Semakin Dihantui Ketakutan
"Tapi, Pak Yakop? Bila saya ndak ada surat- surat dan dokumen yang saya miliki. Pastinya saya akan di sangka'kan sebagai imigran gelap! Bodohnya saya, kenapa saya buang tas itu kelaut?!" sedih menyalahi diri sendirinya, saat Yakop berusaha tenangkan Sabrina makin tidak kuasa meluapkan emosinya.
"Kamu sabar, Sabrina. Tadi siang, saya tidak ketemu dengan orang yang kerja di kedutaan itu" berusaha berbohong Yakop pada Sabrina, padahal tadi Yakop sempat bertemu dengan Diran. Tapi mungkin saja Yakop tidak ingin Hasan dan Yoga tahu, keberadaan Sabrina ada padanya.
Diam-diam sejak dari tadi Sarip menguping kesedihan Sabrina, sempat pandangannya melirik foto anaknya Yakop. "Mirip sekali, wajah Sabrina dengan anaknya, Pak Yakop. Tapi kenapa Sabrina sedih bangat? Terus tadi kalau tidak salah dengar, Sabrina buang tasnya kelaut? Di dalam tas itu ada surat-surat penting?" guman Sarip malahan ikut mikir sempat melirik sekali kedalam kamar. Begitu sayang dan perhatiannya Yakop pada Sabrina.
"Tok, tok ..." sontak dua pasang saling bertatapan saat terdengar ketukan pintu dari luar, padahal toko sudah tutup. Tapi Sarip masih penasaran ingin masih menguping, padahal berapa kali ketukan pintu terdengar lagi. Sarip beranjak jalan karena rasa ingin tahunya, sudah tahu tentang kenapa dan siapa Sabrina. Wajah Sabrina dan Yakop mulai di gelayuti rasa ingin tahu siapa malam-malam yang mengetuk pintu. "Iya tunggu sebentar" sahut Sarip sembari berjalan cepat kearah pintu. Sabrina dan Yakop lantas sudah berdiri di samping etalase, tampak dagangan dan pajangan mulai terselimuti cahaya redup gelap.
Makin ada rasa ketakutan dalam hatinya Sabrina, jantungnya saja mulai berdetak kencang sekali bak jarum jam semakin cepat berputar. Sedikit terkejut juga Sarip ketika mata kanannya mengintip celah pintu, memang ada sedikit lobang. Sontak mata kanannya mundur, terkejut saat melihat Polisi Kerajaan Arab sudah berdiri di depan pintu.
"Sarip?" cepat maju Yakop malahan makin mundur Sarip berdiri di samping Sabrina sontak makin di buat ketakutan dan bingung. "Itu di depan?" rasanya dua kaki dan dua matanya makin di cekam rasa ketakutan, Sarip sampai tidak bisa berkata apa-apa dengan baru apa yang di lihatnya. Tentu saja makin bingung Sabrina malahan coba beranikan dirinya menghampiri Yakop akan meraih handle pintu.
"Tok, tok ..." "Ayu shakhs bialdaakhil?" (ada orang di dalam?) tidak jadi tangan kirinya Yakop akan menyentuh handle pintu saat terdengar lagi suara ketukan pintu dari luar dan suara panggilan seseorang lelaki rada tegas berbahasa Arab. Sekali Sabrina melirik pada Sarip malahan dirinya makin ketakutan berdiri, rasanya dua kakinya seperti terikat ketakutan dengan bandul beban berat tampak selalu mengintai raut wajahnya.
"Polisi?" penasaran memanggil hatinya Sabrina melihat kecelah lobang pintu, tapi saat di lihatnya benaran rasa yang ketakutan makin bikin mata kirinya tidak jadi menegaskan melihat lagi. "Polisi?" berbalik Yakop mendorong Sabrina makin kedalam, mau tidak mau Sarip juga ikut masuk kedalam. Rada risih Sabrina karena dirinya di ikuti Sarip. "Sabrina, kamu cepat kedalam kamar" pinta Yakop raut wajahnya mulai terlihat panik.
