Yakin Pasti Ada Jalan
Cukup kelihatan megah dan mewah tampak dari depan Kedutaan Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi. Bangunan dengan kesemuanya dominan dengan ornamen khas Arabian, berwarna crem terang. Bagian tampak depan terlihat datar, dengan jendela- jendela lebar memanjang begitu juga dengan pintunya sangat lebar juga.
Selasar halaman yang cukup lumayan luas, pastinya terlihat menjulang tinggi Bendera Kebangga Bangsa kita, Bendera Merah Putih berdiri tegak di atas tiang berkibar seraya betapa bangganya, kami Negara yang berkedaulatan Negara Kesatuan Repbulik Indonesia, bisa berada di Negara penghasil Minyak terbesar di dunia. Di mana kedutaan berdiri, sebagai penyambung tali hubungan erat antar dua negara.
"Pastinya saya yakin semua akan ada jalannya, kok. Hanya bila ada dokumen yang sempat hilang itu bisa segera di temukan. Itu miliknya siapa itu?" "Sabrina?" tutur Diran, cukup lugas gaya bicaranya tapi sempat lupa satu nama yang langsung di sahutin Yoga.
Diran berjalan di tengah, di apit Hasan dan Yoga. Mereka bertiga berjalan kearah luar susuri lorong jalan untuk menuju selasar halaman kedutaan. "Tapi, rasanya sulit, Ran" di dahului Hasan ketika Yoga akan kembali menjelaskan.
"Nah itu yang bikin saya juga bingung. Karena pendukung dokumen dasar saja tidak ada. Sayapun tidak bisa mengeluarkan rekomendasi surat apapun. Yang saya takut'kan bila Sabrina tertangkap Polisi Kerajaan Arab, pastinya dia bisa di deportasi atau di kurung penjara" mereka saking enaknya berjalan sambil bicarain tentang Sabrina, mereka sudah sampai di depan selasar halaman depan kedutaan.
"Satu-satunya jalan, kalian harus temukan dokumen dasar yang di miliki, Sabrina" makin bingung Hasan dan Yoga dengan keterangan makin tegas Diran sudah berhenti berjalan.
"Memang ngak ada jalan lain, Diran? Selain kita harus nemuin surat-surat itu yang di miliki Sabrina?" makin bingung juga Yoga lihat saja dahinya sampai berkerinyit seraya ikut bingung juga.
"Hanya itu saja, Yoga syarat kami bisa mengeluarkan surat rekomendasi keterangan izin tinggal sementara Sabrina di sini. Tanpa surat-surat dasar dan penyerta yang di miliki Sabrina, kami tidak bisa membantu" tegas lugas gaya bicara Diran, siang itu dirinya mengenakan setelan blezer hitam, bercelana panjang biru dengan dalam kemeja putih tanpa berdasi. Kelihatan rapi maskulin Diran dengan gaya rambutnya klimis rapi dan bersepatu pantople hitam.
"Sudah kalian berdua jangan bingung begitu. Yakin saja pasti ada jalan keluarnya dengan apa yang sedang di hadapai Sabrina. Lagian kalian juga harus cepat-cepat cari Sabrina dulu. Bisa gawat loh, bila Sabrina sampai tertangkap Polisi Kerajaan Arab Saudi. Dan pastinya saya akan tetap membantu dan berikhtiar juga" sempat Diran perhatikan dua mata Yoga makin tersulut rada kecemasan yang mendalam.
"Kapten Hasan?" "Pak Yakop?" pada saling bingung ketika Yakop langkahnya terhenti di depan Hasan, Diran dan Yoga. Sontak juga Hasan sesaat bingung menunjuk kedatangan Yakop sudah berdiri di hadapan tiga cogan.
"Pastinya Kapten Hasan dan Yoga mereka baru saja menemui, Diran?" guman dalam hati Yakop ingin mundur pergi takut kalau-kalau pastinya dirinya akan di tanya keberadaan Sabrina.
"Pak Yakop kesini, ada keperluan apa?" tanya Diran tahu dari gerak-gerik Yakop bila dirinya pastinya mau menemui dirinya. Diran makin mendekati Yakop, dalam hatinya makin bingung bila di tanya Diran mau apa menemui dirinya.
"Bukankah surat izin sementara tinggal sudah saya buat'kan untuk, Pak Yakop?" Hasan dan Yoga saling melirik berdiri di belakang Diran masih mengorek kedatangan Yakop mau apa.
"Tidak. Saya hanya kebetulan lewat sini saja, Ran. Iya, iya surat izin sementara tinggal sudah selesai saya ambil, kok" kilah Yakop seraya makin ketakutan kalau kedatangannya ketahuan Hasan dan Yoga.
"Pak Yakop?" baru saja berapa langkah dua kaki Yakop ketakutan cepat berjalan, malahan berhenti saat di panggil Hasan menghampiri. Yoga malahan juga ikuti Hasan, tentu juga Diran makin bingung melihatnya.
"Semoga Kapten Hasan tidak bertanya tentang keberadaan Sabrina" guman dalam dalam hati makin ketakutan lirikan mata kanan Yakop saat makin mendekati Hasan.
"Pak Yakop, saya hanya ingin memberitahukan bila kapal untuk berapa minggu kedepan masih tetap akan berlabuh di Pelabuhan Jedaah. Saya semalam baru dapat kabar, bila masih menunggu muatan cargo" mulai sedikit hilang rasa cemas yang tadi membaluti wajah dan hatinya Yakop.
"Baik, baik kapten" makin terasa entengan perasaan Yakop, langkah mungkin ingin cepat-cepat mengajak berjalan. Takut saja kalau-kalau Hasan akan bertanya lagi pada dirinya.
"Pak Yakop, tunggu!" cemas panik wajahnya Yakop saat terpaksa langkahnya terhenti lagi ketika Yoga memanggilnya. Yoga sudah berdiri di samping kirinya, makin gemetar tangan kanannya malahan di masukan kedalam tas kain lebar. Tidak tahu apa yang akan di ambil Yakop, apa cuman mau mengalihkan perhatiannya Yoga saja atau apa.
Perlahan Yakop berbalik, dirinya malahan berhadapan dengan Hasan dan Diran hanya senyum saja. "Iya?" sahut Yakop beranikan diri melirik Yoga. "Hehh? Tidak jadi deh, Pak Yakop" lagi-lagi rada tenangan Yakop melirik senyum pada Yoga tidak jadi bertanya.