Cinta Terpendam
Langit cerah berpihak pada dua langkah pasang kaki terus berjalan penuh keyakinan mantap, tetapi Sabrina makin penasaran bila dirinya akan di bawah kemana oleh Hasan. Serasa hatinya Sabrina makin terbuai dalam alunan musik surgawai serasa tubuhnya terus di liputi keyakinan ada cinta kepastian dari seseorang lelaki tampan, yang belum lama di kenal.
Hati dan perasaan Sabrina mungkin saja begitu egoisnya, sampai dirinya tidak perdulikan perasaan Rikcy yang mungkin saja saat dirinya berharap dapat lagi mereguk manisnya cinta. Tapi wajahnya hanya terlihat tersenyum melihat mencuri ketampanan wajahnya Hasan juga hatinya seakan tidak mau peduli dan menyingkirkan perasaan saat ini pada saudara tirinya, Ricky.
Tepian pinggiran jalan semakin ramai dengan lalu lalang warga lokal yang sebegitu ramahnya selalu melemparkan senyuman saat berpapasan dengan Hasan dan Sabrina membalasnya dengan penuh senyuman hangat. Kiri kanan tepian jalan, tampak berjejeran toko dan bangunan hotel yang seakan denyut nadinya makin berdenyut hidup pada saat musim haji telah tiba. Jalan raya juga tidak kalah sibuknya, mobil dan motor saling mengadu kecepatan berjalan, tetapi tetap menjaga kedisilipan berlalu lintas.
Trafic light terlihat lampu merah, motor dan mobil seketika berhenti di depan garis marka jalan. Senyuman sumringah terlempar menebar bahagia dari raut wajah Sabrina, seakan jaring senyuman tersangkut pada Azis semakin yakin dengan langkahnya Sabrina. Azis berdiri di tengah jalan marka jalan, tangan kananya menyetop mobil dan motor dan tangan kirinya di gerak-gerakan seoah-olah memanggil Sabrina dan Hasan agar cepat lewat berjalan.
Kumandang suara Adzan Dhuhur makin terdengar menggema, makin mantap tapi tidak hendak bertanya langkah jalan Sabrina, terus berjalan mengikuti langkah jalannya Hasan. Lantas mereka berdua berhenti di depan Masjid, hati mereka berdua terpanggil untuk mereka berdua segera makin mendekati pada Allah. Makin tersenyum hati dan wajahnya Sabrina, ketika melihat sebelumnya di sekitarnya sangat ramai sekali di jalan, dengan banyak orang berlalu lalang, kini terasa sepi saat terdengar suara kumandang Adzan.
"Kita Sholat Dhuhur dulu. Allah akan lebih sayang pada kita, bila kita selalu ingat dan taat dengan seruan dan panggilanNya" tanpa berkedip dua mata Sabrina hanya menatap bibir kecil Hasan berseru mengajak hatinya semakin yakin, bila semakin ada getaran dalam hatinya Sabrina berdiri di hadapan lelaki, yang sempat hatinya terpendam diam-diam mencintainya.
Dari kejauhan lagi-lagi dua mata Ricky menatap makin terasa cemburu mendalam mencongkel hati dan perasaan, dirinya semakin nyata untuk di tinggalkan Sabrina, gadis pujaan hatinya. Kepasraan makin mendera hatinya, tapi lihat saja dari raut wajahnya makin terasa cemburu membungkus wajah tampannya. Kembali berjalan Ricky menapaki dua langkah kakinya merasa tidak bisa lama-lama menahan rasa cemburu meninggalkan sepasang dua hati yang baru saja di pertemukan, tapi sudah melukai hatinya.
Saat Ricky sudah tidak lagi terlihat di sebrang Masjid, berbalik Sabrina perhatikan hanya sepi di hadapannya tidak lagi seseorang yang sedang menahan cemburu memperhatikan dirinya. Tersenyum penuh keharuan dua matanya Sabrina melihat dari depan Masjid, di mana Hasan mulai Sholat. Terharu berkaca-kaca dua mata Sabrina melihat kubah Masjidil Haram. "Ya Allah, pastinya hatiku saat ini di penuhi keyakinan, bila Kau akan menepati janjiMu" guman tersenyum dalam hatinya Sabrina makin berkaca-kaca dua matanya lalu berbalik.
Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Hasan sujud dua kali kemudian sujud di antara dua kakinya. Makin tertegun sadhu dua mata di sertai keyakinan dengan apa yang di lihatnya. Makin khusuk penuh ketulusan tersirat di raut wajah Hasan saat terdengar kecil suara bibirnya bergerak membaca shalawat Nabi Muhammad SAW. Makin yakin hati Sabrina, bila lelaki yang belum di kenalnya adalah lelaki yang dapat akan menyingkirkan Ricky dari relung hatinya yang paling terdalam.
"Sory, Ricky. Sebenarnya gua juga merasakan cinta yang terpendam pada Sabrina. Tapi karena gua ngak mau melukai persahabatan ini sama, loe. Gua berusaha melepaskan rasa cinta yang terpendam itu. Tapi pada kenyataannya Sabrina malahan berbalik membelokan busur panah cintanya dari loe. Gua ngak bisa apa-apa, Rick" terduduk berhadapan Ricky, Yoga sangat tahu apa yang sedang di rasakan sahabatnya itu. Mungkin Ricky sudah bercerita banyak tentang apa yang baru di lihatnya, bila benar kata Yoga. Busur panah hatinya Sabrina telah berbelok tidak mengarah padanya lagi.
Dua mata Ricky mulai merona berkaca memerah, bertanda kesedihan makin mendera hatinya menarik sampai kepelupuk dua matanya semakin tidak tahan membendung rasa cemburu bersalut kesedihan. "Diam-diam gua membangun bisnis ini, Yoga dari ketidaj tahuannya Sabrina yang sebegitu curiganya dengan gua. Mungkin selama gua menjalin hubungan yang ngak indah itu bersama Sabrina. Dia tahu apa yang gua jalani ketika itu, begitunya mudahnya mendapatkan uang banyak dan inginnya hati gua melamar Sabrina tapi selalu di tolaknya. Sabrina lebih tahu gua, Yoga. Dia lebih tahu gua tentang siapa diri gua, yang tidak pernah dekat dengan Allah!" sontak beranjak bangun kesal bercampur sedih lalu terduduk lagi Ricky tangan kanannya tidak jadi memukul meja.
"Gua tahu loe, Rick. Loe punya jiwa besar dalam berbisnis. Tapi kenapa diri loe ngak dekat sama Dia, Allah yang udah ngasih loe jalan sekarang ini. Loe kenapa berbisnis mengajak semua Jamaah buat datangi Rumah Allah. Tapi loe aja ngak pernah dekat dan selalu mengadu padaNya?!" beranjak bangun Yoga serasa ikut kesal juga pada sahabatnya itu.