Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #46

Part #46

Rahasia & Cemburu

Mulai terasa sesak padat setiap lorong sudut dan toko, banyak terlihat Jamaah mulai berdatangan. Musim haji, musim yang di tunggu setiap pedagang yang adalah anugerah dari Allah. Karena bagi pedagang Pasar Jafariyah, hanya pada musim haji tiba mereka bisa menjual banyak dagangan. Hampir di padati warna dengan warna putih ihram, seraya putih menghiasi langit cerah.

Jamaah haru melakukan rukun haji wajib, itu juga tidak bisa di ganti dengan amalan lain maupun dengan membayar damĀ atau denda. Salah satunya harus memakai ihram, wukuf di Arafah. Tawaf ifdah, sa'i, bercukur dan tentu saja Jamaah harus tertib sesuai urutan yang di atur saat pelaksaan haji. Hampir semua Jamaah sudah melakukannya, sehinggah hanya menunggu waktu waktunya wajib haji dan ritulan haji yang kesemua itu Jamaah harus lakukan. Dan untuk saat ini bagi Jamaah adalah waktunya di saat lenggang, mereka bisa berbelanja oleh-oleh di Pasar Jafariyah.

Benar sibuk sekali Sabrina dan Sarip melayani dengan senyuman beraneka ragam acesoris dan souvenir di beli jadi buruan Jamaah dari banyak manca negera. Tapi ada tersirat di hatinya Sabrina, bila dirinya ingin sekali seperti Jamaah, yang sednag di layani. Di mana hatinya tentu sekali ingin memakai irham, tapi pastinya ada rasa ketakutan dirinya yang secara tidak resmi mengikuti ibadah haji. Rasa berdosa pasti akan terus menggelayuti hajinya dan tidak mungkin dirinya ingin memenuhi niatnya datangi Rumah Allah, tapi hatinya tidak jujur.

"Sabrina!" bentakan suara memanggil Sarip sempat di cuekin Sabrina cuman diam saja, saat Jamaah asal Indonesia menunjuk sazadah di hadapannya berapa kali. "Saya mau sazadah itu" sambil berucap dan telunjuk jari tangan kearah sazadah yang tergeletak tidak jauh dari Sabrina berdiri tapi hanya diam melamun saja.

"Ya Allah, ingin sekali aku memakai irham itu. Tapi aku ndak mau berbuat dosa saat aku meniatkan hajiku, Ya Allah" hanya terdiam seraya bibirnya ikut berguman tapi tidak sempat berkata tentang keinginannya yang terpendam dalam hatinya. Hanya tersenyum Jamaah, seorang wanita setengah baya perhatikan Sabrina.

"Sabrina jangan bengong aja! Onta di gurun mati karena kebanyakan bengong tuh!" saking sewotnya Sarip cepat menyenggol minggir Sabrina terbangun dari lamunannya. "Kamu pikir aku, Onta?!" senyum-senyum mungkin tidak enak hatinya Sabrina pada Jamaah yang sempat di cuekin tadi dan sekarang sedang di layani Sarip.

Lagi-lagi wajah Sabrina terpancing terkasima dengan seorang lelaki tampan sudah berdiri di hadapannya, dengan memakai gamis putih panjang. Wajahnya seakan tidak ingin berpaling dari hadapan Hasan, yang sengaja atau diam-diam datang menemui Sabrina. Sarip tidak bisa berbuat apa-apa dengan kedatangan Hasan, yang juga menatap sendu penuh ketulusan tersirat dalam hatinya.

"Saya tidak bisa berpura-pura untuk tidak mencintaimu, Sabrina. Cinta ini sungguh saya pendam sejak lama. Saya tidak tahu harus bagaimana untuk melemparkan sauh jangkar perasaan ini kedasar lautan hatimu?" makin penuh senyuman keyakinan dalam hatinya Hasan terus menatap wajah cantik Sabrina terbalut hijab merah muda dengan jumpsuit terusan berwarna biru muda.

"Ndak tahu kenapa, saat ada kamu San? Hati ini terasa bergetar hebat. Seperti hempasan gelombang besar, makin membenturkan lambung kapal, semakin lama semakin tidak berdaya. Tapi hati ini terasa diam tidak berdenyut untuk membalasnya, karena masih ada cinta di dalamnya" sesaat Sabrina sadar ketika melirik kedatangan Yakop sudah berdiri di sampingnya. Sontak Sabrina kembali melayani pembeli makin memadati toko, Hasan tidak hentinya terus mencuri wajah Sabrina di sela kerumunan pembeli.

"Sabrina" terdengar pelan panggilan dari mulut Yakop serasa tahu kedatangan Hasan untuk apa. "Kamu pergi saja dengan, Hasan. Biarkan saya dan Sarip melayani" sempat melirik dua mata Sabrina pada Sarip mengangguk saja tandanya tidak mengapa seraya paham dengan maksudnya Yakop. Seperti ada rencana terselebung yang di rencanakan Hasan, bila di lihat dari mimik wajahnya Yakop ada sesuatu yang di rencanakannya. Mungkin juga Yakop lebih yakin bila Sabrina bersama Hasan, karena dirinya telah mengenal siapa Hasan, jauh Yakop sebelum mengenal Ricky.

"Kapten Hasan" terhenti langkah Hasan, padahal hatinya bila ingin di kulik sangat bahagia sekali ingin cepat beranjak jalan bersama Sabrina juga hanya tersipu malu di raut wajahnya menunggu di depan toko. Gerakan bibir Yakop seperti mengandung pesan yang hanya mengangguk tersenyum Hasan melirik Sabrina. Pasar Jafariyah makin siang, makin mulai di padati banyak Jamaah berirham putih semuanya, seakan begitu teduh dalam pelukan kesucian hati mereka kesemuanya dengan raut wajahnya penuh tersenyum.

Dari sela pengunjung pasar dan kepadatan di setiap sudut toko, berdiri Ricky dengan raut wajah penuh kecemburuan bercampur sedih. Dua matanya hanya bisa berkaca-kaca menahan segala amarah murkanya, akan tetapi Ricky sadar bila dirinya saat ini tidak bisa berbuat apa. Dirinya seperti patung emas yang telah pudar karatnya, seakan hanya di biarkan membisu tanpa lagi tangan lembut Sabrina menyentuh hatinya.

Tawa canda dan senyum mengalir begitu saja membela sela pengunjung berpakain irham putih, seraya berkilau terpantul dua pasang mata yang sebegitu bahagianya tanpa pedulikan Ricky masih berdiri di tengah kerumunan pengunjung. Terasa tidak di pedulikan hatinya Sabrina, seraya dua matanya semakin buta tidak melihat bila Ricky, berdiri semakin sepi hatinya di tengah pelataran pasar. Ingin hati dan tangannya menghampiri dan menyapa Sabrina, tetapi Ricky sadar bila dirinya tidak ingin merebutnya dari Hasan.

Sedikit lirikan sinis dari dua matanya kearah toko, hanya berdiri Yakop tetapi dua matanya hanya tersenyum seraya di paksakan. Tidak tahu kenapa Yakop seakan tidak percaya dengan Ricky, dirinya lebih percaya dengan Hasan untuk seutuhnya bersama Sabrina. Siang makin terik, sinar teriknya makin membuat Ricky terasa terus di hantui rasa dahaga kecemburuan yang akan membuat hidupnya semakin tercengkram penjara cinta berada di gurun tandus tanpa adanya rintik hujan cinta lagi.

Lihat selengkapnya