Satu Hati Diantara Tiga Lelaki
Senja mulai nampak, sinar matahari semakin menepi kepraduannya. Awan kelabu makin berani menyatakan segera akan semakin gelap, pastinya malam akan segera datang. Tas ransel hitam semakin di jaganya, seraya dirinya sedang menggendong bakul keranjang di belakang pundaknya. Langkah kecil berjalan beralas sepatu kets putih terkurung dengan busana abaya, warnanya makin mulai termakan gelap malam. Hanya samar terlihat dari kejauhan dua langkah kaki Sabrina berjalan menuju rumah Yakop, tapi tetap masih terlihat hijap putih cerah semakin jelas terlihat walau di telan gelapnya malam.
Raut wajah sumringh terus mengiringi derap langkah penuh kepastian, serasa Allah semakin menjawab keinginan yang tertunda Sabrina. Dari kejauhan lagi-lagi penuh decak kagum dari dalam lubuk hati yang terdalam, sampai membius dua matanya Sabrina ketika melihat cahaya lampu menerangi kubah Masjidil Haram.
"Ya Allah, dekatkan aku selalu padaMu. Hanya padaMu, jiwa ragaku selalu kuserahkan segenap hati ini. Tiada yang lain, selain diriMu tempatku memohon. Ya Allah, yakinkan aku tidak selalu berburuk sangka padaMu. Aku yakin, janjiMu pasti menepatinya" sontak saja kilauan sorot cahaya yang menerangi sekitar Masjidil Haram, semakin membius dua mata Sabrina. Seakan bayangan Masijil Haram masih terus membekas tidak mau beranjak pergi dari pelupuk dua matanya.
Kilauan sorot lampu motor dan mobil makin menerangi jalan di sertai suara klakson bergantian terdengar, hanya senyuman lirikan dua mata seraya masih saja belum hilang dari dua pelupuk matanya Sabrina, bayangan Masjidil Haram seraya masih terbayang terus. Langkahnya kembali berjalan susuri tepian jalan, pertokoan mulai tutup tapi tidak pada hotel-hotel masih terbuka lebar-lebar pintunya menanti calon tamu yang menginap datang.
"Aku ndak tahu harus kemana lagi?" sontak dua kakinya terhenti karena tidak tahu lagi harus melangkah kemana lagi. "Tin ... Tin ..." suara klakson saling terdengar dengan sorotan kilau lampu menyilaukan dua mata Sabrina berdiri di tepian jalan. Cobaan lagi mulai memeluk Sabrina, kali ini dirinya tidak tahu jalan pulang dan pastinya akan tersesat.
"Aku ndak tahu ini di mana?" guman dalam hati Sabrina sambil dirinya berputar-putar berapa kali, yang ada dirinya seraya di kurung dalam himpitan gedung-gedung besar membisu terbalut malam. Mulai dirinya terpancing sedih, serasa Allah kembali mulai mencoba dirinya. Tapi Sabrina tidak mau menyalahkan Allah lagi, pastinya dirinya masih bisa mengatasi cobaan ini.
"Aku ndak mau lagi-lagi menyalahkan, Allah. Aku harus yakin bisa pulang" mungkin saja derap dua langkahnya makin yakin mengajaknya kembali berjalan, lihat saja raut wajah Sabrina berusaha meyakinkan hatinya untuk tetap yakin bisa kembali pulang.
"Loe harusnya ngomong sama gua, San! Kalau loe anak angkatnya Bu Ratih, ibunya Ricky!" rada kencang suara Yoga dekati kuping Hasan tetap kendarai stang motor susuri jalan mulai terlihat sepi. Hasan hanya diam, dirinya merasa tidak enak hati dengan Ricky. Pastinya Ricky sudah menuduh dirinya macam-macam berhubungan dengan ibunya.
Tidak sengaja dua mata Hasan melirik ketepian pinggiran kiri jalan, tapi hatinya tidak yakin yang di lihatnya itu adalah Sabrina. "Itu Sabrina!" cengkraman tangan kanan Hasan pada pedal rem bikin motor berhenti mendadak. "San, kenapa berhenti?!" dada Yoga sontak kedepan terkejut. "Itu! Itu Sabrina!" sambil buka helm Hasan tunjuk kearah sisi kiri tepian jalan.
Benar saja terlihat samar gelap cahaya penerangan lampu jalan, tapi tidak lantas bikin Yoga yakin. Yoga sesaat masih duduk boncengan, wajahnya menoleh kearah sisi kiri tepian jalan. "Sabrina!" cepat kaki kanan Yoga di hentakan turun, hampir terkena punggung Hasan refleks langsung menundukan kepalanya.
Hasan tidak mau kalah cepat kali ini, bila dirinya memang suka pada Sabrina dan tidak mau keduluan Yoga yang sudah menghampiri Sabrina. "Sabrina ..." teriakan Hasan sempat bikin Sabrina berhenti langkahnya melihat samar-samar dua lelaki berjalan cepat di hadapannya. "Sabrina ..." kompak teriakan Hasan dan Yoga makin jelas suaranya.
"Hasan? Yoga?" senyum-senyum terumbar dari dua cowok tampan sudah berdiri di hadapan Sabrina mulai salah tingkah. "Sabrina?" lagi-lagi barengan Hasan dan Yoga memanggil manja Sabrina makin malu. "Udah loe aja, San" seraya mengalah Yoga tahu bila Hasan juga menyukai Sabrina. Tapi Hasan sadar dirinya, bila Ratih juga sedang mencari Sabrina. Hasan tidak mau melukai hati perasaan Ricky, anaknya Ratih yang sedang mencari Sabrina.
"Sabrina, ada orang yang ingin bertemu denganmu" rasanya Hasan sadar diri, bila dirinya tidak berhak mengejar Sabrina. Dirinya semakin sadar diri harus bisa merelahkan hatinya terperosok jauh dalam jurang sepi tanpa berharap lebih banyak pada Sabrina. Hasan hanya ingin Sabrina kembali pada Ricky, pastinya Ricky akan bertambah kecewa bila Sabrina, pacarnya juga di rebutnya juga.
"Benar, Sab. Ada orang yang ingin ketemu loe" tentu makin bingung sampai dahinya Sabrina berkerinyit dengan alis yang memayungi mata kecilnya juga ikut merasakan bingung. "Ada orang yang mau ketemu denganku?" balik tanya Sabrina makin bingung dan penasaran membungkus raut wajahnya. Hasan dan Yoga hanya diam saling melirik, kayaknya hati mereka mulai kompak untuk tidak ingin lagi mengejar perasaan mereka berdua buat merebut hati Sabrina.
Yoga mundur lalu menjauh, dirinya seperti sedang menghubungi seseorang dengan ponselnya. Sekali-kali wajahnya melirik kearah Sabrina dan Hasan seraya dirinya ingin sekali mengungkapkan perasaanya pada Sabrina. Hanya tatapan kesenduan dua matanya saja yang berani, hatinya semakin ingin sekali mengucapkan, lihat saja dari tadi bibirnya Hasan ingin sekali berkata, tapi tidak berani.
"Aku ndak bisa?" guman makin tidak berdaya serasa meleleh hatinya Sabrina seraya di sirami air sejuk dari lereng gunung yang dingin. Tatapan dua mata Hasan makin mencongkel hati Sabrina makin tidak berdaya seraya pasrah bila dirinya mau di bawa kemana saja. "Aku ndak bisa, Hasan" ucap terdengar pelan tapi jelas di dengar Hasan malu hati.