Kesempatan Hanya Satu Kali
Terduduk di lantai, serasa dirinya terbelenggu dosa makin menjerat Sarip akan perbuatannya selama ini. Untung saja nasib baik masih berpihak pada dirinya, karena kebaikan wanita bercadar dan berkerudung hitam tadi tidak sampai mengadukan dirinya pada Polisi Kerajaan Arab Saudi.
Sudah sering Sarip dan tidak kapok-kapoknya selalu mencuri dan tidak mau hidup capek. Pantesan saja kepercayaan yang di berikan Yakop pada dirinya, begitu mudah di gadaikan hanya karena rasa malas dirinya tidak mau bekerja. Sarip sering ketahuan tidur dan tidak jujur saat Yakop pada saat sedang berlayar. Yakop sangat percaya sekali pada dirinya, tapi bodohnya Sarip bikin Yakop marah karena ketahuan mengambil uang toko dengan jumlah yang cukup banyak sekali.
Dua lembar uang kertas pecahan 50 Riyal hanya di biarkan tergeletak di hadapan Sarip masih terduduk lesu. Wajahnya makin terbelenggu rasa bersalah dan terbalut dosa makin menjadi. Bila dirinya mati, tentu dirinya pasrah di bakar api neraka.
"Bila kamu mau lapor'kan saya pada Polisi. Lapor'kan saja, Sabrina. Saya pasrah dengan segala dosa yang telah saya perbuat. Apalagi saat Pak Yakop datang, saya pasrah bila di marah atau ingin memukul saya" makin pasrah di sertai sesal yang tidak berarti makin bikin Sarip tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Hahhhh! Gara-gara kamu tuh, mereka tidak jadi masuk ketoko ini. Jijik lihat kamu, tahu!" sejak sedari pagi satupun barang belum ada yang terjual, sekalinya ada pembeli datang malahan tidak jadi masuk, karena jijik lihat keadaan Sarip tetap tidak mau beranjak bangun.
"Huhhh! Untung saja wanita yang tadi tasnya kamu curi, dia ndak mau laporin kamu sama, Polisi! Ternyata kamu toh, pencuri uang milik Pak Yakop? Dasar kamu ndak tahu diri! Ndak ada rasa terima kasih! Sudah di percaya, malahan nyuri!" dua tangan Sabrina berusaha menarik keluar Sarip dari dalam toko. Tetap saja Sarip tidak bergeming menggerakan pantatnya buat bangun.
"Pergi ndak kamu dari sini! Kalau kamu ndak pergi dari sini?! Saya pukul kamu!" "Sabrina" untung saja gagang sapu sampai tidak melayang di wajah Sarip pasrah keburu Yakop datang melerai Sabrina menahan kesalnya.
"Ini toh, pencuri yang ndak ada rasa terima kasihnya?!" "Brug" kesal Sabrina lempar gagang sapu benaran mendarat sebentar di wajah Sarip sedikit menahan sakit.
"Tadi dia?! Sih Sarip ini? Yang dulu pernah bantu Pak Yakop dan mencuri uang juga'kan? Hehh, tadi dia juga tadi mencopet tas milik wanita. Untung saja wanita itu, ndak laporin pencuri ini sama Polisi!" gagang sapu di ambil Sabrina kesal malahan melempar lagi kearah wajah Sarip makin pasrah.
"Maaf'in saya, Pak Yakop? Saya janji tidak akan jadi pencuri lagi" cepat dua tangan Sarip menarik dua kaki Yakop tersenyum dengan di sertai dua tangannya menyentuh bahu Sarip kelihatan bangat wajahnya kini penuh penyeselan sembab basah tetesan air mata buaya atau tulus, hanya dirinya saja dan Allah yang tahu.
"Ya sudah, Sarip. Kamu saya maaf'kan. Tapi ingat, kesempatan itu hanya datang satu kali saja" ikut terpancing haru Yakop, dua matanya ikut sedih melihat ketulusan Sarip. Semoga saja Sarip kali ini benar-benar jerah kapok tidak lagi mencuri.
"Sumpah, Pak. Saya janji" "Hehhh ndak usah sumpah dan janji!" langsung di potong Sabrina geram dengan sumpah dan janji Sarip melirik Yakop malahan terduduk lemas di kursi berhadapan meja. Yakop sedikit menghela napas, rasanya dirinya makin bingung dan sulit rada sedih melirik kearah Sabrina.
"Sudah Sarip, kamu tidak perlu bersumpah dan berjanji. Sumpah dan janjimu itu hanya patut kamu ucap'kan pada Allah, bila kamu bersungguh untuk tidak mengulangi perbuatanmu itu" malahan di jebehin Sabrina, Sarip cepat mengambil sapu lalu dirinya menyapu lantai. Uang Riyal pecahab 50 Riyal di ambilnya dari lantai, dan kebetulan ada pengemis di depan toko. Sarip malahan memberikan uang tersebut untuk pengemis itu.
"Itu cuman akal busukmu saja, Sarip. Biar Pak Yakop percaya sama kamu'kan?!" sindir Sabrina, tapi Sarip hanya melanjutkan menyapu lantai saja setelah memberikan lembaran uang Riyal pada pengemis langsung beranjak pergi dari depan toko.
"Sabrina sini kamu" pelan sekali suara panggilan Yakop. Sudah terduduk Sabrina di depan Yakop sepertinya ada sesuatu yang akan di sampaikan Yakop. Sebentar-bentar Sarip melirik menguping apa yang sedang di bicarakan Sabrina dan Yakop, tapi tetap tangan kanannya menyapu lantai.
"Pokoknya saya tetap akan berusaha bantu kamu, Sabrina" sekilas di dengar Sarip cepat kembali menyapu saat menoleh wajah Sabrina sudah sedih penuh kecemasan.
"Ini gara-gara bodohnya saya! Kenapa saya naik kapal diam-diam. Sampai-sampai tas yang berisi semua keperluan dan surat-surat saya buang kelaut!" sedih menyalahkan dirinya sendiri Sabrina beranjak bangun sempat sekilas lagi di dengar Sarip.
"Apa kamu?!" bentak Sabrina kesal beranjak jalan keluar dari toko. Lalu dirinya berdiri di depan toko, tampak megah terlihat kubah Masjidil Haram dari kejauhan. Memang tidak terlalu jelas jarak antara Pasar Jafariyah dengan kawasan Masjidil Haram, Ka'bah, tapi masih bisa kelihatan terlihat dari Sabrina berdiri di depan toko.