"Rip! Iiih sana ahhh!" usir Sabrina sambil dorong Sarip malahan sembunyi di bawah kolong ranjang. Makin bingung Sabrina tapi cepat menutup pintu kamar, tapi dua matanya penasaran melihat kearah Yakop berjalan kearah pintu ruangan tengah. "Sarip keluar kamu!" sambil menutup pintu Sabrina manggil Sarip keluar merangkak dari kolong ranjang yang tiangnya rendah sekali sampai kepalanya terjedot. "Auw!" menahan sakit Sarip malahan merangkak lalu terduduk di sudut dinding kamar.
"Assalam' mualaikum" "Waalaikum' salam" kendengaran sekali suara salam dari depan pintu yang sontak di sahuti Yakop sambil buka pintu. Sedikit terkejut juga Yakop ketika melihat seragam Kepolisian Kerajaan Arab, dengan membawa pentungan. "Masa' alkhayr" (selamat malam) makin bingung Yakop melihat gelagat Polisi Kerajaan Arab menyapa lagi dengan lihat saja kumis hitamnya melintang memayungi bibir tebalnya. Makin bingung dan gugup Yakop akan menjawab melihat Polisi Kerajaan Arab, mesem-mesem tidak karuan seperti ada rasa yang tidak tertahan.
"Masa' alkhayr" (selamat malam) di sahutin juga sama Yakop makin bingung melihat tangan kirinya Polisi Kerajaan Arab, pegang-pegang bokongnya dan tangan kanannya masih setia pegang pentungan. Mulai dari di situ Yakop tahu benar, bila ada sesuatu yang di tahan-tahan sejak tadi oleh Polisi Kerajaan Arab, bila dirinya mau numpang buang hajat.
"Boleh tidak saya numpang ketoliet?" ternyata Polisi Kerajaan Arab, bisa berbahasa Indonesia walau malu-malu sambil kumis melintangnya bergerak-gerak. "Silahkan, silahkan" tanpa di komando aba-aba derap langkah pijakan sepatu terdengar makin berdegub kencang tersirat panik di wajahnya Yakop cepat menutup pintu. "Prug, prug ..." pijakan sepatu hitam besar terdengar kecang.
"Bukan! Bukan itu pintu kamar mandinya!" hampir saja suara degub kencang jantung Yakop bisa bikin benaran jantungnya terkena serangan jantung seketika, ketika Polisi Kerajaan Arab akan masuk kedalam kamar di mana Sabrina dan Sarip bersembunyi. "Kamar mandinya di situ, tuh" cepat langkah Yakop berdiri di depan lorong kecil jalan dengan terlihat cahaya samar penerangan lampu menempal di atas plapon.
Makin tidak tahan, rasanya sudah akan meledakan jamban bila jamban sudah dekat. Lagi-lagi sempat terlewat pintu kamar mandi, sontak sedikit mengundang tawa Yakop tertahan karena takut dosa menertawai Polisi Kerajaan Arab, cepat berbalik dan masuk kedalam kamar mandi. Cepat Yakop mendekati pintu kamar, yang memang jarak lorong kearah kamar mandi tidak terlalu jauh.
"Pak Yakop?" tidak jadi Yakop membuka pintu karena sudah keduluan Sabrina buka pintu. "Kalian jangan keluar dulu. Polisi itu sedang numpang buang air besar di kamar mandi" bak kapal di hantam ombak besar dan terhempas di daratan antaberanta. Wajah Sabrina makin kecut ketakutan, apalagi Sarip makin duduk tersudut dan wajahnya juga makin ketakutan. "Kamu juga jangan keluar, Rip. Karena pasport tinggal sementara kamu habis masa waktunya" tandas Yakop kembali tutup pintu.
"Lega sekali rasanya" ujar terucap dari mulut berpayung kumis tebal Polisi Kerajaan Arab, bikin terkejut Yakop sontak mundur selangkah dari depan pintu. Tapi masih ada rasa takut menggelayuti hatinya, kalau-kalau saja Sabrina atau Sarip keluar dari dalam kamar. "Shukran lak" (terima kasih) penuh santun sambil membungkukan setengah badannya Polisi Kerajaan Arab berjalan kearah ruang tengah, di mana pintu keluarnya ada memang di sana menyatu dengan papan penutup toko. Hanya senyuman saja sebagai balasan Yakop perlahan ikuti langkah keluar Polisi Kerajaan Arab.