Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #41

Part #41

Hanya Satu

"Kamu bagaimana, Sarip?!" menahan emosinya Yakop kesal hanya membiarkan Sarip berdiri di depan pintu, padahal malam makin larut. "Tadi saya sudah berusaha mencari lagi di kawasan Masjidil Haram, tapi tidak ada. Saya mau kekantor Polisi, saya takut" mungkin itu yang jadi alasan kenapa Sarip sampai pulang selarut malam begini.

"Ya sudah, masuk kamu sana!" makin kesal Yakop, tapi dirinya tidak lantas masuk kedalam rumah saat Sarip sudah masuk duluan kedalam. Kelihatan bangat raut wajah cemasnya Yakop, dirinya masih berdiri di depan pintu barangkali saja Sabrina pulang. "Kasihan Sabrina, bila sampai tertangkap Polisi Kerajaan Arab" guman dalam hatinya Yakop makin di selimuti kecemasan di wajahnya.

Kecemasan makin membaluti wajah lusuh tuanya, dirinya masih berdiri di depan pintu toko. Malam semakin larut, semakin membungkus relung hatinya terbalut dalam kesendirian penuh kecemasaan masih berharap cemas menunggu Sabrina. Begitu indah sekali sinar rembulan malam, sinarnya terang biasanya ada awan nakal menghalanginya. Tapi kali ini sinar rembulan begitu tampak membuat yakin hatinya Yakop, bila Allah akan menjaga Sabrina. Ya, Sabrina yang mungkin saja telah mengobati kerinduan hatinya dengan anaknya yang telah tiada. "Saya yakin padamu, Sabrina. Bila Allah akan selalu menjagamu" tersenyum sumringah Yakop wajahnya terus memandangi rembulan bulat sempurna yang juga tidak bosan-bosannya membalas wajahnya.

Ada rasa marah terhalang relung hatinya Ricky perhatikan wajah Hasan serasa dirinya hanya bisa pasrah bila seluruh tubuhnya di hujami hantaman bogem kepalan mentah dua tangannya Ricky. Yoga seakan tidak berdaya, dirinya cuman jadi wasit berdiri di antara dua lelaki yang siap berjibaku membela dirinya dengan segudang alasan yang akan merontokan egoisnya hati mereka.

Pinggiran tepian jalan makin sepi, hanya sekali-kali warga lokal lewat terlihat berjalan. Lihat saja toko-toko makin tertidur dalam kebisuannya, karena esok harinya toko itu akan kembali buka. Pastinya masih banyak juga mobil lalu lalang lewat di hadapan tiga pasang mata yang serasa acuh, tidak peduli dengan suara klakson dan suara deru knalpot semakin terdengar.

Makin terlihat samar wajah tampan tiga lelaki berwajah tampan berdiri di bawah sinar cahaya lampu penerangan jalan. Layaknya mereka bertiga berjalan di atas catwalk, dengan wajah Ricky semakin menahan emosinya dan Hasan berusaha tenang. "Loe berdua bisa ngak, ngak terus-terusan begini aja!" kesal Yoga melihat langkah jalannya berhenti di tengah Hasan dan Ricky. "San, lebih biak loe terangan aja sama, Ricky! Apa hubungan loe dengan ibunya, Ricky!" hanya tatapan dua mata Hasan seakan tidak berani menatap wajahnya Ricky menahan marahnya lalu terduduk di tepian jalan.

"Dalam diri gua saat ini, orang yang gua cintai hanya satu. Selain, gadis yang baru saja lari. Yaitu, ibu gua. Tapi kenapa ibu gua kok menjalin hubungan sama lelaki yang sebaya sama gua dan kenapa juga juga ibu gua ngak ngasih tahu gua!" semakin tidak berani Hasan serasa mulutnya terkunci jadi pengecut untuk menjelaskan sebenarnya hubungan dirinya sama Ratih, ibunya Ricky.

"Udeh loe jelasin aja sama, Ricky! Jangan ngelihatin gua aja!" kesal Yoga seraya membentak memaksa Hasan agar segera menjelaskannya pada Ricky. Bukan penjelasan yang Ricky tunggu dari Hasan, ini malahan Hasan terduduk di samping Ricky rada sebal geser duduknya kesisi kiri. Sedangkan Yoga hanya berdiri di hadapan mereka, mungkin itu tugas dan fungsinya wasit bila benaran terjadi baku hantam, dirinya cepat memisahkannya.

"Sama hal dengan saya, Ricky. Setelah saya di tinggal dua orang tua saya pergi selama-lamanya menghadap, Allah. Curahan kasih sayang saya hanya satu, yaitu pada ibu yang telah sebegitu sayangnya penuh ketulusan mengangkat saya sebagai anak angkatnya dari Panti Asuhan. Yang mana saat saya masih berumur 8 tahun, betapa inginnya saya mendapatkan pelukan dari seorang ibu. Begitu juga teman-teman saya, mereka semuanya saling berlomba-lomba dengan mamerkan ketulusan sikap dan tingkahnya, agar mereka jadi pusat perhatian dari calon orang tua yang akan mengadosinya. Tapi saat itu Bu Ratih, ibumu jatuh pilihannya padaku, Ricky. Hinggah dia mengangkatku sebagai anaknya, penuh kasih sayang dan ketulusan Bu Ratih merawatku. Hanya satu, hanya dia saat ini yang jadi tumpuan hidupku" beranjak bangun Hasan setelah menjelaskan ceritanya masa lalunya pada Ricky masih terduduk, wajahnya masih tidak terima dengan penjelasan Hasan.

"Loe udah paham'kan, Rick?! Jadi hubungan Hasan sama ibu, loe itu hanya hubungan antara anak dan Ibu doang! Salahnya ibu loe kenapa ngak terus langsung sama loe!" di timpali Yoga seakan ingin memperjelas sangkarut marut otak pikirannya Ricky sudah salah paham, pastinya Hasan mendekati Ratih hanya ingin memoroti hartanya saja.

"Seorang ibu yang bernama Ratih, di begitu amat baik sekali buat saya. Dia merawat dan membesarkan saya, hinggah saya sampai seperti saat ini. Saya juga tidak tahu selama saya jadi anak angkatnya, Bu Ratih tidak pernah mengatakan bila dia sudah punya seorang anak. Tapi dia selalu mengatakan, bila dirinya selalu berdiri penuh kasih sayang dan ketulusan berdiri di antara dua anaknya. Ternyata anak itu kamu, Ricky" tangan kanan Hasan di ararkan pada pundak kanan Ricky, seraya ingin mengibahnya Hasan berusaha pasrah dengan segala keputusan Ricky.

Lihat selengkapnya