Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #48

Part #48

Berharap Sabrina Kembali 1

"Yoga?" makin bertambah bingung Sabrina selangkah maju mendekati Yoga melirik pintu berkaca di depannya terbuka. Keluar Ricky hanya terdiam pasrah melihat kedatangan Sabrina dan Hasan sudah ada di hadapannya. "Hasan! Kamu sudah merencanakan apa dengan Pak Yakop?! Sampai-sampai aku di ajak kesin? Kamu juga Yoga, kenapa ada di sini juga? Ohh ..., sekarang aku baru tahu! Kalian sengaja mau ngajak aku kesini, hanya mau pertemukan aku dengan Ricky?!" sedih kesal sudah membungkus wajah Sabrina mendorong mundur Hasan saat akan mendekatinya.

"Sabrina dengarin gua dulu. Gua, Hasan dan Pak Yakop ngak ada maksud jahat sama loe. Malahan Pak Yakop meminta gua sama Hasan minta bantuin Ricky juga?" "Bantuan Ricky buat bantu aku?" belum selesai penjelasan Yoga sudah di potong Sabrina makin bingung. Tatapan dua mata Ricky makin bisa menghindari dari wajah kebingungannya Sabrina. Tangan kanan Yoga menghalangi Ricky saat akan maju untuk memperjelas.

Tangan kanan Yoga masih pegang pasport dan dokumen lalu di tunjukan pada Sabrina cepat merampasnya dari tangan Yoga. "Ini?" "Benar, Sabrina semua itu dokumen kamu menyatakan bila kamu sekarang bisa menunaikan ibadah haji. Lihat papan nama itu" sesaat Sabrina perhatikan pasport dan dokumen pada tangan kanannya lalu sedih makin tidak karuan saat tahu dirinya segera menunaikan ibadah haji. Makin sedih dan makin tidak tahu harus berkata apa, saat wajahnya di dongakan pada papan nama "PT Alip Tour & Travel" yang ada di hadapannya.

"Ricky udah bantuin loe, Sabrina. Itu bisnisnya Ricky sekarang" di perjelas Yoga mendekati Sabrina tetapi hatinya seakan di hujam pisau berujung tumpul yang bikin sesak dadanya karena tidak sampai menembus masuk kedalam hati. "Sab! Sabrina ..." teriak panggil Yoga melirik Ricky sesaat terdiam, tapi rasanya Ricky tidak bisa tinggal diam. Langkah seribu kakinya makin mengejar Sabrina berlari dalam kesedihan dan kesalahan dirinya selama ini telah mencurigai Ricky.

"Hasan" tidak jadi ikut-ikutan Hasan untuk cepat menggerakan dua langkah kakinya yang mungkin saja lebih cepat dari langkah seribunya Ricky mengejar Sabrina. "Gua tahu loe suka sama Sabrina. Tapi biarin deh sekarang Sabrina nentuin mana buat hatinya. Selama gua kenal Sabrina, sempat hati gua merasakan hal yang sama dengan perasaan hati loe, San. Kita sama-sama mencintai satu gadis yang kita sukai. Tapi nyatanya kenyataan udah ngebuka tabir kebenaran, bila Sabrina sudah punyanya Ricky. Sempat gua mengalah buat loe, San. Buat loe mencintai dan mendekati Sabrina, tapi nyatanya waktu berkata lain. Bila Ricky sahabat gua adalah pacarnya gadis yang juga loe dan gua cintai" berapa kali terlihat pegawai keluar masuk dan buka tutup pintu berkaca kantor miliknya Ricky.

Hasan hanya terdiam, wajahnya tidak berani melihat kerumunan banyak orang di hadapnnya takut kalau-kalau tiba-tiba di balik kerumanan ramai orang di hapadan muncul Sabrina tersenyum di gandeng tangannya oleh Ricky. "Saya tahu itu, Yoga. Sabrina pacarnya Ricky, tapi apakah salah bila hati ini mencintai Sabrina? Tapi saya sadar Yoga, bila saya tidak pounya hak untuk mencinta Sabrina, yang nyatanya Sabrina sudah memiliki Ricky. Saya hanya berharap bila Sabrina bisa kembali lagi pada Ricky. Tapi saya juga masih berharap bila Sabrina bisa kembali pada saya!" itu mungkin kenyataan kebenaraan yang terungkap dari hati nuraninya Hasan, bila dirinya masih berharap Sabrina kembali padanya.

