari luar. Tapi siang itu toko mulai terlihat sibuk belum ada pembeli datang, hanya wanita berkerudung hitam dan dengan kenakan abaya hitam lewat saja tidak sampai masuk melihat kedalam toko.

Sedangkan di toko lainnya mulai tampak ada kesibukan dengan banyak pembeli berdatang mulai memilih berbagai macam acesoris. Penuh keyakinan dengan senyuman sumringah membaluti wajah Sabrina terbalut dengan hijab putih serta berpakaian abaya sopan senada berwarna crem. Dua tangannya begitu sibuk sekali menata dan merapihkan sazadah, kain khas Arab dan sempat hidung mancung mencium aroma wanginya parfum yang masih banyak sekali tertata dalam lemari.

"Min fadlik tawaquf wa'iilqa' nazra ..." (silahkan mampir dan lihat-lihat ...) terdengar santun seraya memanggil pemilik toko pada pengunjung Pasar Jafariyah. Tapi tidak seperti Sabrina, dirinya hanya berdiam berdiri di depan toko. Hanya senyuman ramahnya seraya bibirnya ingin berucap sepeti pemilik toko yang berhadapan dengan "Toko Nur" milik Yakop.

Siang itu Pasar Jafariyah memang sepi dengan lalu lalang pengunjung, tentu semua pedagang pemilik toko merasa tahu bila mereka juga harus bersabar menunggu datangnya pembeli. "Pasar ini ramai bila musim haji tiba, biasanya sampai di setiap toko selalu di padati banyak Jamaah. Tapi kali ini, hanya kesabaran penuh keikhlasan menunggu pembeli datang" sudah berdiri Yakjop di belakang Sabrina berbalik tersenyum perhatikan wajah Yakop sudah tidak lagi bersedih seperti sebelumnya.

Mungkin saja Yakop saat ini bisa melepaskan rindunya pada Sabrina, yang di sangka mirip sekali dengan anaknya yang telah tiada. "Kamu jaga toko ini, Sabrina. Kamu jangan ragu untuk menjual barang dagangan yang ada di sini, karena sudah ada label harganya" rada bingung juga Sabrina ketika melihat Yakop sudah berpakaian rapi dan tidak tahu akan pergi kemana, seolah-olah dirinya benar-benar di berikan kepercayaan untuk menjaga toko.

"Pak Yakop, mau kemana?" tanya Sabrina berdiri di belakang Yakop langkahnya terhenti berbalik tersenyum makin lebar. "Saya akan kekedutaan Indonesia. Saya ingin mencoba berkonsultasi dengan sahabat saya, yang kerja di sana" berbalik badan Yakop lalu dua langkah kakinya segera mengajak berjalan. Pakaian gamis putih berlengan panjang dengan celana panjang putihnya membalut seluruh tubuh tuanya Yakop di sertai sandal slop khas Arab, berwarna hitam.

"Baik sekali hatinya, Pak Yakop" semakin tersentuh sedih hatinya Sabrina, perhatikan Yakop berjalan mulai tidak terlihat lagi dari kejauhan. Membalas senyuman ramah Sabrina pada wanita berkerudung hitam ketika dirinya berdiri di depan toko, lagi-lagi bibirnya merasa berat berucap karena pastinya takut bila akan di sambut dengan bahasa Arab.

"Alnashl ... alnashl ... alraja' alnashil haqibati ..." (copet ... copet ... tolong tas saya di copet ...) teriak panik ketika seorang wanita mudah berkerudung hitam wajahnya bercadar berlari mengejar seorang lelaki yang telah mengambil tasnya. Lelaki yang di sangka sudah mengambil tas wanita berabaya hitam terus berlari menghindar. "Alnashl ... alnashl ... alraja' alnashil haqibati ..." (copet ... copet ... tolong tas saya di copet ...) teriak lagi sambil terus mengejar.

Sontak kuping Sabrina mendengar dari kejauhan teriak seorang wanita muda makin jelas suaranya, inisiatif Sabrina mulai terpanggil membantu. Terlihat lelaki kurus dengan wajahnya juga tirus, lihat saja pakaiannya dekil kotor berlari kearah dirinya. "Heii! Balikin tas itu!" sempat terkejut Sarip, yang di sangka copet rada ketakutan melihat garangnya wajah Sabrina.

"Iihhh! Jangan ikut campur kamu!" malahan balik membentak Sarip menarik lagi tali tas dari tangan Sabrina. "Hiihh! Ternyata kamu orang Indonesia?! Ndak tahu malu kamu! Sini balikan tas itu bukan milik kamu!" kesal Sabrina mendorong jatuh Sarip, tas terlepas dari tangan Sarip akan mengambil tas sudah keduluan di ambil pemiliknya.

"Hadhih alhaqibat malakiun" (tas ini milik saya) akui wanita bercadar dan kerudung hitam memeluk tas miliknya. Sarip beranjak bangun ketakutan berdiri di samping Sabrina mulai bingung lagi apa yang di omongin wanita pemilik tas itu. "Maksud saya. Ini tas milik saya" ternyata wanita pemilik tas yang di copet Sarip, dia bisa berbahasa Indonesia juga.

"Kamu!" "Sudah biarkan saja" baru saja kepalan tangan kanan Sabrina akan memukul bahu Sarip masih bisa di selamatkan saat wanita pemilik tas yang di curinya segera melerai Sabrina tidak jadi memukul. Coba bila bogeman mentah sampai mendarat di bahu kanannya Sarip, bisa-bisa dirinya makin merasakan pegel-pegel. Walau Sabrina cuman seorang gadis, hampir tiap hari mengangkut puluhan kilo sayuran. Jadinya hanya untuk memukul Sarip itu masalah enteng.

"Saya sudah maaf'kan dia. Ini untuk kamu makan" memang baik dan penuh kesantuan wanita pemilik tas padahal sudah tasnya sudah diambil Sarip, tapi dirinya malahan mau memaafkan dan memberikannya berapa lembar uang Riyal, pecahan 50 Riyal.

"Masih ada orang baik seperti wanita itu! Padahal kamu sudah mengambil tas miliknya. Tapi wanita itu masih mau belajar memaaf'kan, kamu!" kesal Sabrina merampas uang dari tangan Sarip cuman berdiri merasa bersalah, wajahnya saja seperti kerupuk yang baru tersiram air.

"Sudah, sudah biarkan saja dia. Saya sudah maaf'kan kesalahan dia. Berikan saja uang itu padanya. Mungkin dia terpaksa mencopet, karena dia lapar" sungguh baik penuh ketulusan dari wanita Arab itu, hatinya benar-benar tulus memaafkan kesalahan Sarip, walau dirinya sudah mencuri tas miliknya.

Lihat selengkapnya