Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #37

Part #37

Salah Pahamnya, Ricky

"Gua yakin, gadis yang loe cari sampai kesini, pastinya dia seorang gadis yang special buat loe, Rick?" seraya ingin mengorek keinginan tahunya Yoga pada Ricky yang ternyata sudah berada di Arab. Bisnisnya makin meluas, walau senyap begitu pandai sekali Ricky menilik bisnis tour & travel sampai bisa sebesar saat ini. Ruangan perkantoran yang cukup lumayan luas, banyak pekerja dari Indonesia yang menjadi staff untuk membantu bisnisnya.

Lihat saja papan nama "PT Alip Tour & Travel" terpampang besar, seraya ingin memberitahukan pada dunia, bila saat ini bisnisnya Ricky sudah mencakar sampai manca negara. Perkantoran besar, yang tidak jauh dari Pasar Jafariyah dan kawasan Masjidil Haram, di mana juga banyak hotel-hotel bertingkat dari segala kelas dan bintang. Bisnis yang di geluti Ricky, tidak hanya melayani tour & travel saja, tapi melayani umroh dan haji. Tapi rasanya masih ada yang kurang dalam dirinya Ricky, walau saat ini dirinya sudah cukup suskes jadi pengusaha muda berwajah tampan dan keren.

Ricky hanya terdiam pandangannya sebegitu fokus sekali melihat kearah kubah Masjidil Haram penuh kemegahan seraya dekat sekali dengan langit yang siang itu sangat cerah sekali, dari balik jendela kantor ruangan kerjanya. Yoga terpancing ikut beranjak bangun dan berdiri di samping Ricky sebentar melirik senyuman pada Yoga, tersirat tahu bila gadis yang di maksudnya, punya tempat special di hatinya Ricky.

"Loe, yakin dia pilihan loe, Rick?" tanya lagi Yoga hanya ingin meyakinkan dirinya bila gadis yang sedang di tanyakan itu adalah Sabrina. Bila benar juga hatinya Yoga menyukai Sabrina, tapi rasanya dirinya makin tidak enak hati pada Ricky, sahabatnya sejak saat mereka berdua SMA di Jakarta, juga mencintai gadis yang sama. Tidak mungkin Yoga akan merebut Sabrina dari Ricky, karena Yoga yakin bila Ricky sudah lama berhubungan dengan Sabrina.

"Iya, Yog" jawab singkat Ricky bikin wajahnya Yoga terdiam seperti patung, padahal hatinya sedikit cemburu dengan jawaban Ricky yang terumbar dengan senyuman keyakinan. "Sudah sejak lama gua berhubungan dengan Sabrina, dia gadis hebat. Gadis tangguh, tidak mudah untuk menaklukan hatinya dengan rayuan, walau rayuan itu dengan segudang harta dan materi. Gua begitu sedih saat Sabrina pergi meninggalkan gua, hanya karena Sabrina ingin sekali memenuhi undangan Allah. Dan kenapa Sabrina selalu menolak tawaran dan ajakan gua untuk pergi bersama kerumah Allah. Karena kecurigaan Sabrina dengan bisnis yang gua jalani saat ini. Andai dia tahu saat ini, mungkin Sabrina mau gua ajak nikah dan mau gua ajak bersama-sama naik haji" terduduk Ricky membelakangi jendela terbuka tidak bertirai, lantas Ricky lalu duduk di kursi.

Makin tidak enak hatinya Yoga ingin mengungkapkan kejujuran perasaanya pada Ricky, bila saat dirinya bertemu dengan Sabrina. Awalnya sangat tidak menyukai Sabrina, tapi nyatanya ketidak sukaan dirinya pada Sabrina, menjadikan bommerang bila Yoga jatuh cinta pada Sabrina. "Ini benar Sabrina yang loe lihat, dia sekarang ada di sini?" sambil tunjukin foto dirinya sedang mengecup dua tangan Sabrina, Ricky menatap wajahnya Yoga hanya diam sesaat menatap foto itu.

"Iya. Iya benar, gua lihat gadis yang mirip sekali dengan Sabrina" sahut Yoga menjawab rada terbata-bata, padahal hatinya mulai tersulut rasa cemburu. "Alhamudillah, akhirnya gua bisa nemuin Sabrina" ucap seraya sumringah wajahnya Ricky, tapi terasa lemas tidak berdaya wajahnya Yoga makin terkekang rasa cemburu yang tersembunyi.

"Benar ini, Bu. Gadis yang aku temui ini sangat mirip sekali dengan foto itu" tutur Hasan seakan yakin bila foto itu sangat mirip sekali dengan Sabrina, gadis yang sedang di cari Ratih. Ternyata orang yang di hubungi Hasan diam-diam ketika itu adalah Ratih, adalah ibu angkatnya. Hasan di angkat diam-diam jadi anaknya Ratih dari panti asuhan di Surabaya, tentu ini tidak di ketahui Ricky. Begitu sayang perlakukan Ratih pada Hasan, yang juga tidak membeda-bedakan kasih sayangnya.

Sesaat Ratih perhatikan raut wajahnya Hasan tersimpul rasa malu tapi mengagumi foto yang tergeletak di atas meja itu. "Sabrina sempat saya selamatkan, Bu. Saat dirinya hampir saja terjatuh kelautan, ketika dia diam-diam naik kapal" beber Hasan seraya menceritakan kejadian tidak detail saat dirinya awal bertemu dengan Sabrina di atas kapal. Ratih tahu, apa arti senyuman Hasan seraya hatinya makin terus memuji kecantikan Sabrina.

"Tapi saat ini Sabrina tidak tahu berada di mana. Dia pergi kabur dari rumah, padahal saya sangat tulus ingin menolong Sabrina, Bu" tersenyum Ratih sambil meneguk secangkir berisi kopi hangat saat tahu Sabrina sudah tidak lagi bersama Hasan. Rasanya pikiran Ratih makin di gelayuti rasa berdosa api neraka akan siap-siap akan merajang dirinya. Di mana saat dirinya sebelum berangkat sempat menemui Juju, ibunya Sarbina. "Ibu makin penuh rasa bersalah pada ibunya, Sabrina. Ibu berjanji akan membawa pulang Sabrina, San. Tapi nyatanya Sabrina malahan kabur" benar saja luapkan rasa berdosa makin tergambar jelas di wajahnya Ratih.

Cofe shop yang hanya tersekat kaca besar, tampak di luarnya banyak sekali lalu lalang orang berjalan di tepian pinggiran jalan. Siang itu tidak banyak pengunjung ada di cofe shop, bukan hanya secangkir kopi hangat khas Arabian yang bisa di nikmatinya, tapi aneka ragam kue kering juga bisa di nikmati.

"Ibu tidak perlu bersedih begtiu, saya pastinya akan tetap mencari keberadaan Sabrina. Lagian saya masih tidak berlayar sampai waktu tidak tahu kapan, Bu" beranjak bangun Hasan sambil meletakan berapa lembar uang pecahan 50 Riyal di atas meja. Mereka berdua lalu berjalan kearah pintu, sebegtiu sopannya Hasan membukan pintu untuk Ratih lantas berjalan duluan keluar. Dengan penuh senyuman pemilik cofe shop yang masih keturunan Arab menundukan setengah badannya memberi hormat, seraya menanti kedatangan mereka berdua lagi.

Lihat selengkapnya