Mengalah Untuk Persahabatan
Makin dekat kilauan sorot lampu motor, makin mendekati langkah kaki makin berjalan lambat. "Ala ayin antam althalathat dhahibuna?" (kalian bertiga sedang apa di sini?) cepat turun Azis dari motornya menghampiri Hasan, Yoga dan Ricky. Mereka bertiga rada ketakutan, pastinya Azis akan bertanya banyak bahkan mencurigai mereka yang tengah malam buta berjalan di tengah pasar, saat Azis sedang pratoli malam.
Tidak menjawab, karena sudah di cekam ketakutan tiga lelaki berwajah tampan yang sebenarnya malam itu sedang mencari Sabrina. Lampu sorot kliauan cahaya motor makin menyorot wajah ketakutan Hasan, Yoga dan Ricky cuman saling melirik. Makin dekat Azis berdiri di hadapan mereka bertiga, tapi tetap saja bibir mereka seakan tidak mau menjawab. "Nahn althalathat nabhath ean fata" (kami bertiga sedang mencari seorang gadis) sahut Yoga terbata-bata berat rasanya mulutnya menjawab pertanyaan Azis.
"Malam-malam begini kalian bertiga sedang mencari seorang gadis?" balik tanya Azis tahu bila yang di tanyanya adalah orang Indonesia. "Be, benar" sahut Ricky juga rada ketakutan terbata-bata jawabanya. "Ini, ini fotonya" barengan ponsel di tunjukan pada Azis bingung karena dua ponsel di tunjukan ada gambar Sabrina di layarnya. Tentu saja Ricky juga bingung melihat Hasan dan Yoga kompakan tunjukin ponselnya pada Azis.
"Kalian besok siang datang kembali lagi kesini. Saya tunggu di sini" tidak banyak bicara Azis langsung kembali naik motornya, tapi makin di buat bingung Hasan, Ricky dan Yoga dengan jawaban Azis malahan sudah pergi dengan motornya. "Besok siang?" sahut Ricky masih bingung perhatikan Hasan dan Yoga cepat masukan ponsel kedalam saku celana mereka masing-masing.
"Gua tahu sekarang. Loe, San pasti di minta sama ibu buat nyari Sabrina'kan? Makanya loe punya foto, Sabrina?" hanya mengangguk jawaban Hasan, padahal hatinya bukan cuman di minta Ratih buat mencari Sabrina. Foto Sabrina, yang ada di galeri ponselnya selalu di pandanginya. "Saya tidak akan lagi mengejar Sabrina, Rick" tidak berani hati perasaan Hasan di ungkapkan lewat bibir kecilnya.
"Gua juga ngak mau lagi ngejar Sabrina" ikut-ikutan Yoga tidak berani menungkapkan perasaan hatinya, padahal dirinya juga menyukai Sabrina. Mungkin Hasan dan Yoga lebih pasrah saja, bila Sabrina memang lebih berhak yang memiliki adalah Ricky. Ricky hanya tersenyum, serasa hatinya tahu bila Hasan dan Yoga memang menyukai Sabrina.
Malam makin larut, sinar rembulan makin berpaling hilang perlahan dari pandangan. Tiga lelaki masih berdiri di tengah pasar, yang mana di janjikan Azis bila mereka bertiga besok segera kembali lagi siang. Mungkin Azis akan memberitahukan keberaadan Sabrina di mana. Tiga langkah pasang kaki kembali berjalan meninggalkan pasar yang sebentar lagi akan segera datang pagi.
Selepas selesai Sholat Subuh, Sarip kemudian melipat sazadah sambil dua matanya melirik Yakop tertidur di kursi, kedua kakinya memanjang terbaring di kursi kecil. Tersenyum kecil wajah Sarip perlahan mengajak dua kakinya menghampiri Yakop, ada rasa hatinya tidak enak hati untuk bangunkan Yakop. "Ya Allah lindungi dan jaga Sabrina di luar sana" guman dalam hati Sarip, wajahnya berseri-seri setelah dirinya mengadu pada Allah. Kain sarung kotak-kotak salur hitam putih membungkus setengah tubuhnya dan badannya di balut dengan baju kokoh lengan panjang warna putih.
"Pak Yakop" makin tidak teganya Sarip bangunkan Yakop. "Sabrina? Sabrina sudah pulang, Sarip?" sahut Yakop terjaga bangun sontak berdiri melirik kearah pintu masih tertutup. "Sabrina sejak dari semalam belum pulang" tidak jadi tangan kanannya Yakop akan mengetuk pintu, saat mendengar jawaban Sarip lihat saja wajahnya lagi-lagi di hujam rasa bersalah.
"Waktu Subuh hampir habis, Pak" sahut Sarip berjalan kearah ruangan tengah, di mana dirinya akan menuju ruangan tengah. Di mana dirinya akan mulai merapihkan dagangan setelah mengingatkan Yakop segera Sholat Shubuh hanya berdiri di depan pintu kamar. "Pak Yakop ..." tidak jadi langkah Yakop akan berjalan menuju kearah kamar mandi saat mendengar teriakan Sarip dari ruangan tengah yang sudah menyalah terang dengan sinar lampu.
"Sabrina bangun!" tangan kanan Sarip tidak berani menyolek Sabrina masih terlelap terbaring tidur di depan toko. "Pak Yakop, itu Sabrina" tunjuk tangan kanan Sarip minggir kesisi kanan ketika Yakop datang, sontak wajahnya langsung tersenyum bak di siram air sejuk dari surga ketika melihat Sabrina masih terbaring tidur di depan pelataran toko.
"Sabrina bangun" pelan halus terucap dari bibir Yakop memanggil Sabrina. Perlahan dua mata Sabrina terbuka melirik colekan sinar matahari sempat membuat dua matanya silau. "Pak Yakop?" sahut Sabrina langsung berdiri sambil mengucek dua matanya masih ada sisa belek. Hanya anggukan kepala di sertai senyuman tidak lagi terbalut kecemasan di wajahnya Yakop seraya bahagia sekali dirinya melihat Sabrina.
"Sab, udah sana mandi terus Sholat Subuh" seru Sarip tersenyum melirik Yakop wajahnya penuh kebahagian perhatikan langkah jalan masuk Sabrina menenteng tas ransel hitam di tangan kanannya. "Terima kasih, Ya Allah. Kau masih menjaga dan melindungi, Sabrina" guman dalam hatinya Yakop melirik sinar matahari kecil mulai menerangi setiap depan toko yang sebentar lagi akan buka.
Makin berseri-seri wajah tiga lelaki tampan berjalan menyusuri yang berhadapan dengan aneka toko Pasar Jafariyah, siang itu napas transaksi mulai kelihatan hidup lagi. Dalam benak ketiga lelaki tampan mungkin berharap bisa bertemu dengan gadis yang sedang di carinya, di mana mereka di janjikan agar kembali lagi oleh Azis.
Pengunjung Pasar Jafariyah, yang siang itu kebanyakan wanita muda bercadar hitam dengan pakaian abaya aneka warnanya serasa di sajikan tontonan gratis dengan di perlihatkan tiga lelaki tampan berdiri di di tengah-tengah Pasar. Rasa malu tidak enak hatinya Hasan, karena keberadaan mereka bertiga jadi pusat perhatian, tentunya mereka tidak mau melanggar tata etika kesusilaan aturan yang ada. "Yoga, Ricky lihat mereka. Kita jangan di sini, tidak enak di lihat mereka" ajak Hasan menepi kesisi ketoko bagian ujung jalan.