Dekat Tapi Terasa Jauh
Suasana Pasar Jafariyah semakin siang makin sepi. Hanya berapa pengunjung saja yang terlihat keluar masuk toko. Padahal sinar terik matahari makin menyengat, pastinya akan menambah haus dahaga setiap pemilik kerongkongan.
Mulai ada rasa bosan yang menggelayuti perasaan Sabrina, wajahnya saja tampak murung kadang melihat kedepan toko yang memang saling berhadapan. Mungkin toko milik Yakop, tidak seberuntung toko yang ada di depannnya masih ada pengunjung keluar dan masuk, pastinya untuk membeli.
Kadang bangun, kadang dirinya duduk di kursi depan toko, ya barangkali saja ada pengunjung ingin membeli barang yang di toko lainnya tidak ada. "Toko Nur, milik Pak Yakop tidak seramai musim haji. Di mana bila hari biasanya, hanya kemurahan Allah saja barang-barang di sini bila laku terjual, Sabrina" sudah berdiri Sarip di sudut kiri depan toko, seakan dirinya ingin menjelaskan pada Sabrina cuman terduduk cuek saja.
"Sabrina benar kamu ingin niatkan naik haji?" makin mendekat Sarip bertanya pada Sabrina sedikit melempar senyuman. "Bila Allah mengizinkannya, Sarip" jawab Sabrina beranjak bangun melirik irham putih tidak jauh dari hadapannya.
Tangan kiri Sabrina mengelus irham itu, hasrat hatinya makin bersedih pastinya terekam benak niat yang tidak kesampaian. "Allah, pasti akan tetapi janjinya, Sab. Yakin'kan saja niatmu itu" seolah-olah Sarip ingin kasih semangat pada Sabrina hanya tersenyum saja.
"Bila kau suka dengan irham itu? Ambil dan pakai saja, Sabrina" kata Yakop sudah berdiri di samping Sabrina hanya melirik saja. Betapa penuh keharuan raut wajah Yakop memandang wajah Sabrina, mungkin benak hatinya yang terdalam sedang membayangkan dirinya sedang memakai irham itu berada di Masjidil Haram, depan Ka'bah.
"Kenapa sedih, Sabrina?" tanya Sarip sambil mengambil irham di keluarkan dari mennequin. "Aku sedih saja. Betapa baiknya ibuku, sampai dia memberikanku satu set irham untuk ibadah hajiku ini. Tapi irham dan semuanya aku buang kelautan. Mungkin Allah marah padaku, dengan caraku diam-diam dan nekad untuk menyambangi rumahNya. Makanya Allah, ndak meridohi aku" sedih Sabrina hanya diam saja, dirinya tidak kuasa menerima pemberian Yakop, padahal irham itu jelas-jelas di sodorkan Sarip.
"Sab! Sabrina! Sabrina ... Kamu mau kemana ..." tidak kesampaian Yakop mengejar Sabrina keluar dari dalam tokonya padahal teriakan sudah kencang bikin berapa pemilik toko sempat melongok keluar ingin tahu ada apa.
"Sarip, lekas kejar Sabrina. Saya takut bila Sabrina di tangkap Polisi Kerajaan Arab" irham di berikan pada Yakop saat meminta Sarip cepat mengejar Sabrina. "Tolong bawa Sabrina pulang, Sarip" "Iya, Pak" jawab Sarip cepat berlari keluar, Yakop sangat berharap sekali pada Sarip bisa segera membawa pulang Sabrina.
Sinar matahari makin terik, lihat saja awan putih serasa tidak berani untuk sekedar bermain-main di depan bulatan besar matahari panas sekali. Malahan sinar terik matahari makin bikin setiap mahluk yang ada di negeri penghasil minyak terbesar di dunia, makin di bikin kehausan.
Warga keturunan Arab dan pendatang serasa berjalan tertib di pinggiran tepian jalan. Wanita berjalan dengan kerudung bercadar, pastinya juga dengan pakaian abayanya rapat dengan aneka macam warna tapi tidak mencolok. Begitu juga dengan lelakinya selalu menyapa melempar senyuman pada setiap yang di jumpainya. Pastinya dengan berpakaian tertutup dan sopan juga.
"Sab ... Sabrina ..." teriakan makin terdengar bikin berapa wanita yang sedang berjalan sontak minggir saat Sarip berusaha masih mengejar Sabrina makin tidak terjangkau larinya sangat cepat sekali.
Sabrina memang sudah terbiasa lari cepat, saat berada di Surabaya, dirinyakan sering berlari berebutan mendapatkan rejeki untuk mengangkut sayuran. Sarip saja masih kalah cepat larinya, lihat saja sampai dirinya ngos-ngos'an tidak bisa mengejar Sabrina.
"Haduh ... Sabrina ..." mengatur napasnya dulu Sarip berdiri di depan areal kawasan Masjidil Haram, dirinya rada takut juga saat banyak sekali Polisi Kerajaan Arab sedang berjaga-jaga. "Aduh bagaimana ini?" guman Sarip ketakutan sontak mundur, padahal dirinya harus membawa pulang Sabrina.
Pusing kepala Sarip, seperti ada burung muter-muter di kepalanya. Pastinya dirinya akan di marahi Yakop, karena tidak bisa membawa pulang Sabrina. "Haduh ... Bagaimana ini? Pasti, Pak Yakop marah samaku?" guman dalam hati Sarip ketakutan berdiri meneduh di bawah payung raksaksa sambil melirik melihat kearah Polisi Kerajaan Arab masih berjaga-jaga.
"Ya Allah, langkahku semakin dekat denganMu. Tapi aku sadar, Ya Allah. Dekatku denganMu, terasa jauh sekali aku mendekatimu" sedih tidak terbendung linangan deraian air mata Sabrina tidak kuasa bercucuran menetes basahi wajahnya. Pandangannya hanya melihat dari kejauhan begitu megahnya Masjidil Haram.
Tidak bergeming langkah kakinya untuk makin mendekati, seperti ada benteng pemisah jarak yang sangat jauh sekali. Walau dirinya saat itu berdiri di depan pintu masuk Masjidil Haram, saat itu sedang tidak di jaga Polisi Kerajaan Arab.
Dua matanya tertujuh, bak mengumandang kagum menatapnya. Ka'bah terbalut kain kis'wah seraya dalam hatinya makin menyebut nama kebesaran Gusti Allah. "Sungguh besar keagunganMu, Ya Allah. Tiada tempat memuji selainmu, Ya Allah. Hanya nama dan kebesaranMu, yang selalu menjadi sandaranku" guman dalam hati Sabrina makin memuji kebesaran Allah.
Baru saja langkah kaki kiri nakalnya akan maju selengkah tapi malahan terhenti. "Madha tafeal hunaka?" (sedang apa kamu di situ) teriak Polisi Kerajaan Arab mergoki Sabrina tidak jadi langkah kaki kanannya akan maju.