Nasib Baik Masih Berpihak
"Gawat! Gawat!" ketakutan makin mendera menghujam hatinya Sarip ketika melihat Sabrina di kejar berapa anggota Polisi Kerajaan Arab. "Sabrina ..." mungkin saja teriakan Sarip akan menolong Sabrina, tapi malahan terjatuh karena saking licinnya lantai.
"Diam kamu!" "Ampun! Lepaskan saya!" sempat terjatuh Sabrina dan akan beranjak bangun tapi malahan sudah keduluan Polisi Kerajaan Arab membentak Sabrina merontah minta ampun dan di lepaskan.
"Sabrina?" "Pak Azis, tolong lepas'kan, saya" tidak enak hati Azis cepat melepaskan saat tahu siapa yang di tangkapnya. Makin bingung dan makin merasa kasihannya Azis pada Sabrina terus memohon menarik kaki kirinya dengan dua tangannya.
"Qubid ealaa tilk alfataa!" (tangkap gadis itu!) terdengar dari salah satu anggota Polisi Kerajaan Arab makin mendekati. Azis seraya tidak berdaya, padahal dirinya sudah wanti-wanti pada Sabrina agar tidak kemana-mana dulu. Kenapa Sabrina bisa keluar dan sekarang bisa tertangkap Polisi Kerajaan Arab.
"Sab" tidak jadi Sarip meneriaki memanggil Sabrina dari balik tiang payung lipat besar memayungi dirinya dari sengatan terik matahari. Sarip serba salah tidak bisa menolong Sabrina, bila dirinya berusaha menolong Sabrina, maka dirinya yang akan tertangkap. "Saya harus kasih tahu, Pak Yakop" pelan-pelan sambil mengendap-endap Sarip berjalan lalu berhenti di setiap tiang payung raksaksa.
Pastinya hukum berat sudah menanti Sabrina, raut wajahnya hanya terdiam pasrah seraya sebentar lagi lehernya sungguh-sungguh akan tergantung. Hanya sepi menemai dirinya dalam kurungan kerangkeng penjara. Besi-besi kokoh kuat memanjang, tidaklah mungkin bagi siapa saja yang sudah terpenjara bisa keluar.
Sabrina terduduk di lantai, punggungnya di sandarkan pada tembok dengan dua kakinya saling melepit bersila. Untung saja pakaian abaya yang di pakainya berwarna gelap, jadi tidak masalah bila dirinya duduk berlama-lama di lantai. Hijabnya makin menutupi wajahnya, masih menyimpan kesedihan yang mendalam.
Tidak ada makanan sedikitpun, padahal perutnya tidak bisa menahan rasa lapar. Air saja hanya tersisa sedikit di dalam botol kemasan plastik, ragu rasanya bila Sabrina meminta minum dan makan. Pastinya Polisi Kerajaan Arab akan makin memarahi dirinya karena memang sudah berbuat salah.
"Bodohnya aku, kenapa aku ndak dengarin kata-kata, Pak Azis" sesal makin tergambar di wajahnya Sabrina beranjak bangun mendekati besi tralis mengurung dirinya. Berapa kali gembok besar di gerak-gerakan tangan kirinya, tetap saja sampai kapanpun gembok itu tidak akan bisa terbuka karena anak kuncinya tidak tahu berada di mana.
"Ya Allah, ini'kah janjiMu? Ini'kah caraMu menepati janji?" guman dalam hati Sabrina, tapi dirinya malahan sedih merasa telah menyalahi Allah. "Masya Allah. Istighfar, Sabrina. Kamu ndak boleh menyalahkan, Allah. Mungkin ini hanya cobaan, yang sedang Allah berikan padamu. Allah, ndak mungkin memberikan cobaan berat, di luar dari kekuatan manusia itu sendiri" terduduk sedih Sabrina, wajahnya berada celah dua jeruji besi penjara sambil merasakan sedih yang makin mendalam, dengan dua tangannya tidak mau melepaskan besi jeruji penjara.
"Ana lam 'asriq alhaqibata. Laqad wajadt alhaqibat ealaa alshaati" (saya tidak mencuri tas itu. saya temukan tas itu di pantai) terduduk lesu lelaki berpakaian kumal berwajah lusuh. Rambutnya ikal, rasanya sudah berapa hari tidak terkena air. Lelaki yang masih keturunan Arab itu masih tidak mau mengakui bila dirinya tidak mengambil tas, dirinya mengakui bila menemukannya di tepian pantai Al Fanateer.