Yoga sempat mengejar Hasan berjalan cepat, hatinya semakin merasa bila dirinya mulai cemburu, tandanya dirinya makin tidak ingin jauh berpisah dari Sabrina. "San! Hasan!" teriakan Yoga tangan kiri kananya membela kerumunan banyak orang berjalan berpapasan ketika mengejar Hasan berjalan makin cepat. Raut wajah Hasan makin di selimuti ketidak yakinan lagi untuk mendapatkan Sabrina, tapi hatinya masih berharap bila Sabrina akan kembali padanya. "Saya hanya berharap kamu kembali padaku, Sabrina Karena saya mencintaimu" terus berjalan cepat langkah jalan Hasan sesaat hatinya berguman mengungkapan hatinya.

Taman seperti di dekat terminal Mahbas Jin, Ma'kah, tidak hanya ramai oleh anak-anak terlihat sedang bermain berlari kecil sambil memangil dua orang tuanya duduk mengobrol dan bercanda hanya melambaikan tangannya seraya berpesan hati-hati. Kursi tempat duduk di sediakan sangat tertata rapi sekali, tong sampah di setiap sudut taman untuk makin menjaga kebersihan taman pada pengunjung. Lihat saja ada sebagian duduk di atas rumput taman yang hijau terbentang.

Sabrina terduduk walau sedikit terpancing wajahnya ingin tertawa ketika melihat seorang anak kecil menangis karena terjatuh, tetapi untung saja ibunya yang mengenakan abaya cepat memapahnya berjalan lagi. "Ya Allah, apa aku bersalah selama ini telah mencurigai kebenaraan, yang nyatanya rasa kecurigaan itu malahan menghujam rasa berdosa dan bersalahku saat ini?" guman dalam hati Sabrina masih terpancing senyuman dari raut wajahnya melihat langit mulai datang sedikit mendung.

"Selama ini aku selalu menjauh, aku selalu ndak mau menyakinkan hati perasaanku ini pada Ricky. Aku ndak tahu, Allah! Kenapa hati ini selalu tidak di berikan keyakinan pada Ricky! Tapi kenapa hati ini selalu Kau yakinkan pada seseorang lelaki yang baru saja aku kenal, Ya Allah?! Apa ini jawabanMu tentang kegundahan hatiku pada Ricky?" cepat matanya di seka dengan tangan kirinya Sabrina ketika Ricky sudah berdiri di hadapannya.

Kuping kanan Ricky sempat mendengar apa yang di ungkapkan kegundahan perasaan hatinya pada dirinya. Seakan dirinya tidak berani untuk duduk mendekat di samping Sabrina perlahan beranjak bangun. Sabrina berusaha menyingkirkan kegundahannya, berusaha wajahnya di senyumkan pada Ricky sempat meliriknya.

"Aku sadar, Sab. Dan tidak mungkin bakalan berharap lagi kamu kembali padaku. Walaupun kamu tahu kebenaraan yang sejak dari dulu aku sembunyikan darimu. Tapi walau saat ini kamu telah tahu apa yang aku kerjakan selama ini. Tetap hatimu makin menjauh dariku. Tidak seimbangnya hidupku yang selalu menjauhkan Allah dari imanku. Padahal nikmat dan janjinya Allah, telah aku reguk telah aku nikmati. Tapi kenapa aku semakin lupa dan menjauhinya! Seolah-olah aku tidak menikamati rasa bersyukurku pada Allah, Sabrina! Tidak mengapa kamu pergi meninggalkan hati perasaan ini, yang seakan makin berlumuran dosa saja. Di saat aku menyeruhkan pada Jamaah untuk niatkan hati mereka saat berada di Rumah Allah, tapi hati ini malahan tidak menyeruhkan hati nuraniku sendiri. Malahan aku makin menjauhi Allah!" ungkapan kesedihan makin terlihat nyata dari wajah Ricky, seakan ketampanan wajahnya makin terkikis dengan rasa dosanya.

Lihat selengkapnya