Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #42

Part #42

Satu Cinta & Tiga Lelaki

Mungkin saja langkah jalan Hasan, Yoga dan Ricky mencari Sabrina kalah cepat dengan langkah lari yang saat ini dirinya juga tidak tahu berada di mana. Tepian jalan yang di tapaki dua langkahnya semakin tidak tahu mengajak dirinya berjalan kemana. Hanya lorong buntu gelap yang selalu di temui Sabrina, tentu semakin putus asa dirinya mencari jalan pulang. Tapi untung saja di dalam tas ransel besar berwarna hitam, ada penolong dirinya, bila di jalan nanti dirinya bertemu dengan Polisi Kerajaan Arab. Makanya Sabrina sudah bisa menunjukan suarat-surat lengkap dirinya, tapi tetap ada rasa takut yang berkecamuk dalam hatinya, lihat saja dua matanya ketar-ketir juga berjalan sendirian di tepian pinggiran jalan.

Padahal Sabrina sudah tidak jauh dari rumah dan toko miliknya Yakop, sudah berapa kali dirinya memutari jalan, tapi tetap saja tidak di temukan rumahnya Yakop. Padahal malam makin semakin larut, semakin mulai terlihat awan-awan hitam nakal menghadang padangannya untuk melihat sinar rembulan bulat indah. Dirinya berdiri di tengah pasar, dirinya hanya di kelilingi toko terdiam sepi. Tapi kenapa wajahnya tersenyum, lihat saja ternyata hatinya tersenyum sontak menyalurkan pada dua mata lentik melihat bayangan tiga lelaki dalam lingkaran bulan. Rembulan bulat terlihat dalam bayangan dua matanya, ada wajah tampan Hasan, Ricky dan Yoga juga melempar senyuman pada dirinya.

"Aku ndak mungkin berdiri dalam satu cinta, di antara tiga lelaki yang begitu sangat baik sekali padaku" sebentar tersenyum Sabrina membalas senyuman tiga lelaki tampan itu dalam bayangan rembulan bulat. Sinar cahata kilau lampu motor sudah ada di belakang Sabrina, sontak ketakutan Sabrina melirik semakin dekat langkah terbalut seragam Polisi Kerajaan Arab. "Tunggu!" makin ketakutan, makin ketar-ketir terpacu kencang jantung Sabrina.

"Ya Allah, aku ndak mau di tangkap lagi. Itu Polisi Kerajaan Arab, pasti dia mau nangkap aku lagi" guman ketakutan Sabrina, dua langkah kakinya membandel ingin melangkah. "Jangan tangkap saya. Saya punya kok pasport dan dokumen lainnya" lirikan mata kanan Sabrina melirik pentungan karet sudah mendarat di bahu kanannya, tapi makin samar tidak terlihat siapa Polisi Kerajaan Arab sudah berdiri di belakangnya.

"Sabrina, kamu belum pulang?" "Ya Allah, Pak Azis" sontak berbalik Sabrina rada tenang hatinya karena yang berdiri di belakangnya ternyata Azis. "Saya tersesat, sudah berapa kali saya mutar-mutar tapi tetap saja ndak ketemu rumahnya, Pak Yakop" makin tenang wajahnya Sabrina melihat Azis hanya tersenyum saja.

"Ya sudah, saya antarkan kamu pulang" sebentar Azis matikan motornya dan mengambil anak kuncinya yang masih menggantung di sisi kanan motor. Ternyata dari Sabrina sejak dari tadi berdiri, rumah Yakop sebenarnya tidak jauh. Mungkin karena malam, apalagi sudah sejak dari tadi siang Sabrina sudah capek berada di kantor Polisi Kerajaan Arab, membuat dirinya semakin lelah.

"Itu" tunjuk pentungan Azis kearah "Toko Nur" memang papan nama toko tersamar gelap. "Dari tadi aku sudah mutar-mutar berapa kali di sini, Pak Azis. Tetap saja ndak ketemu" rasa malu bercampur lelah makin menggelayuti wajah Sabrina melepaskan tas ranselnya dan di letakan depan pintu toko. "Pak Azis" terhenti langkah Azis akan mendekati motor yang tidak jauh dari hadapannya.

"Terima kasih sudah banyak membantu saya" ungkap penuh ketulusan dari bibir kecilnya Sabrina, seraya dirinya begitu banyak berhutang budi pada Azis yang telah banyak membantunya. "Sebentar lagi musim haji akan segera datang, Sabrina. Di mana banyak Hamba Allah datang untuk memenuhi undangan Allah, termasuk kamu Sabrina. Yakin'kan bila Allah akan selalu menepati janjinya" tersenyum wajahnya Azis seraya yakin dengan segenap cita-citaya Sabrina.

Hanya tersenyum Sabrina perhatikan kilau sorot lampu motor yang sudah di naiki Aziz, motor berjalan pelan susuri jalan sekitar pasar. Tapi tidak lantas Sabrina masuk atau ingin mengetuk pintu, pastinya Yakop akan sedikit merasa lega dengan kepulangan Sabrina. Tapi mungkin saja karena malam semakin larut, pastinya Yakop sudah terlelap dalam tidurnya. Maka Sabrina tidak mau mengetuk pintu dan mengganggu Yakop, Sabrina tersenyum duduk senderan pintu. Lagi-lagi wajahnya membalas senyuman rembulan bulat indah, kali ini tidak di halangi dengan awan nakal.

"Aku ndak tahu, kenapa Ricky bisa sampai datang kesini?" makin tersenyum wajahnya tapi tetap rasa kebingungan menyelimuti hati perasaan Sabrina dengan keberadaan Ricky. "Tapi kenapa juga Ricky bisa bersama dengan Hasan dan Yoga?" makin bingung wajah dan hatinya Sabrina menarik tas ranselnya lalu di jadikan ganjalan bahu kanannya. Sabrina terbaring miring, sisi wajah kirinya di daratkan pada tas ranel dan dirinya terbaring di depan toko terbalut malam.

Lihat selengkapnya