"Aqsam biallah ani lam asriq alkis" (saya bersumpah bila saya sungguh tidak mencuri tas itu) makin mengelak membela dirinya lagi lelaki keturunan Arab melirik kearah penjara, terduduk masih Sabrina sedikit meliriknya. Ada perasaan takut yang makin mendalam menggelayuti ketakutan lekaki keturunan Arab itu, bila dirinya tidak mau di penjara seperti Sabrina.
"Sahih 'anak lam tasriq hadhih alhaqibata?" (apa benar kamu tidak mencuri tas ini?) tegas Azis bertanya menatap ketulusan ada ketidak bohongan pada dua mata lelaki keturunan Arab makin ingin membela dirinya, bila dirinya sesungguhnya memang tidak mencuri tas yang tergeletak di atas meja.
Azis mulai sedikit percaya, dirinya sesaat duduk berhadapan perhatikan wajah ketakutan tapi sesungguhnya memang terlihat dari lelaki itu, bila dia memang bukan seorang pencuri. Mungkin saja dirinya homeless, lelaki yang tidak punya tempat tinggal dan tinggalnya tidak menentu.
Dua mata Sabrina mulai rada terpancing saat melihat tas ransel hitam besar tergeletak di atas meja dengan duduknya Azis. Pikiran Azis masih setengah tidak percaya, apakah dirinya akan melepaskan begitu saja homeless itu. "Pak Azis!" sontak tidak jadi Azis akan menarik reseleting tas ransel saat matanya menoleh kearah Sabrina sudah berdiri tunjuk-tunjuk kanannya kearah Azis.
"Ya, Sabrina?" "Itu? Itu? Tas itu milik saya, Pak Azis" Azis beranjak bangun dan menunjukan tas ransel hitam pada Sabrina. "Tas ini kepunyaanmu, Sabrina?" cepat langkah Azis menghampiri Sabrina, wajahnya makin sumringah bahagia sekali. Mungkin hatinya kecilnya menyesal telah menyalahkan Allah, atas apa kejadian yang sedang menimpanya.
"Benar, Pak Azis. Tas itu milik saya?" tapi tidak begitu saja langsung percaya Azis, dirinya tidak lantas memberikan tas tersebut pada Sabrina. Azis hanya beriri di depan jeruji besi penjara, berapa kali dua tangan Sabrina ingin menjangkau tas ransel tetap tidak bisa.
"Buktinya apa Sabrina, jika tas ini milikmu?" tas di sentakan tangan kanan Azis masih belum percaya. "Di dalam tas itu, ada pasport, dokumen dan surat-surat ID saya, Pak Azis" benar-benar yakin sekali di wajahnya Sabrina meyakinkan Azis cepat membuka reseleting tas yang di akui Sabrina.
Lelaki yang di sangkahkan pencuri tas, akan berdiri tidak jadi lantas dirinya kembali terduduk saat di pelototi Azis sembari menyibak isi tas ransel. Wajah Azis makin yakin penuh senyuman, bila benar tas itu adalah miliknya Sabrina. Benar saja ada Pasport, KTP dan ID lainnya benar-benar menyatakan itu miliknya Sabrina.
"Ya Allah, maaf'kan aku. Aku sudah bersuudzon padaMu, Ya Allah. Padahal Engkau Maha Tahu Segalanya. Engkau tidak akan memberikan cobaan padaku, di luar batas kemampuanku menerima cobaan itu" Sabrina sadar bila dirinya sudah bersuudzon pada Allah, yang nyatanya pelan-pelan masalah yang di hadapinya bisa di atasinya.
Azis langsung membuka gembok jeruji besi penjara dan segera membebaskan Sabrina. "Terima kasih, Pak Azis" " Ingat Sabrina, besok kamu harus melapor pada Kedutaan Indonesia. Nasib baik masih berpihak pada kamu" dengan ketulusan hati Sabrina mengucapkan terima kasih sambil menyalami tangan Azis makin ikut terharu sedih.
"Terima kasih'lah dengan orang itu. Karena dia telah menemukan tas kamu, Sabrina" begitu rendah hati dan tidak ingin di hormatinya Azis malahan meminta Sabrina mengucapkannya pada lelaki yang menemukan tasnya.
"Ini, ini ambil saja uang ini untuk kamu" tidak tahu ada berapa lembaran uang kertas pecahan rupiah segera di berikan pada lelaki penemu tas miliknya Sabrina. Hanya tertegun bingung homeless itu melihat berapa lembar uang kertas pecahan rupiah. "Kamu masih kurang? Ini, ini ambil saja buat kamu" di ambil lagi uang dari dalam tasnya, kemudian di berikan pada homeless penemu tas Sabrina.