Pasrah Pada KehendakNya
Padahal hatinya Yakop ketar-ketir, kalau-kalau tiba-tiba Sabrina atau Sarip keluar dari dalam kamar, tentu bikin masalah jadi tambah ruwet saja. "Dug, dugg ..." dengar saja suara degub jantung Yakop semakin terdengar kencang di iringi langkahnya jalan terus mengikuti Polisi Kerajaan Arab, sudah berdiri di depan pintu. Pikiran ketakutan Yakop makin mulai terasa berkurang, pikirannya berharap Polisi Kerajaan Arab, yang datang hanya ingin buang hajat lekas segera keluar saja.
"Ohh iya?" tidak jadi melangkah Yakop, pikirannya makin di hantui rasa was-was yang main menjadi. Pandangannya terus melihat kearah pintu kamar, yang jaraknya masih bisa di lihat dari dirinya saat ini berdiri di depan pintu ruangan tengah menyatu dengan toko. "Dug, dugg ..." makin kencang suara deguban jantung Yakop terdengar sedikit terdengar juga keluar.
"Tadi siang, saya dengar di sini ada seorang gadis baru datang? Apakah kamu tahu?" "Saya tidak tahu" tanya Polisi Kerajaaan Arab, tapi langsung di bantah Yakop pandangannya masih terus kearah pintu kamar masih tertutup. "Jangan sampai Sabrina dan Sarip keluar" guman harapan Yakop dalam hatinya makin di gerus rasa ketakutan teramat sangat. Tapi kenapa Polisi Kerajaan Arab, tidak lantas segera keluar malahan mendekati etalase pajangan dagangan.
"Ini. Ini ambil saja" spontan Yakop refleks memberikan sazadah, kopiah hitam dan tasbih dari dalam etalase. Tapi tidak lantas di ambilnya, malahan insting indra Polisi Kerajaan Arab tidak jadi keluar. Makin bingung Yakop cepat meletakan sazadah, kopiah hitam dan tasbih di atas etalase lagi. Yakop berusaha menjegah menghalangi dengan mengalihkannya menujukan berbagai macam acesoris haji dagangannya.
"Ini, ini? Coba kalau ini? Tidak apa-apa ambil saja dan tidak perlu di bayar?" rayuan Yakop sambil menunjukan banyak acesoris pada Polisi Kerajaan Arab hanya kembali masuk kedalam. Tentu makin panik dan was-was makin tergambar jelas di wajahnya Yakop. Berapa kali telapak tangannya selalu jadi bantalan pukulan pentungan yang selalu di arahkan tangan kirinya Polisi Kerajaan Arab terhenti langkahnya di depan pintu masih tertutup.
Instingnya semakin kuat, dua matanya hanya perhatikan dua pintu kamar bersebelahan tertutup. "Kamu di sini tinggal sendirian'kan?" makin maju Polisi Kerajaan Arab, makin terbalut panik wajahnya Yakop berusaha menghalangi berdiri di depan pintu kamar.
"Iya. Iya, saya tinggal sendirian di sini" jawab Yakop makin ketakutan, harusnya wajahnya Yakop tenang saja. Tentu saja insting seorang Polisi Kerajaan Arab makin kuat dan makin curiga melihat grak-grik Yakop kenapa dirinya berdiri di depan pintu. "Minggir kamu!" dengan mengarakan tongkat kewajah Yakop rasanya berat buat minggir, tapi ayunan tongkat persis depan wajahnya bikin Yakop pasrah sudah.
"Sarip kamu jangan keluar dulu!" "Tapi Sab?" perut Sarip melilit dua tangannya terus mengelusnya sudah tidak tahan ingin segera buang air besar sontak di larang Sabrina. "Di depan masih ada Polisi Kerajaan Arab. Bisa bahaya tahu" ketakutan juga Sabrina di raut wajahnya terus melarang Sarip kekeh ingin tetap keluar dari dalam kamar, mungkin saja rasa yang tidak tertahan semakin ingin mengajak keluar dari dalam kamar.
"Tapi Sabrina, saya sudah tidak tahan ini" tangan kirinya di perlihatkan menyentuh bokong belakangnya dan tangan kanannya malahan masih setia mengelus perutnya. Makin bingung Sabrina melirik celah bawah pintu, memang benar terlihat masih ada bayangan orang di depan pintu. "Ya sudah kamu keluar saja. Saya hanya bisa pasrah pada kehendakNya. Mungkin niat saya sampai di sini sudah terhenti, untuk tidak lagi memenuhi undanganNya" terucap pasrah dari bibir Sabrina rada bergetar perlahan tangan kanannya meraih handle pintu, serasa membiarkan Sarip keluar karena tidak bisa lagi menahan rasa yang tidak tertahannya itu.
Ternyata Yakop juga tidak bisa menahan dan mengalihkan perhatiannya pada Polisi Kerajaan Arab, lihat saja tangan kanannya sudah meraih handle pintu. Tapi malahan pintu terbuka dari dalam, sontak terkejut minggir Polisi Kerajaan Arab, saat keluar berlari cepat Sarip kearah lorong menunju kamar mandi. "Kalian?!" lagi-lagi tongkat di arahkan pada Sabrina serasa langkah kakinya juga ikut pasrah berjalan pelan keluar.
"Bila kamu hendak menangkap saya. Tangkap saja, saya. Saya memang bersalah ndak punya dokumen lengkap berada di sini. Awalnya niat saya kesini, hanya ingin kerumah Allah. Saya begitu yakin, bila Allah bisa menepati janjinya pada saya, untuk bisa memenuhi undanganNya. Tapi nyatanya Allah tidak menepati janjinya. Saya hanya bisa pasrah pada kehendakNya. Tangkap saja saya sekarang" hanya kepasraan tersirat di raut wajahnya Sabrina sambil dua tangannya juga ikut pasrah di arahkan pada wajah Polisi Kerajaan Arab sempat melirik Yakop hanya berdiri tidak bergeming, dua kakinya juga terikat dengan kepasraan.
"Tangkap dan borgol saya saja. Saya memang imigran gelap di sini. Walau impian saya telah sirna, tapi saya merasa bahagia sekali. Bila saya sudah berada di tempat Kelahiran Terakhir Nabi, Nabi Muhammad. Nabi yang selalu saya junjung dan selalu saya Agung-agung'kan dalam setiap jejak langkah saya" makin mantap penuh kepasraan Sabrina mengarahkan dua tangannya ingin segera di borgol saja.
"Saya mohon jangan tangkap, Sabrina. Saya sedang berusaha menolong dirinya. Saya yakin kedutaan Indonesia untuk Kerajaan Arab bisa menolong Sabrina" duduk berdeku dengan dua tangannya Yakop serasa memohon pada Polisi Kerajaan Arab hanya diam berdiri perhatikan wajah kepasrahan Sabrina. Dua matanya makin menahan kesedihan yang pastinya menyayat hati perasaannya bagi setiap yang melihatnya, sungguh ada kesungguhan dalam hatinya Sabrina terpancar pada dua matanya berkaca-kaca meronah memerah.